What The Movies Taught Me About Philosophy, Episode I

Sometimes you learned enough just by watching enough movies…

Memento
taught me that every ending has a beginning, but you can never be sure what caused that beginning.
Tomorrow Never Dies
taught me that you can always predict the future if you made sure the it will happen.
Robots
taught me that tiny things may make big changes.
Sky Captain and The World of Tomorrow
taught me that you can not only predict what happens in the future, but you can also schedule it.
The Talented Mr. Ripley
taught me that nobody has capability, or even willingness, to accept the truth.
Crash
taught me everything.
The Shawshank Redemption
taught me that you’re the only person who knows your plans better than anybody else.
Blast from The Past
taught me that lies heal.
Pleasantville
taught me that imperfections make the world the perfect place to perfect ourselves.
The Butterfly Effect
taught me that however bad your situation is right now, it always could have been worse had you tried to do it differently in the past.

Titanic
taught me that if loving someone is wrong, you better make sure you’d still be alright when you lose it.

Serendipity
taught me that nobody cares about how good you are, only what they feel.
Alfie
taught me that even if you can control the world, but you can never control how the world will respond to you.
Pay It Forward
taught me that you can never change, much less fix, anyone. But you can make the world a better place for people to blame others.

Life is Beautiful (La Vita è bella)
taught me that you can choose to be a special person whenever you want, but you should not expect others to respect the choice you made.

The Secret
taught me that atheists now has a better way of saying that they’re atheists.
Trivia: If David Heinemeier Hansson were to direct a movie, it would have taught me that 20% of the world’s goodness accounts for 80% of evil.

Credits: Thanks to magenSaa yang suka nonton & ditonton 😉

Like this article? Please share this article with others:

The Human Heart, So Many Things to Learn About

Hedonism

there are so many things I need to learn ………!!

wow, I can’t believe it.

waktu saya masih SMA, saya pikir saya cuma akan cukup dengan belajar teknologi komputer

waktu saya menjelang lulus SMA sampai kuliah, saya pikir saya sangat membutuhkan persahabatan, bidang psikologi, dan hal2 yang berhubungan dengan hubungan manusia JUGA, di samping komputer

koma……

untuk sekian lamanya, hanya itu yang ada dalam pikiran saya

entah kenapa, lama2 saya menjadi *diperlukan*… dalam artian bahwa diperlukan itu tidak 100% murni keinginan saya, untuk mempelajari hal-hal lain.

ada beberapa yang memang ingin saya pelajari, misalnya tentang fotografi, film, musik, dan seni. juga tari. (ya semua tadi seni sih) dan sedikit banyak kesehatan, baik kesehatan fisik, emosi, maupun spiritual. (spiritual di sini bukan berarti ‘religius’ dalam hubungannya dengan agama, tapi lebih kepada spiritual dalam konteks kebatinan)

tapi ada hal-hal lain yang tidak 100% ingin saya pelajari

misalnya bisnis
finansial
desain interior, eksterior, arsitektur
ergonomy
neuro linguistic programming dan semua hal yang secara frankly speaking
adalah mengkompensasi keterbatasan pikiran dan emosi manusia
emosi, emosi, dan emosi
dan juga…….

hukum 🙂

I like [all these] a lot 🙂

so many things to learn, so many tools to use, and in some ways so little time.

so many experiences that will come to me, whether explicitly requested or they just come to me (“the Secret Law of Attraction“, remember?)

so many consequences to overcome… all because I need to be responsible of all my actions, and non-actions…

………

the probably last but most essential point of my soul searching journey, is …

HEART.

few people (I guess) know what it is.
few people know what it actually stands for.
even fewer know what’s inside other people’s hearts.

most people, probably including me, will never know completely what they really want to know about it, even until their deaths

yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menduga
judging, assuming, mengira-ira, mengambil kesimpulan, mencari hipotesis
berdasarkan previous beliefs, assumptions, experiences, dan observations

….

Kesimpulan sementara, do you want to know?

Gw masih sedih.
Sedih karena ‘heart’ isn’t like what I expected…

Saya kecewa dengan hatiku sendiri.
Dan sampai batas tertentu dan dengan pemahaman dan rationale tertentu, saya juga kecewa dengan hati orang lain.

(Explanation: ‘heart’ atao ‘hati’ yang saya maksud di sini bukan hati dalam pengertian sempit seperti hati-nya orang yang lagi jatuh cinta, tapi lebih ke pengertian yang lebih luas di mana hati adalah esensi dari jiwa seorang manusia, _terlepas_ dari emosi atau perasaan)

Analogically philosophically illustratively, terlalu banyak “helmet” yang dipakai untuk melindungi heart tersebut.

Helmet ego…
Helmet jabatan, pangkat…
Helmet status sosial…
Helmet status ekonomi…
Helmet gengsi atau ja-im…
Helmet ketidakmauan…
Helmet public figure…
Helmet harga diri, harkat, martabat…. (yang saya sendiri belum pernah
buka kamus untuk mengetahui artinya apa kata2 tersebut)
Helmet asumsi
Helmet kultural
Helmet tradisi keluarga, tradisi desa, tradisi bangsa dan
tradisi-tradisi lainnya
Helmet negara
Helmet agama…………… (auch!)
Helmet gender 😛

Intermezzo: Gw barusan mendengar kisah “unik” di mana pada sebuah konferensi internasional, wakil parlemen (?) dari Prancis melakukan walk out dari pertemuan, dikarenakan seorang pengusaha Perancis yang hadir di situ menggunakan bahasa Inggris untuk menyampaikan materinya. Mungkin ini yang dinamakan “helmet bahasa”? (Penjelasan: pejabat tersebut hanya suka kalau mereka menggunakan bahasa Prancis alias French) Gw sendiri nggak tahu pasti mana konferensi yang dimaksud dan beritanya seperti apa, so ini hanyalah desas-desus. Mungkin kalo suatu saat gw nemu peristiwa dimaksud, ntar gw bahas lg lebih detail

back to sebelum intermezzo: (kayak lirik lagu aja hahah)

Kenapa sih ada helmet? (helmet di sini tentu dalam artian filosofis, bukan secara fisik berbentuk helm yang sekadar helm non-standar yang masih banyak dijual itu sudah tidak laku lagi karena polisi sudah nggak mengakui fungsi dari helm non-standar. kasihan deh penjual helm?)

Helmet untuk melindungi apa, tentu saja…… dari luka. Dari luka hati. Untuk melindungi hati agar hati tersebut tidak terluka.

apakah jika Anda dihina, hati Anda terluka?
jika Anda dijelek-jelekkan orang, hati Anda terluka?
Anda dilecehkan, hati Anda terluka?
Anda dituntut ke pengadilan, hati Anda terluka?
Anda dirampok, hati Anda terluka?
Anda dikhianati teman Anda, hati Anda terluka?

Apabila pikiran Anda sesuai dengan perkiraan saya, maka Anda akan jawab “pasti dong!”, “tentu saja”, ato minimal, “iya juga sih”.

Saya sendiri, menjawab “TIDAK” pada semua pertanyaan di atas. Why?

Apabila saya dihina, ‘harga diri’ saya yang terluka
Apabila saya dijelek-jelekkan orang, ‘reputasi’ saya yang terluka
Apabila saya dirampok, ‘finansial’ saya yang terluka
Apabila saya dikhianati, ‘kepercayaan saya terhadap orang lain’ yang
terluka

dan seterusnya

Hati saya akan tetap seperti sediakala.

Karena hati merupakan satu hal yang terpisah dari hal-hal tersebut, helmet-helmet tersebut yang bersifat emosional, duniawi, material, intelektual, bahkan religius……..

Bagaimana cara membuktikannya?

Andai saya dirampok, lalu saya amnesia, apakah “hati” saya tetap terluka setelah itu?
Andai saya dijelek-jelekan, lalu saya amnesia, apakah “hati” saya tetap terluka setelah itu?
Andai saya dikhianati, lalu saya amnesia, apakah “hati” saya tetap terluka setelah itu?

Kalau memang hati saya terluka gara-gara dirampok atau hal-hal yang lain tadi, kenapa bisa hilang begitu saja hanya gara-gara amnesia?

Bukankah amnesia adalah kehilangan ingatan (sementara?) yang hubungannya dengan otak? Dengan pikiran?

Mungkinkah hati mengalami amnesia? Amnesia hati?

(this part is blanked intentionally)

…………………..

apakah yang terdapat di dalam hati?

Saya bilang bahwa hati Anda tidak mungkin amnesia. Pikiran Anda boleh amnesia. Google mungkin saja suatu saat (meski tidak kita harapkan) datacenternya kacau balau dan semua data pribadi Anda termasuk e-mail, kartu kredit, dan password Anda kebobolan… (bukan pertama kali terjadi) Tapi hati Anda, hati manusia yang sebenarnya tidak mungkin
amnesia.

Itu kesimpulan sementara saya saat ini.

Bagaimana mengujinya? Tentu saja semua hipotesis akan diuji terlebih dahulu untuk membuktikan kebenaran pernyataannya.

Saya tetap akan menggunakan metode amnesia tadi.

Ambil contoh seseorang yang suka berbuat baik, suka menolong, suka dermawan…
Lalu dia mengalami amnesia.
Setelah itu, dia lupa segalanya. Dia lupa teman2nya, lupa berapa jumlah uang di banknya, dan lupa namanya sendiri, bahkan orang tua dan anak2nya.

Pertanyaannya: Apakah setelah itu dia tetap suka berbuat baik, suka menolong, dan suka dermawan?

Pembuktian kedua, sebaliknya:

Ambil contoh seseorang yang suka mencuri, suka berbuat jahat, suka menyakiti orang lain……
Lalu dia mengalami amnesia.
Sama, dia juga lupa segalanya, lupa semua tindakan kejahatannya, lupasemua catatan kriminalnya di polisi… Dan anggap saja dia cukup beruntung sehingga tidak ada lagi polisi yang mengenali dia, mungkin dia terdampar di negara lain.

Pertanyaannya setara: Apakah setelah itu dia tetap suka berbuat jahat?

Sejujurnya, saya belum pernah melakukan pembuktian seperti itu… tapi saya mempunyai penalaran secara intuitif bahwa dalam kedua pertanyaan di atas, jawabannya adalah “YA, orang tersebut akan bersikap sama seperti sebelum dia amnesia.”

So, kesimpulan sementara saya adalah… hati tidak dapat amnesia.

……

Hati tidak terpengaruh oleh negara. Hati tidak akan terpengaruh oleh teman, uang, barang, agama, dan apa pun juga ……..

kecuali jika pemilik hati yang mengizinkannya.

Spiderman 3

Semi-intermezzo: Saya jadi teringat film Spiderman 3, di mana sang “stering” utama yaitu Peter Parker, seolah-olah menjadi jahat setelah mengenakan jubah hitam yang entah dari mana asalnya. Perubahan si Spiderman begitu dahsyat, sampai-sampai akhirnya dia memukul Mary Jane, kekasihnya sendiri yang sangat dicintainya. Tapi dia kembali seperti sifatnya sediakala yang baik dan lembut (dan naif, tidak sensitif terhadap perasaan cewek, hehe 😉 manakala dia berhasil melepaskan diri dari jubah hitam yang lengket2 tersebut…

Lain halnya dengan sang reporter antagonis yang saya lupa namanya (update: Harry Osborn), karena sudah berniat jahat bahkan sebelum tercemari oleh jubah hitam yang sama. Begitu mendapatkan kekuatan jubah hitam, maka dia menjadi semakin jahat. Dan begitu sayangnya dia dengan jubah jahatnya itu sampai-sampai pada saat Spiderman menghancurkan sang jubah… sang reporter pun rela ikut ke dalamnya!

How long can any man fight the darkness, before he finds it in himself?

Sebuah moral cerita yang indah bukan…?

So kalo saya ngasih nilai review 5 stars buat film Spiderman 3, what made it 5 stars is not the action & visual effects… but the deep philosophical meaning it expresses. 🙂

Tanpa helmet-helmet sekali pun, hati yang sebenarnya tidak akan mungkin terluka.

Justru menurut saya, helmet-helmet itu tadi lah yang melukainya. Helmet-helmet itu tadi lah yang mengubah hati… karena pemilik hati mengizinkan hal-hal yang berhubungan dengan helmet-helmet tadi untuk mengubah hatinya, dan mungkin, perlahan sedikit demi sedikit, melupakan jati diri hatinya yang sebenarnya yaitu hati yang murni, penuh kasih sayang yang tulus, yaitu hati nurani manusia secara universal.

….

Hearts can change. The only person who can change a person’s heart is, themself.

Like this article? Please share this article with others:

Emosional

Emosi merupakan sifat bawaan manusia. James Gwee, motivator bisnis ternama dari Singapura, mengatakan:

Customer yang sedang emosi tidak akan bisa menerima penyelesaian masalah.

Singkatnya, dalam keadaan emosi manusia tidak bisa berpikir dengan jernih. Hal ini terjadi baik pada laki-laki dan terutama perempuan.

Teman-teman saya sering tidak percaya bahwa saya berusaha untuk bersikap berbalik dengan mood saya saat itu. Saya sendiri dalam menilai orang, berusaha memperhatikan mood orang tersebut, dan bukan hanya sikapnya.

Ada prinsip mendasar dari “keanehan” tersebut.

James Gwee, lagi-lagi pernah mengatakan dalam sebuah seminar bisnisnya:

Apabila Anda melakukan A, Anda akan mendapatkan A. Apabila Anda menginginkan B, Anda harus melakukan B. Tidak bisa Anda menginginkan B tapi tetap melakukan A. Karena antara keinginan Anda dengan usaha Anda tidak sinkron.

Bila seseorang bahagia dan dia tersenyum, itu wajar!
Bila seseorang sedih dan dia cemberut, itu juga wajar!
Bila seseorang kesal dan dia marah-marah, itu sangat wajar!

Dalam sebuah hubungan, juga sama…

Bila di dalam “hati” seseorang ada cinta buat Anda, dan dia selalu memperlakukan Anda dengan spesial, itu biasa!
Bila orang itu membenci Anda dan dia selalu berpikir negatif tentang Anda, itu juga biasa!

Entah kenapa, sebagian orang tidak menyadari perbedaan antara sikap seseorang, dengan pendorong orang tersebut bersikap seperti itu. Pendorong sendiri sering disebut dengan istilah “motivasi.” (disclaimer: ada juga yang mengaitkan motivasi dengan tujuan yang ingin dicapai, tapi bukan itu yang saya maksud di sini, melainkan penyebabnya.)

Kalau mendengar kata “motivasi”, mungkin orang berpikir macam-macam, mulai dari bisnis, MLM, sampai belajar untuk ujian. Namun, yang perlu diperhatikan adalah, motivasi mendorong kita untuk melakukan sesuatu.

Motivasi di sini dalam artian luas, bahkan emosi juga termasuk “motivasi”.

Contoh saja, orang marah-marah, juga karena adanya motivasi atau pendorong. Motivasinya, tentu saja adalah emosi dia yang sedang kesal. Akan sangat aneh rupanya, jika orang sedang kesal tapi dia tertawa terbahak-bahak. Atau jika hatinya sedang bahagia tapi malah marah-marah.

Namun, yang ternyata jarang disadari orang, adalah motivasi menutupi niat sebenarnya dari sikap seseorang.

Analoginya adalah jika Anda menaruh sebuah gerobak di atas bukit yang menurun, maka gerobak tersebut akan berjalan dengan sendirinya tanpa Anda harus berbuat apa-apa. Ini beda dengan gerobak yang berada di tanah datar, atau lebih hebatnya lagi adalah gerobak yang berada di lembah, dan Anda harus berusaha mendorongnya ke atas sambil melawan gravitasi.

Ini alasan mengapa saya berusaha menghargai seseorang lebih karena niatnya daripada sikapnya.

Sekedar ilustrasi, misalnya ada seseorang yang Anda minta dari Kediri ke Surabaya. Dia sampai dalam waktu 3 jam, naik bus. Anda seharusnya puas. Tapi, andai saja, ternyata keadaannya saat dia hendak berangkat tidak seperti itu. Ada hujan badai, sehingga dia basah kuyup. Tidak ada bus yang lewat setelah ditunggu lama. Dan dia kecopetan.

Apakah dia tetap berangkat ke Surabaya?

Bila dia membatalkan niatnya, itu wajar. Karena motivasinya sudah dilemahkan oleh berbagai kesulitan yang dia hadapi. Tanpa motivasi, hanya tertinggal niat. Dan tanpa niat, orang tak akan melakukan apapun.

Namun, mungkin juga dia tetap kukuh menjalankan niatnya. Dia berusaha mengayuh sepeda dari Kediri ke Surabaya. Terlepas dari berhasil tidaknya, dia pantas diberikan penghargaan atas usahanya ini.

Emosi adalah motivator yang sangat besar, namun jarang diberi perhatian.

Apakah Anda akan memberi penghargaan bagi orang yang suka tersenyum?

Bagaimana dengan orang yang hatinya sedang sangat kalut tapi dia berusaha tersenyum untuk Anda? Akankah Anda memberinya penghargaan?

Pernahkah (atau seringkah?) Anda mendengar: “Maklum dong, waktu itu aku kan lagi emosi. Sekarang aku udah gak marah lagi…”

Atau mungkin: “Waktu itu aku kan lagi senang. Sekarang aku lagi marah nih…!!”

Atau mungkin: “Waktu itu aku kan lagi suka ama kamu, tapi sekarang…”

Anda mungkin bisa melihat niat seseorang yang sebenarnya di balik sikap dan motivasinya… Sikap seseorang bisa berubah dalam hitungan detik. Motivasi bisa berubah seiring waktu.

Niat seseorang, sebagaimana pun sulitnya untuk dicari, juga bukanlah suatu hal yang konstan, bisa berubah-ubah, tidak jauh berbeda dengan emosi manusia itu sendiri.

Everybody always starts a mistake at all times. They just don’t know when, they will realize each mistake they started. In the mean time, they’re simply enjoying it… 🙂

Artikel-artikel yang relevan berikut ini juga menarik lho:

Like this article? Please share this article with others:

Emotional Healing for You

Emotional Freedom Techniques (EFT) is based on a new discovery that has provided thousands with relief from pain, diseases and emotional issues. Simply stated, it is an emotional version of acupuncture except needles aren’t necessary. Instead, you stimulate well established energy meridian points on your body by tapping on them with your fingertips. The process is easy to memorize and is portable so you can do it anywhere. It launches off the EFT Discovery Statement which says…

The cause of all negative emotions is a disruption in the body’s energy system.

And because our physical pains and diseases are so obviously connected with our emotions the following statement has also proven to be true…

Our unresolved negative emotions are major contributors to most physical pains and diseases.

EFT, along with numerous other emerging emotional healing techniques, are based on Thought Field Therapy, or TFT, a controversial psychological treatment developed by Dr. Roger Callahan. Its proponents say that it can heal of a variety of mental and physical ailments through specialized “tapping” with the fingers at meridian points on the upper body and hands.

Emotional healing therapies are a good way to kill fearful emotions. As Andrew Trinh of Trizle business journal put it:

Remembering traumatic experiences makes you vulnerable to future experiences, ensuring you’ll mess up repeatedly [in the] future.

More resources on EFT and related stuff:

Like this article? Please share this article with others:

Dragon Fruit aka Buah Naga: The Bad Cholesterol Killer

Baru tau kalo ternyata buah naga itu “selain dikenal sebagai alternatif dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit, juga bisa diolah menjadi berbagai macam makanan yang lezat, yakni dari mulai sup sampe puding.”

Tentu saja, gw sendiri juga baru tau kalo ada buah yang namanya buah naga.

Berdasarkan informasi sang penulis, cara makan buah naga yang paling uenakk yaitu “dicampur kedalam salad buah, dicampur sama potongan melon, nanas (my fave), jagung, potongan telur, siram dengan Thousand Islands dan Mayo”. Boleh juga ya! Ada yang sudah mengkonfirmasikan ketersediaan menu ini di salad house favorit Anda? 🙂

Manfaat buah naga, dikutip dari sebuah kutipan: 😉

Secara amnya, pakar sependapat dan mengakui buah naga kaya dengan potasium, ferum, protein, serat, sodium dan kalsium yang baik untuk kesihatan berbanding buah-buahan lain yang diimport.

Mengikut wakil Johncola Pitaya Food R&D, syarikat penanaman dan penyelidikan buah naga merah terbesar di negara ini, AL Leong, buah kaktus madu itu cukup kaya dengan pelbagai zat vitamin dan mineral yang boleh membantu meningkatkan daya tahan dan mengurangkan metabolisma dalam badan manusia.

“Kajian menunjukkan buah naga merah ini sangat baik untuk sistem penghadaman dan peredaran darah. Ia juga memberi tindak balas memberangsangkan untuk mengurangkan tekanan emosi dan meneutralkan toksik dalam darah.“Kajian juga menunjukkan buah ini boleh mencegah kanser usus, selain mencegah kandungan kolesterol yang tinggi dalam darah dan pada masa sama menurunkan kadar lemak dalam badan,” katanya.

Secara keseluruhan, setiap buah naga merah mengandungi protein yang mampu mengurangkan metabolisma badan dan menjaga kesihatan jantung; serat (mengawal kanser usus, kencing manis dan diet); karotin (kesihatan mata, menguatkan otak dan menghalang penyakit); kalsium (menguatkan tulang) dan fosferos (pertumbuhan tisu badan).

Buah naga juga mengandungi zat besi untuk menambah darah; vitamin B1 (mengawal kepanasan badan); vitamin B2 (menambah selera); vitamin B3 (menurunkan kadar kolesterol) dan vitamin C (menambah kelicinan, kehalusan kulit serta mencegah jerawat).

Tuh kan…. buat yang jerawatan, buruan tuh makan naga!! 🙂 eh, buah naga ^)^

Ditambah lagi cuplikan dari Tanaman Obat yang dicuplik dari Waspada Online:

Buah naga selain mempunyai nilai ekonomis tinggi, juga memiliki khasiat bagi kesehatan manusia, di antaranya sebagai penyeimbang kadar gula darah, pencegah kanker, pelindung kesehatan mulut, pengurang kolestrol, pencegah pendarahan, dan obat keluhan keputihan.

Ada juga beberapa tulisan lainnya yang boleh bangeeets:

Like this article? Please share this article with others:

Windows Vista, DRM, Microsoft, and All That Complex Stuff!

horriblecherry

I was just reading A Cost Analysis of Windows Vista Content Protection, written by Peter Gutmann, referred by Bad Vista.

A pre-disclaimer: I’m not really “at war” with Microsoft, as I have some friends at Microsoft, and even I’m myself a .NET Blogger.

In short, it describes how the content protection features incorporated in Microsoft’s latest-and-greatest operating system Windows Vista actually backlashes… not to Microsoft, but to Microsoft’s loyal users. Innocent people who actually shell out money to watch movies… and simply can’t play them:

Say you’ve just bought Pink Floyd’s “The Dark Side of the Moon”, released as a Super Audio CD (SACD) in its 30th anniversary edition in 2003, and you want to play it under Vista (I’m just using SACD as a representative example of protected audio content because it’s a well-known technology, in practice Sony has refused to license it for playback on PCs). Since the S/PDIF link to your amplifier/speakers is regarded as insecure for playing the SA content, Vista would disable it, and you’d end up hearing a performance by Marcel Marceau instead of Pink Floyd.

Why? High-end graphic cards are “useless” in Vista:

But what if you’re lucky enough to have bought a video card that supports HDMI digital video with HDCP content-protection? There’s a good chance that you’ll have to go out and buy another video card that really does support HDCP, because until quite recently no video card on the market actually supported it even if the vendor’s advertising claimed that it did.

As the site that first broke the story in their article The Great HDCP Fiasco puts it:

“None of the AGP or PCI-E graphics cards that you can buy today support HDCP […] If you’ve just spent $1000 on a pair of Radeon X1900 XT graphics cards expecting to be able to playback HD-DVD or Blu-Ray movies at 1920×1080 resolution in the future, you’ve just wasted your money […] If you just spent $1500 on a pair of 7800GTX 512MB GPUs expecting to be able to play 1920×1080 HD-DVD or Blu-Ray movies in the future, you’ve just wasted your money”.

The reason is Vista deliberately disables anything that doesn’t conform to its guidelines, err… specification:

Vista’s content protection mechanism only allows protected content to be sent over interfaces that also have content-protection facilities built in. Currently the most common high-end audio output interface is S/PDIF (Sony/Philips Digital Interface Format). Most newer audio cards, for example, feature TOSlink digital optical output for high-quality sound reproduction, and even the latest crop of motherboards with integrated audio provide at least coax (and often optical) digital output. Since S/PDIF doesn’t provide any content protection, Vista requires that it be disabled when playing protected content [Note E]. In other words if you’ve sunk a pile of money into a high-end audio setup fed from an S/PDIF digital output, you won’t be able to use it with protected content. Instead of hearing premium high-definition audio, you get treated to premium high-definition silence.

The article lists lots of other interesting information (regardless of their accuracy, which I don’t really know, they’re at least interesting to me).

Users aren’t the only group of frustrated people, our beloved hardware vendors also:

As of this writing, major vendors like nVidia (graphics) and Creative Labs (sound) still don’t have their Vista drivers ready, and other vendors like ATI have resorted to fudging their Vista certification, selling Radeon X1950 graphics cards with no certified drivers but with a “Certified for Windows Vista” label on the box, although nVidia them followed suit, selling their GeForce 8600GTS without a
certified driver
but with the same “Certified for Windows Vista” label. In fact nVidia only has beta (pre-release) drivers available from its web site (and a pending class-action lawsuit to match, with an accompanying class-action suit against Microsoft for good measure), and when ATI finally released a Vista-certified driver for the X1950, it crashed Vista and would only work reliably in basic VGA mode, circa 1987.

It’s even weirder, that even if the whole uber-complicated mechanism works, you’d pay more just to get less:

This problem is a nasty catch-22 from which there’s no escape. In theory it would be possible to add a DVI-to-HDMI (with HDCP) encoder to bypass this (a typical example would be the Silicon Image Sil139x or Sil193x devices, which were specifically designed for this application. Silicon Image TMDS transmitters are widely used on graphics cards), but HDMI doesn’t have the bandwidth to carry the high-definition images that the Cinema Display provides. Even without explicit image degradation via constriction, the
requirement to use the lower-quality HDMI link to carry what should be a DVI signal means that image quality is lost, and to make it even more painful the resulting graphics cards will be more expensive because it costs extra to add the quality-downgrading HDMI transmitter. In other words consumers will be paying extra in order to get a lower-quality image.

There are reasons why “this whole complex mechanism” are so slow. First, they encrypt everything, even things not flowing on the Ethernet wire or your wireless:

(I’ve used conventional bits-on-the-wire notation for this, the values are actually fields in a structure so for example the sequence number is provided in the ulSequenceNumber member). This is very similar to the protocol used in SSL or SSH (in practice some steps like cipher suite negotiation are omitted, since there’s a hardcoded set of ciphers used). Finding SSL being run inside a PC from one software module to another is just weird.

A better reason is because your computer would do things to ensure nothing:

In order to prevent active attacks, device drivers are required to poll the underlying hardware every 30ms for digital outputs and every 150 ms for analog ones to ensure that everything appears kosher. This means that even with nothing else happening in the system, a mass of assorted drivers has to wake up thirty times a second just to ensure that… nothing continues to happen (commenting on this mechanism, Leo Laporte in his Security Now podcast with Steve Gibson calls Vista “an operating system that is insanely paranoid”).

Of course, they best blow is that all of these hard sweat work are somehow useless with the latest “invention”:

As a result, both HD-DVD and Blu-Ray content can now be decrypted and played without image downgrading or blocking by the OS, and unprotected content is already appearing in the usual locations like BitTorrent streams.The fact that the legally-purchased content wouldn’t play on a legally-purchased player because the content protection got in the way was the motivating factor for the crack. The time taken was about a week. As a result, all of the content-protection technology (at least for HD-DVDs and Blu-Ray discs) is rendered useless. All that remains is the burden to the consumer. It lasted all of one week.

And thanks to I’m-not-sure-who-to-thank-to, the good guys get the actual damage:

This was indirectly confirmed in April 2007 when the WinDVD player apparently had its keys revoked, requiring that users download and install, an, uh, “security update” to re-enable the DRM.

He demonstrates why Microsoft’s (and hence, Bill Gates’ and Windows Vista’s) current state has historical resemblance:

A historical feature of organisations like Beria’s NKVD (and by extension any kind of state enforcers in a totalitarian society) is that the lack of any fixed goals and limits on their behaviour, the kind that would be set by the laws of a democratic country, combined with the intense paranoia of the leadership, leads to a continual extension of the security apparatus and an ongoing escalation of repressiveness by the enforcers. The result is a driftnet approach to enforcement that ends up netting more innocent bystanders than anything else. The many examples given in the rest of this writeup are an indication that Windows is already well down this path.

Of course, there’s a “speculation” (which is amazingly quite accurate) of Microsoft’s business model of the future (or today):

Enter the subscription model for software. Instead of paying for something once and then falling off the radar as a revenue source for several years, subscription-based content and subscription-based software guarantee a continuous revenue stream for the vendor. If Microsoft controls the distribution channel for content (which is what Vista’s content protection is trying to achieve) then every time you view or listen to some content (no matter whose content), Microsoft gets paid for permitting that content to be played on their system.

This new revenue model extends beyond mere content playback and into SaaS, in a manner revealed by Microsoft’s patent application System and method for delivery of a modular operating system, the first portions of which we’re already seeing as Vista’s Windows Anytime Upgrade. This provides a scary look at Microsoft’s view of the future of computing. As the Groklaw analysis points out, “the patent is not interesting for its technical content — all the building blocks of the described system have been used for some time now — but for the glimpse it offers into the business model envisaged by the applicant”.

Ah, Microsoft… you could’ve been a great company. You really could still be, just look into your heart and see the real pure-hearted child inside you. 🙂

Disclaimer: This blog post is content protected, including its title and even date of posting. You should not read or provide any service using the contents of this blog post without compliant content-protection-enabled devices. Using a web browser than displays unencrypted view of this blog post is prohibited, and will be prosecuted to the greatest extent possible under the latest version of our law. Of course, this entire disclaimer is a big joke, as somebody will have cracked its content protection mechanism in a very short while… 😉

Important Security Update to Disclaimer: Seriously, the linked post is licensed under the Creative Commons Attribution 2.5 License. And this one is too. 🙂

Like this article? Please share this article with others:

Kita Butuh Musuh, Lho!

Sebelumnya saya sempat menulis mengenai I Love Satan.

Sekilas kata-kata tersebut memang sangat aneh, kontroversial, bahkan menjerumuskan… dan memang niat saya memberi kesan seperti itu. 😉

Mungkin ada yang masih bingung kenapa ada manusia yang berpikir seperti itu…

Untungnya, kebetulan ada sebuah artikel dari Mugi Subagyo tentang Seni Berpikir Terbalik: Kita Butuh Musuh (blogger). Cuplikannya:

Bagaimana bisa enak menyaksikan pertandingan sepak bola, jika kedua kesebelasan tersebut berteman, sehingga tidak ada keinginan untuk menciptakan sebuah gol yang dapat menaklukkan lawannya? Apa yang kita banggakan dari sebuah prestasi di sekolah misalnya, jika muridnya cuma satu orang? Bagaimana bisa menjadi yang tercepat, terbaik, terindah, jika tidak ada memiliki musuh sebagai pembanding?Jadi, mari kita ciptakan musuh kita (bukan cari musuh). Jika Anda pemeluk agama yang taat, setanlah musuh Anda.

Truly agree!

Saya belum pernah baca tulisan beliau sebelumnya, dan kita juga belum pernah ketemu, tapi entah kenapa Pak Mugi ini sepertinya bisa membaca pikiran saya… 🙂 (mungkin lebih baik dari orang yang sudah kenal saya, hihihi 🙂

Like this article? Please share this article with others:

Ubuntu Bug #1: Microsoft has a majority market share

I have just known this. It’s pretty weird that I have never visited this bug before. 😉

I thought this was a way for Ubuntu founder Mark Shuttleworth to have some fun.

It seems, it’s no fun at all:

Microsoft has a majority market share in the new desktop PC marketplace. This is a bug, which Ubuntu is designed to fix.

Non-free software is holding back innovation in the IT industry,
restricting access to IT to a small part of the world’s population and
limiting the ability of software developers to reach their full
potential, globally. This bug is widely evident in the PC industry.
Steps to repeat:
1. Visit a local PC store.
What happens:
2. Observe that a majority of PCs for sale have non-free software pre-installed.
3. Observe very few PCs with Ubuntu and free software pre-installed.
What should happen:
1. A majority of the PCs for sale should include only free software like Ubuntu.
2. Ubuntu should be marketed in a way such that its amazing features and benefits would be apparent and known by all.
3. The system shall become more and more user friendly as time passes.

Check the comments for more insights. 🙂 Some of them are funny, well… most of them try to be funny. 🙂

Like this article? Please share this article with others:

Desain Kartu Nama PRIMACOM: Step-by-Step

Baru-baru ini barusan bikin kartu nama di tempat kerja gw. Sebenarnya bukan “ndesain” sich, karena cuma nyomot2 dan itupun mungkin gw sambil “melanggar hukum” in the process. Tapi gapapa selama belum ada yang nuntut (amiiiin).

Pertama-tama gw nyari template… tentu saja tanyanya ama om Google seperti biasa. Gw emang pengen tampilan yang lumayan modern dan Web 2.0-ish.

Dari sekian banyak, akhirnya kecantol ama kartu ini yang dibuat oleh ulahts di kontes SitePoint:

Setelah itu langkah-langkah selanjutnya sepenuhnya dioprek pake GIMP. Lebih enak Photoshop sich, jelas, tapi “terpaksa” deh berhubung pake Ubuntu. Yah, gapapa deh… Hitung-hitung sambil belajar GIMP. 🙂

Tetek bengek dihilangin lalu diganti warna temanya biar sesuai ama PRIMACOM yang merah-kuning:

Dikasih logo, tulisan, dan alamat:

Sedikit tweaking dan dikasih gambar dari Flickr kepunyaan Chris Carro:

Ternyata gw salah ngasih ukuran, 9 x 5.5 cm padahal harusnya 9 x 5 cm. Akhirnya, jadi deh hasil akhirnya:

Lumayan khan untuk seorang non-designer? 😉

Like this article? Please share this article with others:

I Love Satan! ^)^

Menonton film The Secret secara “tidak sengaja” memberikan aku inspirasi baru dalam hidup. Keesokan harinya secara “tidak sengaja juga” mendengarkan berapa lagu terutama punya Samsons, semakin membuka pemahaman liarku tentang peran kejahatan, keburukan, dan keterpurukan dalam hidup manusia di dunia ini…

Lho, apa hubungannya?

Makanya, sabar dulu atuh…

Duplikasi warning sebelumnya: Posting ini mempunyai muatan filosofis yang lebih padat daripada posting harian gw. Dan warning yang lebih lagi adalah, gw jarang banget, ato bahkan mungkin belum pernah, menemukan orang yang bisa “mengepaskan” pemikiran gw dalam kerangka berpikir orang tersebut. Either you’ll be surprised, you’ll think I’m crazy, you’ll reject me outright because of my baseless interpretation, or you’ll simply have to break your old and dusty and inflexibly restrictive frame of reference first.

Saya sudah membahas tentang film (juga novel?) The Secret yang satu ini sebelumnya, Anda bisa baca kalau ingin tau. But it’s not the point.

Beberapa hari yang lalu, pemicunya adalah kontemplasi sporadis saya pada saat beralun diiringi oleh lagu Samsons bertajuk Kehadiranmu:

Kehadiranmu menggugah hidupku, ajarkan aku bijaksana, membaca lembaran hidupku di dunia.

Interpretasiku mengenai larik ini mulai dari kata kedua sampai akhir kalimat bisa dibilang literal, artinya nyaris dengan apa yang akan terpikir di benak setiap orang pada saat mendengarnya dibacakan oleh reporter Liputan 6.

Kenapa “membaca” lembaran hidup… bukan “menulis” atau “menorehkan” atau “melukis”? Karena dalam hidup kita ada yang dinamakan takdir, yang menurut Harun Yahya:

Takdir adalah pengetahuan sempurna yang dimiliki Allah tentang seluruh kejadian masa lalu atau masa depan. Kebanyakan orang mempertanyakan bagaimana Allah dapat mengetahui peristiwa yang belum terjadi, dan ini membuat mereka gagal memahami kebenaran takdir.

Tapi “kehadiranmu,” aku fokuskan pada suatu hal yang sama sekali berbeda, interpretasi yang kontradiktif dengan apa yang mungkin dibayangkan banyak orang, yaitu:

Satan. 🙂

Keberadaanmu dalam kisahku, tunjukkan aku bahagia, dalam perjalanan hidup yang tersulit.

Banyak yang terpikir dalam benakku saat menyelami kalimat ini. Contoh cueknya adalah kesedihan kita akan terasa lebih ringan saat melihat orang lain yang mempunyai beban lebih berat… 🙂

“Ternyata masih banyak orang yang lebih tidak beruntung daripada aku,” ucapannya biasanya seperti itu.

Efek emosionalnya akan lebih dahsyat lagi apabila kita menggunakan psikologi imajinasi untuk menarik perbandingan yang tak terkira. Sesial-sialnya kita, atau Anda, atau saya, sebagai manusia, tidak ada apa-apanya dibandingkan “keterkutukan tanpa batas.”

Secara matematis, Anda bisa bilang -10 adalah nilai yang negatif. Tapi angka -10 adalah 10x lipat lebih “baik” daripada -100. Angka -10 adalah 100x lipat lebih baik daripada -1000, dan seterusnya.

Dan jika Anda membandingkan dengan angka -Infinity atau angka negatif tak berhingga, maka angka -10 adalah angka yang luar biasa positifnya secara tak berbatas. 🙂

Sempat mengingatkan saya pada… “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.” (QS. Ibrahim 34)

Secara matematis, hal ini sudah “terbukti” dengan aksiom seperti pada paragraf sebelumnya. (Ilustrasi: hitunglah jumlah bilangan bulat antara -10 dengan -Infinity.)

Dan hadirmu… menyempurnakan akhir pencarian hidupku.

Kalimat ini mengingatkan aku dengan sebuah “pemberat.” Di mana pemberat tersebut tidak mempunyai fungsi yang substansial selain untuk menjaga “keseimbangan.”

Saya pernah dengar sebuah pernyataan, “Sebuah sistem dapat bersifat konsisten, atau complete (lengkap), tapi tidak mungkin memiliki kedua tersebut sekaligus.” Pernyataan tersebut sangat sulit untuk dipahami tanpa ilustrasi atau visualisasi yang lebih konkret.

Secara konseptual, adanya “pemberat” ini memungkinkan kita melakukan hal-hal sambil mengevaluasi secara kontinu. Mirip seperti bumi yang memungkinkan kita untuk berpijak, berjalan, dan berlompatan tanpa takut bahwa bumi yang kita pijak akan tiba-tiba runtuh. Dengan adanya gravitasi, kita bisa mengukur berapa berat (er, massa…) tubuh kita hanya dengan menggunakan prinsip yang sangat sederhana. Mungkin Anda tidak pernah menyadari bahwa menimbang berat tubuh di luar angkasa, di lingkungan yang bebas gravitasi merupakan pekerjaan yang sangat rumit?

Kehangatan yang Kau cipta untukku memberikan aku cermin hati ‘tuk melihat seluruh putihnya kasihMu.*

Kalimat ini saya interpretasikan sedikit berbeda karena sebagian besar mengacu kepada Dzat Yang Maha Agung.

“Kehangatan” di sini dalam konteks perbandingan dengan hal yang “tidak hangat”. Kontras di sini adalah pusat perhatian, yang ditegaskan oleh kata yang saya tebali yaitu…

Cermin hati. Entah kenapa saya sangat memfavoritkan kata “cermin.” Cermin mempunyai arti filosofis yang sangat berarti bagi saya. Cermin adalah alat untuk melihat diri kita sendiri. Cermin selalu memberikan gambaran yang sebaliknya dengan keadaan sebenarnya.

Dan mungkin saja Anda lupa dengan pelajaran waktu kecil bahwa gambar di dunia ini diterima oleh retina mata dalam keadaan terbalik. Otak kitalah yang membalik gambar tersebut agar kita tidak melihat dunia yang atas-di-bawah.

Cermin bisa menipu, tapi cermin juga bisa menjadi alat yang sangat berguna untuk memperjelas persepsi kita. Dengan cermin, kita bisa melihat seluruh* sudut yang tidak bisa kita lihat tanpa cermin… seperti apa yang terjadi pada saat kita potong rambut di salon. Dengan cermin, kita bisa mengakali keterbatasan diri kita dalam menangkap sesuatu… seperti kaca spion samping.

Dengan cermin hati, kita selalu punya harapan dalam mengarungi samudera hidup yang gelap pekat dan nyaris tanpa kepastian… seperti halnya nahkoda kapal kuno yang menavigasi lautan dengan bantuan sextant.

Terima kasih karena telah memberiku cara baru untuk menilai sebuah perspektif… As my friend Ariel Meilij once said, it’s such an epiphany… 🙂

I “Love”… Satan. 🙂

Disclaimer tidak beraturan:

Perlu diperhatikan bahwa saya termasuk orang yang mempunyai pemikiran multi-manifestasi (apa ini? koq istilahnya radak katrox.) Maksudnya, saya akan memberikan evaluasi valid atas dua interpretasi yang seolah-olah berbeda bahkan bertolak belakang, karena menggunakan kerangka pikir yang secara organik berkembang untuk mengakomodasi
berbagai manifestasi dari interpretasi yang, pada dasarnya, bersumber dari hal yang sama.

Apa pun yang saya ekspresikan pada dasarnya hanyalah salah satu manifestasi dari interpretasi topik tertentu. Hal ini berarti tidak menutup kemungkinan bahwa saya bisa sependapat dengan interpretasi lain yang bagi orang lain mungkin bertolak belakang, sedangkan bagi saya sepenuhnya dapat diterima dan tidak bersifat kontradiktif.

Like this article? Please share this article with others: