Web Hosting Sources Site

Sponsored review:

WebHostingSources.com provides you with lots of valuable information related to web hosting on the Internet.

You can compare and select from several web hosting categories. Information about the most well known and most used web hosting providers, web hosting services and web hosting tools in the industry is provided. They human-edit every web hosting provider, web hosting service and web hosting tool description in the directory.

Some of the resources provided are:

You will find a huge alphabetical list of web hosting providers, services and tools. And if you can’t find  enough web hosting offers for you to make a decision, you can also try ‘More Offers’ at the bottom of every web hosting directory category.

Web Hosting Sources Directory is human-edited and alphabetical to ensure that every web hosting provider, service and tool listed there has an accurate and impartial description as possible. Every Web Hosting category has been created to highlight the web hosting provider strengths in that category. Their slogan is “Get GREAT Web Hosting offers in three clicks or LESS!”.

It’s worthwhile to research all your web hosting provider choices before you purchase a long term web hosting plan. That’s the best way to save money on web hosting services and tools. Visit WebHostingSources.com to decide which web hosting provider offers the best web hosting services, tools and features at the price you want.

Like this article? Please share this article with others:

Citibank Class Action Lawsuit, Bunga, Meterai, dan Tol

Baru-baru ini saya jadi tertarik mengikuti perkembangan tuntutan Class Action kepada Citibank yang diajukan oleh Bapak Jojo Rahardjo mengenai besar tagihan kartu kredit Citibank yang “nggak beres.”

Saya sendiri adalah pemegang kartu kredit BCA Card dan BCA VISA yang relatif puas dengan layanannya, yang alhamdulillaah belum pernah kena bunga kartu kredit (semoga nggak perlu dicoba).

Beberapa cuplikan masalahnya: (saya nggak me-rephrase karena takut salah tulis)

Intinya adalah tidak ada yang salah dengan formula perhitungan bunga setiap transaksi pada tagihan saya. Melalui telpon itu Pak Hari berjanji akan mem-fax penjelasan formula perhitungan bunga yang menurut saya tidak perlu di-fax, karena sudah dikirimkan melalui fax kepada saya sebelumnya dan sudah saya mengerti.

Namun sebagaimana yang saya tanyakan dalam 4 email terakhir saya adalah “mengapa saya dikenakan biaya pembayaran kartu dan meterai (3x Rp 5.000,- dan Rp 6.000) 2 (DUA) KALI DALAM SATU PENAGIHAN” ??? Silahkan lihat email-email yang saya kirimkan dan Citibank kirimkan ke saya.

Saya kira, pertanyaan saya cukup mudah dimengerti, kecuali jika pertanyaan itu dibaca tanpa mengikuti konteksnya. Jika pertanyaan saya terlalu sulit dimengerti oleh Citibank, mungkin pertanyaan di bawah ini yang sudah saya permudah bisa dimengerti:

Mengapa biaya pembayaran kartu (3 X Rp5.000) dan meterai (Rp6.000) yang sudah dikenakan kepada saya pada rincian transaksi, juga ditagih lagi di kolom “Bunga dan Biaya Administrasi dengan menambahkannya ke angka 188.106 sehingga menjadi 209.106” ?

Saya tebali tulisan tersebut karena di situlah letak inti permasalahannya, yang sepertinya pihak Citibank kurang teliti (atau pura-pura kurang teliti) melihatnya, seperti terlihat dari balasan e-mail dari Citibank sebelumnya: (iya, sebelumnya, karena setelah itu –at her time of writing– belum ada balasan lagi oleh Citibank)

Date: Fri, 2 Feb 2007 14:52:12 +0800 (SGT)
From: “Citibank Indonesia”
To: “Lisa XXXX” , “Lisa XXXX”
Subject: Re: Fwd: Re: contact us (KMM223329I32473L0KM)

Ibu Lisa XXXX yang terhormat,

Terima kasih telah menghubungi kami melalui e-mail.

Seuai dengan pertanyaan Ibu, kami sampaikan kembali sebagai beikut :
1. Setiap pembayaran lewat ATM BCA akan dikenakan biaya layanan sebesar
Rp 5.000,- . Biaya tersebut terlihat pada lembar tagihan bulan Oktober
2006 pada tanggal 18 September, 22 September dan 9 okrtober 2006
sehingga diperoleh nilai Rp 15.000,- (3 x Rp 5.000,-)

2. Bea meterai luanas sebesar Rp 6.000,- akan dikenakan untuk setiap
pembayaran kartu kredit dengan jumlah di atas Rp 1.000.000,-.

Demikian penjelasan kami. Apabila masih ada hal-hal yang ingin
ditanyakan, kami mohon agar Ibu dapat menghubungi pula Layanan 24Jam
Citiphone Banking kami di nomor 021-2529999 atau 69999 (melalui
ponsel, tanpa kode area dan berlaku nasional).

Atas perhatian dan kerja samanya, sekali lagi kami ucapkan terima
kasih.

Hormat kami,
Citibank Indonesia

Belum lagi, bayar kartu kredit dikenakan bunga!

Sedangkan Pembayaran atau penyetoran ke Citibank (yang seharusnya bukan transaksi atau bukan berhutang) juga dikenakan bunga. Demikian juga dengan Biaya Pembayarannya yang melalui ATM BCA sebesar Rp5.000. Sehingga ketika pemegang KK membayar sebesar Rp2.000.000 pada tanggal 18 September 2006, maka ia dikenakan beban Rp5.000 ditambah bunga dua komponen tersebut (Pembayaran dan Biaya Pembayarannya), yaitu Rp65.333 dan Rp163. Total dari dua bunga ini adalah Rp65.497 atau 3% dari Pembayaran yang Rp2.000.000 itu.

Pembebanan bunga terhadap Pembayaran ini amat menguntungkan Citibank, karena selain mendapatkan bunga dari Transaksi dan Pengambilan Tunai, ternyata Citibank juga bisa mendapatkan bunga dari setiap Pembayaran. Meski ini mungkin sudah dilakukan sejak lama dan menjadi soal yang “wajar”, namun pemegang KK merasa tertipu karena tidak ada pemberitahuan secara tertulis bahwa Pembayaran juga dikenakan bunga.

Berikut penjelasan yang diteruskan oleh BPSK:

Bambang Sumantri | Selasa, 19 Juni 2007

Masyarakat Konsumen Yth,

Sidang kasus Pak JOJO.R dan CITYBANK telah berlangsung dengan baik dan pak Jojo telah mendapatkan penjelasan tentang perhitungan bunga secara gamblang dan jelas yang ditayangkan lewat in Focus di depan majelis BPSK.

Ternyata pembayaran kepada City bank tidak dikenakan bunga, tetapi mengurangi bunga yang dibebankan pada pemegang KK di bulan berikutnya.

Penjelasan ini kami buat agar masyarakat pembaca Media Konsumen maklum adanya, mengingat telah banyak komentar yang masuk tentang kasus pak Jojo.

BPSK harus berlaku adil baik untuk Konsumen maupun Pelaku Usaha.

Demikian dan terima kasih atas perhatiannya

Pak Jojo sendiri menerima sebagai berikut: (sayangnya, saya sendiri masih kurang jelas bagaimana yang dimaksud dengan “penjelasan rinci tentang cara perhitungan bunga” terutama Citibank)

Beberapa catatan penting yang harus saya sampaikan kepada masyarakat konsumen KK adalah sebagai berikut.

– Proses gugatan melalui BPSK adalah dimulai dari pertengahan Maret 2007 hingga pertengahan bulan Juni ini, yang berarti memakan waktu kira-kira 3 bulan lamanya.

– Persidangan hanya berlangsung dari pukul 10:00 hingga 11:00.

– Citibank telah menjelaskan kepada saya mengenai perhitungan bunga tagihan saya bulan Oktober 2006 (hanya bulan itu) yang menurut saya sebelumnya tidak jelas dan merugikan saya. Penjelasan itu pada saat persidangan saya terima.

– Keluhan tentang kenyamanan konsumen sebagai masukan tambahan bagi pelaku usaha masih akan dibicarakan lagi di luar sidang sebagaimana disampaikan oleh anggota majelis BPSK di dalam sidang.

– Penjelasan rinci tentang cara perhitungan bunga memang sebuah soal yang Citibank atau penerbit KK pada umumnya hanya mau menjelaskan tidak secara terbuka atau hanya secara khusus dan hanya jika diminta oleh konsumennya. Cara perhitungan bunga itu memang rumit untuk dimengerti bagi saya yang awam dan mungkin juga bagi kebanyakan konsumen lainnya.

– Khusus mengenai cara perhitungan bunga, penerbit KK sudah seharusnya membuat atau mencantumkan penjelasan yang mudah dimengerti konsumen di dalam agreement ketika konsumen menerima KK dari sebuah penerbit KK.

– Saya masih tidak mengerti pada satu soal penting, yaitu mengapa saya tidak merasa puas atas kualitas pelayanan Citibank pada saat saya meminta penjelasan perhitungan bunga, termasuk ketika saya persoalkan di media. Bahkan soal ini tidak perlu ke BPSK jika Citibank tanggap dalam memuaskan konsumennya. Padahal itu bisa menjadi bagian dari proses edukasi kepada konsumen Citibank atau dalam kerangka untuk memenuhi hak konsumen atas informasi dan layanan sebagaimana di dalam UU Perlindungan Konsumen 8/1999:

• Pasal 4a: hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsurnsi barang dan/atau jasa.

• Pasal 4c: hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa.

• Pasal 4d: hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan / atau jasa yang digunakan.

• Pasal 4g: hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.

– Masyarakat konsumen perlu mendorong pemerintah dan penerbit KK untuk lebih memperhatikan dasar pertimbangan UU PK ayat d: yaitu untuk meningkatkan harkat dan martabat konsumen perlu meningkatkan kesadaran, pengetahuan, kepedulian, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi dirinya serta menumbuhkembangkan sikap pelaku usaha yang bertanggungjawab.

Nah, tambah keren lagi, materai pun jadi masalah:

Berdasarkan pada PPRI no 24/2000 dan SE Dirjen Pajak no 13/2001 itu, Pak Hagus berpendapat bahwa pemegang KK tidak diwajibkan untuk membayar bea meterai itu. Jika bukan pemegang KK yang diwajibkan untuk membayar bea meterai itu, maka tentu pembuat dokumen yang mendapat kewajiban itu. Oleh karena itu Pak Hagus mengajukan keberatan dan meminta pengembalian bea meterai itu yang sudah dikenakan sejak tahun 2000 itu. Keberatan itu diajukan dan dilakukan berulang-kali hingga membuat Pak Hagus kesal dan merasa amat tidak nyaman, meski pun akhirnya Citibank mulai mengembalikan sebagian kecil dari bea meterai yang telah ditagih Citibank pada periode bulan Juni 2005 hingga Oktober 2006. Itu pun Citibank tidak mengembalikan semua bea meterai yang sudah dibebankan kepada Pak Hagus. Bahkan Citibank telah secara sepihak memberikan laporan kepada Bank Indonesia, bahwa Pak Hagus memiliki tunggakan kepada Citibank sebesar sekian juta. Namun anehnya, Citibank tidak pernah menagih apalagi mengejar Pak Hagus untuk mendapatkan tunggakan itu.

Banyak ekses yang timbul atau terjadi dari proses pengajuan keberatan bea meterai yang dilakukan oleh Pak Hagus ini. Satu yang menonjol dan amat mengganggu rasa nyaman Pak Hagus adalah Citibank pernah menggunakan cara-cara yang menyinggung sara, yaitu Citibank pernah mempertanyakan apa agama Pak Hagus? Apakah Pak Hagus Muslim atau Nasrani? Rekaman pembicaraan itu masih disimpan oleh Pak Hagus. Karena Pak Hagus tidak menjawab pertanyaan Citibank itu, maka tidak diketahui apakah maksud dari pertanyaan itu. Apakah jika Pak Hagus menjawab bahwa ia menganut salah satu agama, itu akan mempengaruhi kualitas atau bentuk respon Citibank terhadap Pak Hagus? Meski didesak terus tentang maksud dari pertanyaan itu, Citibank hingga kini (pertemuan di Citibank Tower, 14 September) menolak menjawabnya. Cepat atau lambat, Pak Hagus akan memperkarakannya melalui jalur hukum.

Lebih kerennya lagi, ternyata Citibank sudah mau “mengakui kesalahannya” bahkan membayari alias mengembalikan “uang tilep” ini kepada salah satu penggugat yaitu Bapak Hagus:

Rekan2 Yth,saya ingin memberikan gambaran fakta dan bukti secara defakto bahwa Citibank selama beberapa bulan mengembalikan bea meterai(Koreksi Bea Meterai/KBM),denda(Late Charges reversal/LCR) dan bunga(Interest Adjustment Reversal/IA dan Finance Charges Reversal/FCR) yang timbul akibat komplain saya soal pengenaan meterai yang illegal,berikut ini lengkapnya,Kartu Visa:15/10/06 FCR 141.672, 14/9/06 FCR 396.934, 16/7/06 FCR 58.624 dan KBM 6.000, 14/5/06 FCR 53.169, 16/4/06 FCR 109.075 dan KBM 6.000, 14/3/06 FCR 316.852 dan KBM 36.000, 14/9/05 FCR 58.836 dan IAR 6.336, 14/7/05 FCR 159.655, 14/6/05 FCR 736.845,total reversal/pengembalian Rp 2.085.998,-. Kartu Master, 27/9/06 FCR 154.442 dan LCR 100.000, 27/8/06 FCR 197.861, 29/1/06 IAR 99.061, 27/9/05 FCR 282.398 dan LCR 50.000,total reversal/pengembalian Rp 883.762,-.Jadi total keseluruhan Reversal /Pnegembalian/Pengkreditan kartu Visa dan Master sebesar Rp 2.969.760,-.Artinya apa,ini berarti pengakuan secara defakto bahwa pengenaan bea meterai memang kewajiban Citibank dan bukan kewajiban pemegang kk.Sayangnya yang komplain dan keberatan atas bea meterai hanya saya seorang,sehingga Citibank lama2 mungkin sadar,kalau yang lain2nya ikut komplain dan keberatan,berapa banyak dana yang harus dikembalikan.Mari kita hitung,kalau nasabahnya 1.000.000 x Rp. 3.000.000,- berarti Rp 3.000.000.000.000,- / 3 Trilliun. Bayangkan rekan2 Rp 3 Trilliun lho uang yang harus dikembalikan citibank pada kita semua.Sayangnya hanya saya yang komplain dan keberatan sehingga hanya saya yang mendapatkan pengembalian Rp.3.000.000,-.Itupun belum pengembalian seluruhnya.Jadi mari kita ramai2 menuntut pengembalian bea meterai,kalau Citibank tidak mau,tutup aja kartu kreditnya ,pasti Citibank akan mengembalikan meterai seluruhnya ketimbang kehilangan pelanggan seluruhnya.Faktanya bea meterai adalah kewajiban citibank dan bukan kewajiban kita.Betuuuuuuuuuuuuuuulllll,hayooooooo ramai2 minta pengembalian meterai pada Citibank.

Salam, Hagus.

Tentu saja, hal ini bisa jadi “merugikan” Citibank nantinya:

Jojo Rahardjo | Rabu, 05 September 2007

Saya menghimbau pada para pemegang KK Citibank atau yang pernah menjadi pemegang KK Citibank, agar bergabung bersama saya dan Pak Hagus di sebuah milis yang ditujukan sebagai media komunikasi untuk melakukan class action.

Sebagaimana sudah dijelaskan berulang-ulang oleh Pak Hagus, Citibank telah mengembalikan biaya meterai yang dikenakan pada tagihan Pak Hagus setelah Pak Hagus mempertanyakannya. Anehnya, mengapa hanya Pak Hagus saja yang dikembalikan biaya meterainya? Mengapa tidak pemegang KK lainnya? Jika biaya meterai ini adalah sebuah modus pencurian yang dilakukan Citibank, maka jumlah yang dicuri dari pemegang KK tentu amat fantastis. Oleh karena itu diperlukan sebuah class action agar uang ini dikembalikan kepada pemilik yang sah.

Secara saya pengen daftar Citibank credit card, jadi ragu gara-gara ada tulisan ini.

Sekaligus, saya salut banget buat Pak Jojo Rahardjo beserta istri (Lisa), Pak Hagus, Bu Victoria Loedovica, Bu Kenti, dan rekan-rekan lain yang berjuang membela konsumen dan keadilan.

Informasi lebih lanjut bisa didapatkan di alamat-alamat berikut:

Like this article? Please share this article with others:

How to Make Your Own Broadband WiFi Hotspot

Go wireless!

Creating your own TelkomSpeedy / ADSL Broadband WiFi Hotspot is actually pretty easy. Why go Ethernet wired if you can go 802.11g wireless? 😉

Mungkin ada teman-teman yang kepingin tau gimana cara membuat Hotspot WiFi menggunakan akses ADSL Broadband misalnya TelkomSpeedy. So, let’s get on with it…

What you will need:

First, you need to connect the Ethernet cable from your ADSL modem to the WAN port of the WiFi broadband router.

Now, login to your WiFi router.

And configure your router as follows:

Linksys WRT54GL control panel small

Now, click Save Settings and enjoy!

Thanks a lot to segores tinta kupu ungu for posting “Bikin internet wi-fi area SOHO ? Akhirnya bisa juga,, alhamdulillah” that inspired me to write this article! 🙂

PS: Make sure to configure wireless security settings in your WiFi router. You don’t want anyone messing around with your wireless network!

Like this article? Please share this article with others:

OpenBravo is Honest Software, Me Likes! :)

OpenBravo Installation

Having been waiting “a few minutes” for several years with various taking-too-long-to-install software, “it will take more than an hour” is definitely a relief.

At last, somebody is being honest! 😉

Update: Murti has a great article on installing OpenBravo on Ubuntu. I myself got stuck on the “FAIL – Application at context path /openbravo could not be started” error. 🙁

Like this article? Please share this article with others:

“Selling” for 0% Profit!


Today I just found one way (though not so “good idea”) to have a 45-day loan with 0% interest……!

I got approx 800,000 rupiahs today, cash, in less than an hour, that I can return around end January.. it was very easy.

I was shopping with my friends (actually my Entreprenur University Kediri classmates), at Gramedia book store. I’m not really sure if I want to buy a book, but seeing my friends take up a few books, I decided to buy a book and ask them, “hey, why dont you help me. what if you pay to me, and I’ll pay all of our books using my BCA credit Card?” In short, he said alright. And I start “marketing” my scheme to the other friends. So they joined.

I asked Gramedia if they had a discount. She said I’ll get 10% discount if my order is 1.5 million rupiahs. So I told my friends. Unfortunately some of the friends had already left, they said “Hendy why didn’t you told us earlier!!! :-P” and we didn’t get 10% discount. 🙁

Anyways, the total purchase was 861,300 rupiah. I only purchased one book worth 35,000 rupiahs (Robert T. Kiyosaki Advisor’s Building A Business Team that Wins) and my friends each buy average of 3 books (yeah I’m sooo a cheater). 😛

Now, I get 800,000 rupiahs in cash… That I can use for whatever, that I’ll pay on my next credit card billing statement. It’s much better than taking the cash out of my credit card (with 3%-7% surcharge). Without any monthly interest at all 🙂

Soo happy 🙂

P.S.: Thanks to all the Entrepreneur University friends who joined my scheme: Ali, Udin, Susi, Lestari, Harli, Eko, and Ulfa!

Like this article? Please share this article with others:

Semantic Interface Driven Architecture and Continuous Change Driven Development

The time has come for yet another wishful thinking. With the rise of Service Oriented Architecture (SOA) and Event Driven Architecture (EDA), and Test Driven Development (TDD) extended with Behavior Driven Development (BDD), and a bunch of other buzzwords… let me introduce something else for the enterprise world:

Semantic Interface Driven Architecture (SIDA)

In short, it’s a Model Driven Architecture (MDA), sprinkled with interfaces to reduce coupling of inter-model transformations, and semantic inferences in the spirit of topic maps and RDF+OWL, implemented on top of SOA and EDA.

MDA allows different services to communicate with each other by transforming models. The interfaces provide agreeing on specifications to common semantics. Semantics themselves are inferable, and navigable. Thus, it is possible to interrelate models even though they are entirely in different layers and/or (heterogeneous/external) systems.

Continuous Change Driven Development (CCDD)

In short, it’s a development approach where the requirements are constantly changing. Constantly, that is, as in “real-time”, in order of milliseconds. One millisecond you need to have this table, the next you have to add a column, the next you have to drop a whole table, and in the next you want a whole form, relationships…

Requirements are not specified upfront, but simply as a “starting point”. Much like the way (probably) the universe started during the Big Bang. Everything else is evolutionary, and can be changed in real time by the individual users of the application. It might also be named Real-time Evolution Driven Development (REDD), which is probably more buzzy.

Some of the general traits of this approach are:

  • extensive use of ultra meta-programming
  • taken-for-granted interoperability with other SIDA systems
  • fuzzy specifications/requirements (i.e. “want” instead of “what/how”)
  • generatively programmable systems
  • decentralized source code management (i.e. version control) is taken for granted

What?!?!

Let me know of your comments. If you are interested in doing research together, by all means please do. I’m serious.

Resources

Like this article? Please share this article with others:

Emosional

Emosi merupakan sifat bawaan manusia. James Gwee, motivator bisnis ternama dari Singapura, mengatakan:

Customer yang sedang emosi tidak akan bisa menerima penyelesaian masalah.

Singkatnya, dalam keadaan emosi manusia tidak bisa berpikir dengan jernih. Hal ini terjadi baik pada laki-laki dan terutama perempuan.

Teman-teman saya sering tidak percaya bahwa saya berusaha untuk bersikap berbalik dengan mood saya saat itu. Saya sendiri dalam menilai orang, berusaha memperhatikan mood orang tersebut, dan bukan hanya sikapnya.

Ada prinsip mendasar dari “keanehan” tersebut.

James Gwee, lagi-lagi pernah mengatakan dalam sebuah seminar bisnisnya:

Apabila Anda melakukan A, Anda akan mendapatkan A. Apabila Anda menginginkan B, Anda harus melakukan B. Tidak bisa Anda menginginkan B tapi tetap melakukan A. Karena antara keinginan Anda dengan usaha Anda tidak sinkron.

Bila seseorang bahagia dan dia tersenyum, itu wajar!
Bila seseorang sedih dan dia cemberut, itu juga wajar!
Bila seseorang kesal dan dia marah-marah, itu sangat wajar!

Dalam sebuah hubungan, juga sama…

Bila di dalam “hati” seseorang ada cinta buat Anda, dan dia selalu memperlakukan Anda dengan spesial, itu biasa!
Bila orang itu membenci Anda dan dia selalu berpikir negatif tentang Anda, itu juga biasa!

Entah kenapa, sebagian orang tidak menyadari perbedaan antara sikap seseorang, dengan pendorong orang tersebut bersikap seperti itu. Pendorong sendiri sering disebut dengan istilah “motivasi.” (disclaimer: ada juga yang mengaitkan motivasi dengan tujuan yang ingin dicapai, tapi bukan itu yang saya maksud di sini, melainkan penyebabnya.)

Kalau mendengar kata “motivasi”, mungkin orang berpikir macam-macam, mulai dari bisnis, MLM, sampai belajar untuk ujian. Namun, yang perlu diperhatikan adalah, motivasi mendorong kita untuk melakukan sesuatu.

Motivasi di sini dalam artian luas, bahkan emosi juga termasuk “motivasi”.

Contoh saja, orang marah-marah, juga karena adanya motivasi atau pendorong. Motivasinya, tentu saja adalah emosi dia yang sedang kesal. Akan sangat aneh rupanya, jika orang sedang kesal tapi dia tertawa terbahak-bahak. Atau jika hatinya sedang bahagia tapi malah marah-marah.

Namun, yang ternyata jarang disadari orang, adalah motivasi menutupi niat sebenarnya dari sikap seseorang.

Analoginya adalah jika Anda menaruh sebuah gerobak di atas bukit yang menurun, maka gerobak tersebut akan berjalan dengan sendirinya tanpa Anda harus berbuat apa-apa. Ini beda dengan gerobak yang berada di tanah datar, atau lebih hebatnya lagi adalah gerobak yang berada di lembah, dan Anda harus berusaha mendorongnya ke atas sambil melawan gravitasi.

Ini alasan mengapa saya berusaha menghargai seseorang lebih karena niatnya daripada sikapnya.

Sekedar ilustrasi, misalnya ada seseorang yang Anda minta dari Kediri ke Surabaya. Dia sampai dalam waktu 3 jam, naik bus. Anda seharusnya puas. Tapi, andai saja, ternyata keadaannya saat dia hendak berangkat tidak seperti itu. Ada hujan badai, sehingga dia basah kuyup. Tidak ada bus yang lewat setelah ditunggu lama. Dan dia kecopetan.

Apakah dia tetap berangkat ke Surabaya?

Bila dia membatalkan niatnya, itu wajar. Karena motivasinya sudah dilemahkan oleh berbagai kesulitan yang dia hadapi. Tanpa motivasi, hanya tertinggal niat. Dan tanpa niat, orang tak akan melakukan apapun.

Namun, mungkin juga dia tetap kukuh menjalankan niatnya. Dia berusaha mengayuh sepeda dari Kediri ke Surabaya. Terlepas dari berhasil tidaknya, dia pantas diberikan penghargaan atas usahanya ini.

Emosi adalah motivator yang sangat besar, namun jarang diberi perhatian.

Apakah Anda akan memberi penghargaan bagi orang yang suka tersenyum?

Bagaimana dengan orang yang hatinya sedang sangat kalut tapi dia berusaha tersenyum untuk Anda? Akankah Anda memberinya penghargaan?

Pernahkah (atau seringkah?) Anda mendengar: “Maklum dong, waktu itu aku kan lagi emosi. Sekarang aku udah gak marah lagi…”

Atau mungkin: “Waktu itu aku kan lagi senang. Sekarang aku lagi marah nih…!!”

Atau mungkin: “Waktu itu aku kan lagi suka ama kamu, tapi sekarang…”

Anda mungkin bisa melihat niat seseorang yang sebenarnya di balik sikap dan motivasinya… Sikap seseorang bisa berubah dalam hitungan detik. Motivasi bisa berubah seiring waktu.

Niat seseorang, sebagaimana pun sulitnya untuk dicari, juga bukanlah suatu hal yang konstan, bisa berubah-ubah, tidak jauh berbeda dengan emosi manusia itu sendiri.

Everybody always starts a mistake at all times. They just don’t know when, they will realize each mistake they started. In the mean time, they’re simply enjoying it… 🙂

Artikel-artikel yang relevan berikut ini juga menarik lho:

Like this article? Please share this article with others:

Windows Vista, DRM, Microsoft, and All That Complex Stuff!

horriblecherry

I was just reading A Cost Analysis of Windows Vista Content Protection, written by Peter Gutmann, referred by Bad Vista.

A pre-disclaimer: I’m not really “at war” with Microsoft, as I have some friends at Microsoft, and even I’m myself a .NET Blogger.

In short, it describes how the content protection features incorporated in Microsoft’s latest-and-greatest operating system Windows Vista actually backlashes… not to Microsoft, but to Microsoft’s loyal users. Innocent people who actually shell out money to watch movies… and simply can’t play them:

Say you’ve just bought Pink Floyd’s “The Dark Side of the Moon”, released as a Super Audio CD (SACD) in its 30th anniversary edition in 2003, and you want to play it under Vista (I’m just using SACD as a representative example of protected audio content because it’s a well-known technology, in practice Sony has refused to license it for playback on PCs). Since the S/PDIF link to your amplifier/speakers is regarded as insecure for playing the SA content, Vista would disable it, and you’d end up hearing a performance by Marcel Marceau instead of Pink Floyd.

Why? High-end graphic cards are “useless” in Vista:

But what if you’re lucky enough to have bought a video card that supports HDMI digital video with HDCP content-protection? There’s a good chance that you’ll have to go out and buy another video card that really does support HDCP, because until quite recently no video card on the market actually supported it even if the vendor’s advertising claimed that it did.

As the site that first broke the story in their article The Great HDCP Fiasco puts it:

“None of the AGP or PCI-E graphics cards that you can buy today support HDCP […] If you’ve just spent $1000 on a pair of Radeon X1900 XT graphics cards expecting to be able to playback HD-DVD or Blu-Ray movies at 1920×1080 resolution in the future, you’ve just wasted your money […] If you just spent $1500 on a pair of 7800GTX 512MB GPUs expecting to be able to play 1920×1080 HD-DVD or Blu-Ray movies in the future, you’ve just wasted your money”.

The reason is Vista deliberately disables anything that doesn’t conform to its guidelines, err… specification:

Vista’s content protection mechanism only allows protected content to be sent over interfaces that also have content-protection facilities built in. Currently the most common high-end audio output interface is S/PDIF (Sony/Philips Digital Interface Format). Most newer audio cards, for example, feature TOSlink digital optical output for high-quality sound reproduction, and even the latest crop of motherboards with integrated audio provide at least coax (and often optical) digital output. Since S/PDIF doesn’t provide any content protection, Vista requires that it be disabled when playing protected content [Note E]. In other words if you’ve sunk a pile of money into a high-end audio setup fed from an S/PDIF digital output, you won’t be able to use it with protected content. Instead of hearing premium high-definition audio, you get treated to premium high-definition silence.

The article lists lots of other interesting information (regardless of their accuracy, which I don’t really know, they’re at least interesting to me).

Users aren’t the only group of frustrated people, our beloved hardware vendors also:

As of this writing, major vendors like nVidia (graphics) and Creative Labs (sound) still don’t have their Vista drivers ready, and other vendors like ATI have resorted to fudging their Vista certification, selling Radeon X1950 graphics cards with no certified drivers but with a “Certified for Windows Vista” label on the box, although nVidia them followed suit, selling their GeForce 8600GTS without a
certified driver
but with the same “Certified for Windows Vista” label. In fact nVidia only has beta (pre-release) drivers available from its web site (and a pending class-action lawsuit to match, with an accompanying class-action suit against Microsoft for good measure), and when ATI finally released a Vista-certified driver for the X1950, it crashed Vista and would only work reliably in basic VGA mode, circa 1987.

It’s even weirder, that even if the whole uber-complicated mechanism works, you’d pay more just to get less:

This problem is a nasty catch-22 from which there’s no escape. In theory it would be possible to add a DVI-to-HDMI (with HDCP) encoder to bypass this (a typical example would be the Silicon Image Sil139x or Sil193x devices, which were specifically designed for this application. Silicon Image TMDS transmitters are widely used on graphics cards), but HDMI doesn’t have the bandwidth to carry the high-definition images that the Cinema Display provides. Even without explicit image degradation via constriction, the
requirement to use the lower-quality HDMI link to carry what should be a DVI signal means that image quality is lost, and to make it even more painful the resulting graphics cards will be more expensive because it costs extra to add the quality-downgrading HDMI transmitter. In other words consumers will be paying extra in order to get a lower-quality image.

There are reasons why “this whole complex mechanism” are so slow. First, they encrypt everything, even things not flowing on the Ethernet wire or your wireless:

(I’ve used conventional bits-on-the-wire notation for this, the values are actually fields in a structure so for example the sequence number is provided in the ulSequenceNumber member). This is very similar to the protocol used in SSL or SSH (in practice some steps like cipher suite negotiation are omitted, since there’s a hardcoded set of ciphers used). Finding SSL being run inside a PC from one software module to another is just weird.

A better reason is because your computer would do things to ensure nothing:

In order to prevent active attacks, device drivers are required to poll the underlying hardware every 30ms for digital outputs and every 150 ms for analog ones to ensure that everything appears kosher. This means that even with nothing else happening in the system, a mass of assorted drivers has to wake up thirty times a second just to ensure that… nothing continues to happen (commenting on this mechanism, Leo Laporte in his Security Now podcast with Steve Gibson calls Vista “an operating system that is insanely paranoid”).

Of course, they best blow is that all of these hard sweat work are somehow useless with the latest “invention”:

As a result, both HD-DVD and Blu-Ray content can now be decrypted and played without image downgrading or blocking by the OS, and unprotected content is already appearing in the usual locations like BitTorrent streams.The fact that the legally-purchased content wouldn’t play on a legally-purchased player because the content protection got in the way was the motivating factor for the crack. The time taken was about a week. As a result, all of the content-protection technology (at least for HD-DVDs and Blu-Ray discs) is rendered useless. All that remains is the burden to the consumer. It lasted all of one week.

And thanks to I’m-not-sure-who-to-thank-to, the good guys get the actual damage:

This was indirectly confirmed in April 2007 when the WinDVD player apparently had its keys revoked, requiring that users download and install, an, uh, “security update” to re-enable the DRM.

He demonstrates why Microsoft’s (and hence, Bill Gates’ and Windows Vista’s) current state has historical resemblance:

A historical feature of organisations like Beria’s NKVD (and by extension any kind of state enforcers in a totalitarian society) is that the lack of any fixed goals and limits on their behaviour, the kind that would be set by the laws of a democratic country, combined with the intense paranoia of the leadership, leads to a continual extension of the security apparatus and an ongoing escalation of repressiveness by the enforcers. The result is a driftnet approach to enforcement that ends up netting more innocent bystanders than anything else. The many examples given in the rest of this writeup are an indication that Windows is already well down this path.

Of course, there’s a “speculation” (which is amazingly quite accurate) of Microsoft’s business model of the future (or today):

Enter the subscription model for software. Instead of paying for something once and then falling off the radar as a revenue source for several years, subscription-based content and subscription-based software guarantee a continuous revenue stream for the vendor. If Microsoft controls the distribution channel for content (which is what Vista’s content protection is trying to achieve) then every time you view or listen to some content (no matter whose content), Microsoft gets paid for permitting that content to be played on their system.

This new revenue model extends beyond mere content playback and into SaaS, in a manner revealed by Microsoft’s patent application System and method for delivery of a modular operating system, the first portions of which we’re already seeing as Vista’s Windows Anytime Upgrade. This provides a scary look at Microsoft’s view of the future of computing. As the Groklaw analysis points out, “the patent is not interesting for its technical content — all the building blocks of the described system have been used for some time now — but for the glimpse it offers into the business model envisaged by the applicant”.

Ah, Microsoft… you could’ve been a great company. You really could still be, just look into your heart and see the real pure-hearted child inside you. 🙂

Disclaimer: This blog post is content protected, including its title and even date of posting. You should not read or provide any service using the contents of this blog post without compliant content-protection-enabled devices. Using a web browser than displays unencrypted view of this blog post is prohibited, and will be prosecuted to the greatest extent possible under the latest version of our law. Of course, this entire disclaimer is a big joke, as somebody will have cracked its content protection mechanism in a very short while… 😉

Important Security Update to Disclaimer: Seriously, the linked post is licensed under the Creative Commons Attribution 2.5 License. And this one is too. 🙂

Like this article? Please share this article with others:

Kita Butuh Musuh, Lho!

Sebelumnya saya sempat menulis mengenai I Love Satan.

Sekilas kata-kata tersebut memang sangat aneh, kontroversial, bahkan menjerumuskan… dan memang niat saya memberi kesan seperti itu. 😉

Mungkin ada yang masih bingung kenapa ada manusia yang berpikir seperti itu…

Untungnya, kebetulan ada sebuah artikel dari Mugi Subagyo tentang Seni Berpikir Terbalik: Kita Butuh Musuh (blogger). Cuplikannya:

Bagaimana bisa enak menyaksikan pertandingan sepak bola, jika kedua kesebelasan tersebut berteman, sehingga tidak ada keinginan untuk menciptakan sebuah gol yang dapat menaklukkan lawannya? Apa yang kita banggakan dari sebuah prestasi di sekolah misalnya, jika muridnya cuma satu orang? Bagaimana bisa menjadi yang tercepat, terbaik, terindah, jika tidak ada memiliki musuh sebagai pembanding?Jadi, mari kita ciptakan musuh kita (bukan cari musuh). Jika Anda pemeluk agama yang taat, setanlah musuh Anda.

Truly agree!

Saya belum pernah baca tulisan beliau sebelumnya, dan kita juga belum pernah ketemu, tapi entah kenapa Pak Mugi ini sepertinya bisa membaca pikiran saya… 🙂 (mungkin lebih baik dari orang yang sudah kenal saya, hihihi 🙂

Like this article? Please share this article with others:

Ubuntu Bug #1: Microsoft has a majority market share

I have just known this. It’s pretty weird that I have never visited this bug before. 😉

I thought this was a way for Ubuntu founder Mark Shuttleworth to have some fun.

It seems, it’s no fun at all:

Microsoft has a majority market share in the new desktop PC marketplace. This is a bug, which Ubuntu is designed to fix.

Non-free software is holding back innovation in the IT industry,
restricting access to IT to a small part of the world’s population and
limiting the ability of software developers to reach their full
potential, globally. This bug is widely evident in the PC industry.
Steps to repeat:
1. Visit a local PC store.
What happens:
2. Observe that a majority of PCs for sale have non-free software pre-installed.
3. Observe very few PCs with Ubuntu and free software pre-installed.
What should happen:
1. A majority of the PCs for sale should include only free software like Ubuntu.
2. Ubuntu should be marketed in a way such that its amazing features and benefits would be apparent and known by all.
3. The system shall become more and more user friendly as time passes.

Check the comments for more insights. 🙂 Some of them are funny, well… most of them try to be funny. 🙂

Like this article? Please share this article with others: