“Selling” for 0% Profit!

Today I just found one way (though not so “good idea”) to have a 45-day loan with 0% interest……!

I got approx 800,000 rupiahs today, cash, in less than an hour, that I can return around end January.. it was very easy.

I was shopping with my friends (actually my Entreprenur University Kediri classmates), at Gramedia book store. I’m not really sure if I want to buy a book, but seeing my friends take up a few books, I decided to buy a book and ask them, “hey, why dont you help me. what if you pay to me, and I’ll pay all of our books using my BCA credit Card?” In short, he said alright. And I start “marketing” my scheme to the other friends. So they joined.

I asked Gramedia if they had a discount. She said I’ll get 10% discount if my order is 1.5 million rupiahs. So I told my friends. Unfortunately some of the friends had already left, they said “Hendy why didn’t you told us earlier!!! :-P” and we didn’t get 10% discount. πŸ™

Anyways, the total purchase was 861,300 rupiah. I only purchased one book worth 35,000 rupiahs (Robert T. Kiyosaki Advisor’s Building A Business Team that Wins) and my friends each buy average of 3 books (yeah I’m sooo a cheater). πŸ˜›

Now, I get 800,000 rupiahs in cash… That I can use for whatever, that I’ll pay on my next credit card billing statement. It’s much better than taking the cash out of my credit card (with 3%-7% surcharge). Without any monthly interest at all πŸ™‚

Soo happy πŸ™‚

P.S.: Thanks to all the Entrepreneur University friends who joined my scheme: Ali, Udin, Susi, Lestari, Harli, Eko, and Ulfa!

I Love Satan! ^)^

Menonton film The Secret secara “tidak sengaja” memberikan aku inspirasi baru dalam hidup. Keesokan harinya secara “tidak sengaja juga” mendengarkan berapa lagu terutama punya Samsons, semakin membuka pemahaman liarku tentang peran kejahatan, keburukan, dan keterpurukan dalam hidup manusia di dunia ini…

Lho, apa hubungannya?

Makanya, sabar dulu atuh…

Duplikasi warning sebelumnya: Posting ini mempunyai muatan filosofis yang lebih padat daripada posting harian gw. Dan warning yang lebih lagi adalah, gw jarang banget, ato bahkan mungkin belum pernah, menemukan orang yang bisa “mengepaskan” pemikiran gw dalam kerangka berpikir orang tersebut. Either you’ll be surprised, you’ll think I’m crazy, you’ll reject me outright because of my baseless interpretation, or you’ll simply have to break your old and dusty and inflexibly restrictive frame of reference first.

Saya sudah membahas tentang film (juga novel?) The Secret yang satu ini sebelumnya, Anda bisa baca kalau ingin tau. But it’s not the point.

Beberapa hari yang lalu, pemicunya adalah kontemplasi sporadis saya pada saat beralun diiringi oleh lagu Samsons bertajuk Kehadiranmu:

Kehadiranmu menggugah hidupku, ajarkan aku bijaksana, membaca lembaran hidupku di dunia.

Interpretasiku mengenai larik ini mulai dari kata kedua sampai akhir kalimat bisa dibilang literal, artinya nyaris dengan apa yang akan terpikir di benak setiap orang pada saat mendengarnya dibacakan oleh reporter Liputan 6.

Kenapa “membaca” lembaran hidup… bukan “menulis” atau “menorehkan” atau “melukis”? Karena dalam hidup kita ada yang dinamakan takdir, yang menurut Harun Yahya:

Takdir adalah pengetahuan sempurna yang dimiliki Allah tentang seluruh kejadian masa lalu atau masa depan. Kebanyakan orang mempertanyakan bagaimana Allah dapat mengetahui peristiwa yang belum terjadi, dan ini membuat mereka gagal memahami kebenaran takdir.

Tapi “kehadiranmu,” aku fokuskan pada suatu hal yang sama sekali berbeda, interpretasi yang kontradiktif dengan apa yang mungkin dibayangkan banyak orang, yaitu:

Satan. πŸ™‚

Keberadaanmu dalam kisahku, tunjukkan aku bahagia, dalam perjalanan hidup yang tersulit.

Banyak yang terpikir dalam benakku saat menyelami kalimat ini. Contoh cueknya adalah kesedihan kita akan terasa lebih ringan saat melihat orang lain yang mempunyai beban lebih berat… πŸ™‚

“Ternyata masih banyak orang yang lebih tidak beruntung daripada aku,” ucapannya biasanya seperti itu.

Efek emosionalnya akan lebih dahsyat lagi apabila kita menggunakan psikologi imajinasi untuk menarik perbandingan yang tak terkira. Sesial-sialnya kita, atau Anda, atau saya, sebagai manusia, tidak ada apa-apanya dibandingkan “keterkutukan tanpa batas.”

Secara matematis, Anda bisa bilang -10 adalah nilai yang negatif. Tapi angka -10 adalah 10x lipat lebih “baik” daripada -100. Angka -10 adalah 100x lipat lebih baik daripada -1000, dan seterusnya.

Dan jika Anda membandingkan dengan angka -Infinity atau angka negatif tak berhingga, maka angka -10 adalah angka yang luar biasa positifnya secara tak berbatas. πŸ™‚

Sempat mengingatkan saya pada… “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.” (QS. Ibrahim 34)

Secara matematis, hal ini sudah “terbukti” dengan aksiom seperti pada paragraf sebelumnya. (Ilustrasi: hitunglah jumlah bilangan bulat antara -10 dengan -Infinity.)

Dan hadirmu… menyempurnakan akhir pencarian hidupku.

Kalimat ini mengingatkan aku dengan sebuah “pemberat.” Di mana pemberat tersebut tidak mempunyai fungsi yang substansial selain untuk menjaga “keseimbangan.”

Saya pernah dengar sebuah pernyataan, “Sebuah sistem dapat bersifat konsisten, atau complete (lengkap), tapi tidak mungkin memiliki kedua tersebut sekaligus.” Pernyataan tersebut sangat sulit untuk dipahami tanpa ilustrasi atau visualisasi yang lebih konkret.

Secara konseptual, adanya “pemberat” ini memungkinkan kita melakukan hal-hal sambil mengevaluasi secara kontinu. Mirip seperti bumi yang memungkinkan kita untuk berpijak, berjalan, dan berlompatan tanpa takut bahwa bumi yang kita pijak akan tiba-tiba runtuh. Dengan adanya gravitasi, kita bisa mengukur berapa berat (er, massa…) tubuh kita hanya dengan menggunakan prinsip yang sangat sederhana. Mungkin Anda tidak pernah menyadari bahwa menimbang berat tubuh di luar angkasa, di lingkungan yang bebas gravitasi merupakan pekerjaan yang sangat rumit?

Kehangatan yang Kau cipta untukku memberikan aku cermin hati ‘tuk melihat seluruh putihnya kasihMu.*

Kalimat ini saya interpretasikan sedikit berbeda karena sebagian besar mengacu kepada Dzat Yang Maha Agung.

“Kehangatan” di sini dalam konteks perbandingan dengan hal yang “tidak hangat”. Kontras di sini adalah pusat perhatian, yang ditegaskan oleh kata yang saya tebali yaitu…

Cermin hati. Entah kenapa saya sangat memfavoritkan kata “cermin.” Cermin mempunyai arti filosofis yang sangat berarti bagi saya. Cermin adalah alat untuk melihat diri kita sendiri. Cermin selalu memberikan gambaran yang sebaliknya dengan keadaan sebenarnya.

Dan mungkin saja Anda lupa dengan pelajaran waktu kecil bahwa gambar di dunia ini diterima oleh retina mata dalam keadaan terbalik. Otak kitalah yang membalik gambar tersebut agar kita tidak melihat dunia yang atas-di-bawah.

Cermin bisa menipu, tapi cermin juga bisa menjadi alat yang sangat berguna untuk memperjelas persepsi kita. Dengan cermin, kita bisa melihat seluruh* sudut yang tidak bisa kita lihat tanpa cermin… seperti apa yang terjadi pada saat kita potong rambut di salon. Dengan cermin, kita bisa mengakali keterbatasan diri kita dalam menangkap sesuatu… seperti kaca spion samping.

Dengan cermin hati, kita selalu punya harapan dalam mengarungi samudera hidup yang gelap pekat dan nyaris tanpa kepastian… seperti halnya nahkoda kapal kuno yang menavigasi lautan dengan bantuan sextant.

Terima kasih karena telah memberiku cara baru untuk menilai sebuah perspektif… As my friend Ariel Meilij once said, it’s such an epiphany… πŸ™‚

I “Love”… Satan. πŸ™‚

Disclaimer tidak beraturan:

Perlu diperhatikan bahwa saya termasuk orang yang mempunyai pemikiran multi-manifestasi (apa ini? koq istilahnya radak katrox.) Maksudnya, saya akan memberikan evaluasi valid atas dua interpretasi yang seolah-olah berbeda bahkan bertolak belakang, karena menggunakan kerangka pikir yang secara organik berkembang untuk mengakomodasi
berbagai manifestasi dari interpretasi yang, pada dasarnya, bersumber dari hal yang sama.

Apa pun yang saya ekspresikan pada dasarnya hanyalah salah satu manifestasi dari interpretasi topik tertentu. Hal ini berarti tidak menutup kemungkinan bahwa saya bisa sependapat dengan interpretasi lain yang bagi orang lain mungkin bertolak belakang, sedangkan bagi saya sepenuhnya dapat diterima dan tidak bersifat kontradiktif.

Beyond The Secret: Regresi Sebuah Simfoni

Film The Secret mengisahkan bagaimana semua kejadian kepada diri kita adalah hasil dari buah pikiran kita sendiri.* Film ini menjabarkan dengan caranya sendiri, tentang hukum alam universal bahwa semua yang terjadi, adalah “proses perpindahan energi”, di mana pikiran yang positif akan menarik hal-hal yang positif. Dan pikiran buruk akan membawa hal-hal yang buruk pula.

Film ini bisa dibilang cukup mewabah. Di-review di Oprah, Larry King, dan di mana-mana termasuk di Indonesia saya kira bakal heboh juga. Saya kira, The Secret bukanlah yang pertama dan terakhir. The Secret adalah bagian dari regresi sebuah simfoni.

(Nggak nyambung? Ignore aja, trus lanjut…)

Sedikit warning, posting ini mempunyai muatan filosofis yang lebih padat daripada posting harian gw. Dan warning yang lebih lagi adalah, gw jarang banget, ato bahkan mungkin belum pernah, menemukan orang yang bisa “mengepaskan” pemikiran gw dalam kerangka berpikir orang tersebut. Either you’ll be surprised, you’ll think I’m crazy, you’ll reject me outright because of my baseless interpretation, or you’ll simply have to break your old and dusty and inflexible frame of reference first.

Bagi yang ingin tau apa sih The Secret itu, film ini mengisahkan tentang Law of Attraction atau Hukum Ketertarikan. Hukum ini lebih ke konsep metafisik dan bukan fisika ato biologi ato sains dalam pemahaman awam.

Sedikit disclaimer, saya sendiri kurang tahu mengapa disebut “hukum” dan bukan “teori”, dan siapa penemu Law of Attraction ini karena dasar literaturnya sudah ada sejak ribuan tahun bahkan bisa dibilang bersifat intuitif. Kalo Anda berpikir “attraction” di sini adalah ketertarikan antara lawan jenis, sayangnya yang dimaksud bukanlah seperti itu.

Gw terusin dikit yach intermezzonya… Hukum ketertarikan agak sulit dijelaskan meski konsepnya secara universal sudah banyak diterima. Positif menarik positif, negatif menarik negatif. Positif dan negatif di sini mengacu pada energi, tapi bukan hanya energi secara fisik (yang banyak orang sendiri tidak ‘nyambung’), tapi juga energi secara metafisik.

Hukum ketertarikan adalah konsep yang bisa dibilang elementary level atau pemahaman wajib bagi masyarakat kebatinan, atau spiritualitas, atau bahasa kerennya New Age.* Saya ngasih bintang di sini karena istilah yang digunakan sangat rancu dan ambigu dan mengacu pada hal yang secara spesifik bisa berbeda. Contohnya, kalau saya mengatakan ‘spiritual’ di sini adalah dalam konteks misalnya hubungan dengan dunia “lain” atau tak kasat mata (superficial?), dan bukan secara kaku mengacu kepada hubungan manusia dengan Tuhan yang manifestasinya dalam agama Islam adalah syariah.

Dalam lingkup metafisik, Anda mungkin bisa “menemukan” energi baru atau energi menurut Anda sendiri… “energi bahagia”, mungkin. Dalam hukum ketertarikan, memang ini yang dimaksud: Bila Anda bahagia, maka itu akan membuat “lingkungan” di sekitar Anda membantu Anda semakin bahagia (entah dengan cara apa.) Bila Anda dalam keadaan kesal, maka “lingkungan” di sekitar Anda akan “membantu” Anda untuk merasa semakin kesal.

Sedikit disclaimer lagi, kebanyakan pembicara akan menggunakan kata universe atau “semesta” sebagai sumber atau wadah dari semua energi ini. Saya kurang terlalu setuju dengan filosofi seperti ini oleh karena itu saya ganti istilahnya dengan “lingkungan”, yang menegaskan bahwa ruang lingkup dari lingkungan itu sifatnya bisa terbatas, dan bisa “apa saja” (lingkungan bisa jadi orang di sekitar Anda, bisa jadi hewan, tumbuhan, bahkan hantu, hiiiiiii……)

Disclaimer yang kedua adalah, sejalan dengan aqidah saya yaitu Islam, kekuasaan tertinggi di dunia dipegang oleh Tuhan yaitu Allah Yang Maha Kuasa sebagai sumber satu-satunya energi di dunia. Hal ini sekaligus sebagai opini “skeptisme” saya terhadap “ajaran” seperti The Secret yang entah kenapa saya juga nggak tahu, seolah2 memberi kesan bahwa “we have eternal life”, “we have unlimited potential”, dsb. (quote langsung tuh! bukan interpolasi) dalam konteks yang saya bilang menyimpang, jika dicermati baik-baik.

Saya bisa bilang seperti ini karena saya termasuk orang yang sempat dengar atau bahkan sempat serius mempelajari sebuah “bidang ilmu” yang bernama Neuro-Linguistic Programming. Sebuah studi yang sangat erat kaitannya dengan neurobiologi dan psikologi tapi sayangnya seorang psikolog yang pernah saya ajak konsultasi mengenai hal ini tidak dapat memberikan informasi yang saya inginkan. (yang membuat saya semakin “tidak percaya” akan abundance of knowledge di dunia ini, analoginya: there is so much air, but there’s only so little space in our lungs to contain negligible amounts of it compared to the entire volume of air available to us)

Menurut saya The Secret sangat kental muatan NLP-nya, baik dari segi content tekstual itu sendiri, visual, auditorial (cara penyampaian, intonasi, dan musik), dan efek spesial untuk mensimulasikan stimulan kinestetik (sentuhan fisik dan realisme).

Sedikit banyak hipnoterapi juga ada di sini. Mirip dengan teknik yang digunakan oleh penghipnotis atau audio meditasi untuk membantu si murid atau pasien.

Secara teknis, saya belum menganalisa tapi saya hanya bisa “mencurigai” (dalam konotasi positif, bukan negatif!) bahwa film ini menggunakan teknik untuk mengalihkan gelombang otak. Seperti yang mungkin Anda sudah ketahui, otak mempunyai gelombang dan otak, terutama alam bawah sadar atau subconscious, bekerja paling optimal untuk menerima informasi dalam kondisi theta. Mengingat banyak orang yang terlibat dalam pembuatan film ini adalah psikolog, filosof, ahli metafisika dan fisika quantum, wajar rasanya kalau saya mempunyai dugaan pengaplikasian teknologi seperti ini:

Theta rhythms are very strong in rodent hippocampi and entorhinal cortex during learning and memory retrieval, and are believed to be vital to the induction of long-term potentiation, a potential cellular mechanism of learning and memory.

Komunitas Tangan Di Atas yang mayoritas muslim di Surabaya, di mana ada teman saya juga, sempat mengadakan acara nonton bareng The Secret ini, dan secara umum tanggapannya adalah sangat bagus. Saya sangat setuju dengan pendapat seperti itu.

Dan sebagai seorang muslim, saya memberikan undangan terbuka bagi siapa pun, terutama yang mempunyai pendalaman agama Islam lebih, untuk mendiskusikan lebih lanjut mengenai elemen-elemen spesifik yang diangkat dalam film ini. Ini dikarenakan saya mempunyai beberapa pemikiran yang, senada dengan apa yang saya tulis di posting ini, tapi lebih fundamental, dan saya ingin mengetahui rekan-rekan lain yang memiliki pandangan berbeda daripada apa yang disampaikan secara tersurat oleh film ini.

Nonton (cuplikan) The Secret di YouTube:

Beberapa resource lain yang mungkin menarik:

Update: Thanks buat Yogie yang udah ngelink ke sini πŸ™‚

Uncensored: My Personal Amazon.com Affiliate Report

It’s not so bad this month, I guess πŸ™‚

(I really hope Amazon has no forbidding policy in disclosing earnings to the public.)

I guess I should work harder πŸ™‚ $14 just in 17 days? Simply by posting Amazon links on a blog? Life is so easy. πŸ™‚

I think one day I can really achieve financial freedom “without working.” πŸ™‚ Amiiiiiiennn.

Note: To give some perspective, most Indonesians working full-time get an average salary of 500-800 (US$60-90) thousand rupiahs per month. Skillful diplomas and bachelors may get up to 2-4 millions a month (US$250-450). Anything beyond that is definitely considered above the riches. That should give you a reason why $14 for half a month is a wonder considering the [minimal] amount of work needed. πŸ™‚

Update: Bagus sekali tulisan dewayudhi ini: Hilangkan stress dengan ngeblogs πŸ™‚ Apalagi kalo blogsnya berduit (tapi jangan dijadikan motivasi utama… malah bisa cepet down!)

Thanks to Trizle’s Andrew Trinh: The Accounting Game Book is Here!

It begins with a simple question to Andrew Trinh, founder of business consultancy firm Trizle: “Any good accounting book?” His response: The Accounting Game.

But then comes an uber-pleasant surprise: He sent me the book as a gift!

And the day had just come:

You shouldn’t have to ask if it’s “good,” as it’s easily one of the most entertaining (and useful) reads I’ve ever had.

Again, thank you, Andrew!

Note: I may sound biased, but if you have a business, I heartily recommend Trizle should you need any advice. Besides, they have a free business journal, so you can get loads of fabulous tips for your rocking business without paying a dime!

Ollie’s Novel: “Finding Soulmate for Mei”

Sahabat saya, Ollie, baru saja merilis novel terbarunya yang kali ini bernuansa Islami, tentang perjuangan dalam mencari pasangan jiwa alias soulmate.

Dari blog Ollie:

Back in 2006, saya mencoba untuk menulis sebuah novel bernafaskan Islam. Ini terus terang saja agak sulit. Karena saya merasa tidak punya kapasitas apa-apa di bidang itu dan tentu saja ilmu saya yang terbatas. Tapi dengan semangat mencoba yang tinggi, saya akhirnya mulai merintis pembuatan novel ini.
Awalnya saya membuat novel ini dengan setting bulan Ramadhan. Namun, pada saat saya submit ke Qultum Media tepat sebuan sebelum Ramadhan 2006, mereka menyatakan bahwa novel ini terbatas sekali ruang lingkupnya. Hanya kemungkinan dibaca pada saat Ramadhan saja. Meskipun saya kurang setuju, namun dari pertimbangan marketing, saya bisa memahami pendapat mereka.
Saya mulai menjajaki peluang di penerbit lain. Namun belum sempat saya masukkan ke penerbit lain, Mbak Trie dari Qultum Media menghubungi saya lagi di awal 2007. Meminta naskah saya diedit settingnya hingga tak dalam bulan Ramadhan lagi. Saya menyanggupi.
Dalam waktu sekitar satu bulan (dipotong pembuatan Katakan Cinta pula), saya Alhamdulillah bisa menyerahkan draft naskahnya kepada Mbak Trie. Responnya positif, Qultum Media sepakat menerbitkan novel saya. Kalau jodoh memang tidak kemana. Hanya saya yang tau, dari awal pembuatan, saya menempatkan novel saya dalam folder bertajuk ‘Novel untuk Qultum’. Sudah jelas dari awal pembuatan saya YAKIN bahwa novel ini akan diterbitkan oleh Qultum Media. Itulah kekuatan keyakinan
Kemudian setelah naskah diterima, saya hunting blurb dari banyak orang. Saya menghubungi Mbak Asma Nadia untuk pertama kalinya. Sayangnya beliau sedang sibuk. Dari beliau saya mendapatkan kontak ke Mbak Pipiet Senja. Alhamdulillah beliau bersedia memberi blurb. Dari Mbak Trie saya dapat berhubungan pula dengan Mbak Ifa Avianty, penulis produktif yang sangat ramah dan baik hati. Terimakasih ya Mbak untuk supportnya.
Untuk Agus, bukan hanya blurb tapi masukan-masukannya yang sangat membangun, very appreciate it. Tia sang pemilik butik muslimah (hehe), thanks juga, ini janji saya kepadanya.
Selebihnya dapet komentar dari teman-teman papa hehe. Thanks for all om dan tante.
Akhirnya novel ini saya beri judul Finding Soulmate For Mei. Sebuah proses pencarian soulmate yang memang tidak pernah mudah, digambarkan di dalam novel ini. Support dari sahabat sangat membantu melewati proses pencarian soulmate, dan juga tak lupa doa yang kita panjatkan pada Allah SWT.
Nuansa humornya kental, seperti layaknya novel saya yang lain, saya jamin begitu baca akan sulit untuk meletakkan novel ini kembali. Karena itu terjadi pada saya sendiri, sang penulis. Setelah 2 bulan ‘tak ingat’ dengan novel ini dan tiba-tiba dia datang dalam bentuk buku ke depan pintu rumah, saya langsung terlena membacanya. Can’t stop! Terutama saya melihat yang menulis ini orang lain, lain dengan kepribadian saya sekarang yang… pokoknya lain deh…
Inspirasi dan motivasi insya Allah bisa didapatkan juga setelah membaca buku ini. Saya harap, sesuai pesan seseorang, saya juga bisa seperti Mei.
Penasaran? Beli di sini ya! Diskon 15% loh as usual Pssttt… promosiinya ke temen-temen yang lain
Book Promo
β€œEhhhh… gimana kabarnya kamu dan si itu… siapa sih yang mukanya ganteng kayak Primus itu loh!”…..
β€œGimana? Cakep nggak? Ini temannya anak tante yang nomer dua. Dia baru pulang dari Amerika. Alim juga loh. Kamu pasti suka.”…..
β€œLoh, Mei, kamu mau mikir apa lagi?”…..
β€œMmm… sebenarnya aku udah ada calon, tan.”…..
Begitulah percakapan antara Mei dan Tante Nur pada sebuah pertemuan keluarga. Pertanyaan-pertanyaan yang Ia anggap β€œmematikan” hingga memaksanya untuk mengatakan bahwa Ia telah memiliki calon pendamping. Masalahnya?? Ia bahkan belum tahu siapa yang akan dijadikan calon pendamping itu. Pencarian pun dimulai demi memenuhi jawaban β€œnekatnya”. Dibantu sahabatnya, Kitty, Mei mencoba mencari soulmate dengan ikhtiar dan doa sepenuh hati. Berhasilkah?? Novel yang anda pegang ini merupakan karya pertama Ollie untuk novel Islami. Cerita yang diurai dengan segar, lucu, dan unpredictable ini memberikan nuansa tersendiri saat menyimak petualangan Mei mencari belahan jiwanya. Bahasanya ringan namun tak luput dari pesan-pesan moral. Nggak percaya? Baca deh…
Subhanallah… twist-nya seru banget. Memang pencarian soulmate bukan hal yang gampang. Mencarinya harus dengan hati. Dan Ollie sudah mengajak kita menelaahnya di novel penuh kejutan ini. Selamat ya, Dek. Btw, saya suka banget dengan karakter Mei dan Raka. So alive… bagi saya, novel ini inspiring banget!

Ifa Avianty – Novelis Indonesia

Technorati tags: , , , , , , , ,

Financial Accounting Basics

I just asked for advice from Andrew Trinh of Trizle (a business consulting firm, if you haven’t heard–and a kickass one, if you ask me.) Here’s the reply, verbatim, so you could kick more asses than most guys do:

Hi Hendy,

Yes! The best accounting book I know is called “The Accounting Game”. It’s an amazing book that’s so easy and efficient to learn from.

I think the best accounting software (is this for personal finances) is anything from Intuit ( e.g. Quickbooks, Quicken, etc.)

I wrote this way back: http://www.trizle.com/how-to-read-a-financial-statement/, but you can learn a lot more by Googling for accounting info as well.

Let me know how I can help more!

Thanks, Hendy!


On a note, here’s the book Andrew recommended:

The Accounting Game: Basic Accounting Fresh from the Lemonade Stand

The world of accounting can be intimidating. But, more often than not, there’s no way to avoid it – even non-financial jobs venture into financial jargon and concepts. For those trying to get more done at the office, organize the dollars and cents in a small business, or just in need of a refresher, there’s no reason to turn to the average number-crunching class again.

The Accounting Game presents financial information in a format so simple and so unlike a common accounting textbook, you may forget you’re learning key skills that will help you get ahead!

<br />This book uses the world of a kid’s lemonade stand to teach the basics of financial language and records. You’ll run your own lemonade stand and make it grow by creating signs to advertise it, borrowing money from Mom, buying lemons and sugar and selling to the whole neighborhood. As you run your stand, you’ll begin to understand and apply financial terms and concepts like assets, liabilities, earnings, inventory and notes payable, plus:

  • Know the difference between accrual vs. cash accounting methods
  • Create and understand an income statement and balance sheet
  • Track inventory using LIFO and FIFO
  • Create cash statements and understand cash flow and liquidity
  • Apply your new knowledge to real-life situations

The revolutionary approach of The Accounting Game takes the typically mundane subjects of accounting and business finance and makes them something you can easily learn, understand, remember and use!

“The game approach makes the subject matter most understandable. I highly recommend it to anyone frightened by either numbers or accountants.” –John Hernandis, Director of Corporate Communications, American Greetings

The Accounting Game is produced by Educational Discoveries, the training industrys leader in accelerative learning technology. More than 70,000 people have graduated from The Accounting Game, the world’s most successful one-day financial seminar.

Excerpt from the Introduction of The Accounting Game:

How do people really learn? The answers and theories are endless. They include ideas ranging from genetic imprinting to osmosis and modeling and emotional intelligence. Brain research is voluminous as we enter the 21st century. A later book in this series will deal with the scientific basis of that research and how Educational Discoveries, Inc. uses that research to work with corporations to achieve extraordinary results.

For now, though, please ask yourself: How do I learn?

Isn’t that an interesting question? And, what do you learn? Do you learn information from reading, watching videos, using computers? Can you learn “people skills” without interacting with other people? Can you change behavior without a model of what the ideal behavior should look like? Feel like? Are there people you meet in your daily travels that you want to emulate? Do you emulate them? How does it work? Can you remember the words of the songs from childhood, but not the ones you listened to last week or even this morning? Questions and questions. More than any other thought process, questions help us learn.

Remember what we heard about a baby’s first year of life? Babies learn more in that year that in all the years combined afterwards. Yet, in that first year, babies cannot pose questions in the way they will once they learn language. So, how do babies learn? And what can we take away from that to help adults learn more quickly, retain new information longer, and apply it immediately in their lives?

So, what does this have to do with you and this book? Good question.

The Accounting Game is written in a way that creates a specific learning experience for you as well as teach you the basic skills of accounting. We call the learning method accelerative learning. What do you think that means? It is a learning methodology that uses all of your senses as well as your emotions and your critical thinking skills. If you can remember your kindergarten or elementary school classrooms, you will see many colored maps, letters and numbers, bold (even raw) drawings by each child, etc. You learned the alphabet by singing. You learned the multiplication tables by saying them out loud with each other. You laughed a lot. You were creative.

Then, how you were taught began to change when you entered middle school or high school. Learning became more lecture, more black and white, more rote. You studied before tests and probably did well or maybe not. Yet, for all the endless homework and “cramming,” most of the information you learned in high school you don’t remember now. That’s because it went into your short-term memory so that you could pass the tests and move on to the next grade.

Yet, look at all the things you remember from early childhood! While in elementary school, much of the information you learned went directly to your long-term memory, because it was peppered with music, color, movement, smells, emotional experiences, and lots of play and fun.

The methodology we use in this book in many ways parallels how you learned in grade school. We do this by accessing the part of your brain where long-term memory lives. Now, the way to reach your long-term memory has to include emotion, because they reside in the same place in your brain – the limbic region.

The truth is, because of the way we humans learn, we have to discover something ourselves to really learn it. This book, based on Educational Discoveries’ flagship seminar, is designed so you make dozens of discoveries. In short, you will learn a college semesters worth of accounting in the time it takes you to interact with this book.

This is quite a reversal, because business people and students have over the years found the subject of accounting quite difficult to master. Many have simply given up in frustration, others have decided to leave accounting to the “experts.” This book is for all of you who have hated accounting, had difficulty learning it, or ever thought you didn’t really “get it.”

We think that most attempts to teach accounting fail because of too much attention to details and a failure to present the big picture framework of how it all works and fits together. In this book, we promise not to overburden you with details and to focus on what are really the key concepts of accounting that any businessperson needs to know.

You will learn the structure and purpose of the three primary financial statements – the balance sheet, the income statement, and the cash flow statement. You will learn how these fit together and their interrelationships. You will also learn the basic language of business-concepts like cost of goods sold, expenses, bad debts, accrual vs. cash methods of accounting, FIFO and LIFO, capitalizing vs. expensing, depreciation, and the difference between cash and profit.

Our promise is that you will get all this information in a fun and easy way that allows you to participate, interact, and discover all that you need to know. Many people need to have understanding and confidence in working with financial concepts, but are not ever going to be doing accounting details. If that is you, then this book fits that need, too. It is set up so that you can actually do financial statements as you are learning them. We invite you to “play the game” as you interact with this book.

Understanding all this information is nice, but what do you do with it? The final chapter will give you some tools for analyzing financial information and making better decisions for your company and your career.

As mentioned, the information in this program has been developed by Educational Discoveries, Inc. since the early 1980s in our one-day seminar, The Accounting Game. The program was originally created by Marshall Thurber at the Burklyn Business School in the late 1970s. Nancy Maresh, a student at Marshalls school, then took the program and developed The Accounting Game seminar. We offer our heartfelt thanks for their original genius and commitment to bringing this extraordinary program to life. We also want to thank all of the somewhere between 75,000 and 100,000 people who have attended our public and private seminars for the fun they have been and for the insights and suggestions that have helped us improve the teaching of this information. Thanks to them, The Accounting Game is the most successful financial seminar in the world.

So, enjoy! Because if you enjoy this book, you’ll learn more in a brief time than you ever imagined possible.

And some programs from Intuit: