Mario Teguh Golden Ways Notes #1

Jadilah pribadi yg terlalu mulia untuk ditaruh di zona tidak nyaman (contoh: miskin, bodoh)

Jika Anda ingin menjadi pribadi yg menarik maka jadilah pribadi yg tertarik kepada org lain


Berdamailah dengan yg sudah terjadi, tugas kita adalah menjadikan besok tidak lebih buruk dari yang sudah terjadi


Untuk tau kita benar ato salah, cek dengan org lain, sehingga tidak ada over conception (apaan sih ini?)

Contoh: kamu bicara dgn org ndeso yg ga bisa baca tulis dgn bhs inggris, jd org itu ga bs ngerti apa yg kmu sampaikan

Hanya org2 yg direncanakan naik yg mendapat gangguan turun
Contoh: kmu naik pangkat jd manager, jd smakin tajir, tpi jadi hoby clubbing

Bukan kebahagiaan yg membuat qta bersyukur, tpi bersyukurlah yg membuat qta bahagia

Sukses bkn akhir dr perjalanan, tpi adalah proses dlm perjalanan (merasa bahagia)

Mensyukuri yg sudah ada sebagai syarat kepantasan utk kepangkatan yg blm qta miliki

………………………….. Phew!!

Selalu kaya ditampar ampe merah2 tiap dapet sinopsis Mario Teguh Golden Ways…

Special thanks buat Ratna yang udah setia ngingetin gw nonton ‘marteg’ (Mario Teguh) dan ngebikinin sinopsisnya karena gw selalu gak sempet nonton hix hix… 😉

Like this article? Please share this article with others:

A Glossy Song… "Good Times"

Found a sweet melancholic glossy song, while listening to Hard Rock 87.70 FM Bandung…

Good Times
Edie Brickell and the New Bohemians

You don’t even have to try,
it comes easy for you
The way you move is so appealing
it could make me cry
Go out driving with my friends
in Bobby’s big old beat-up car
I’m with a lot of people there,
I wonder where you are

Good times, bad times, gimme some of that
Good times, bad times, gimme some of that
Good times, bad times, gimme some of that

I don’t want to say goodbye,
don’t wanna walk you to the door
I’ve spent a little time with you,
I want a little more

Good times, bad times, gimme some of that
Good times, bad times, gimme some of that
Good times, bad times, gimme some of that

Good times, bad times, gimme some of that
Good times, bad times, gimme some of that
Good times, bad times, gimme some of that

Now I’ve got those good, good ,good times ???
Ain’t got those bad, bad, bad times ???
I’ve got those good, good, good ,good times ???

Source: http://www.songmeanings.net/songs/view/142052/

Like this article? Please share this article with others:

Pinjam Tangan Multifungsi: Gratis!!!

Baru baca sebagian buku “Kun Fayakun” karangan Ustadz Yusuf Mansur, gara2 dipinjami sebentar oleh bapak pemilik Warteg.

Ada satu bagian yang sangat menyentuh hati saya, di halaman 108.

Diceritakan bahwa kita tidak memiliki apa-apa. Mata bukan milik kita. Begitu pula tangan, hati, semua bagian tubuh dan juga harta yang kita miliki.

Oh, jadi sedih, kalo bibir pinjaman ini, mencium bibir lain yang kebetulan dipinjamkan ke seorang wanita, yang kebetulan wanita tersebut belum dihalalkan bagi saya. Sedih juga, kalo mata pinjaman ini, melihat hal-hal yang tidak dihalalkan bagi mata “saya”.

Jangan tanya apakah ini pengalaman pribadi, kalo Anda kebetulan wanita yang mempertimbangkan saya sebagai pasangan hidup, tentunya harus tau dong calonnya seperti apa? 😉

Pemilik barang-barang pinjaman ini yaitu Allah tentu saja berhak memberi peraturan barang2 pinjamannya mau diapain. Yang boleh, yang disarankan, dan yang dilarang.

Kemarin baru nginep di Hotel Horison Bandung berhubung ada acara di IT Telkom. Kalo misalnya di hotel itu sepreinya robek, misalnya, pastilah dicharge tambahan. Kalo misalnya TV-nya kita pecahin, tentunya kami disuruh ganti.

Ternyata berbeda dengan barang2 pinjaman di tubuh saya ini, belum pernah saya disuruh ngganti kalo misalnya penggunaannya nggak sesuai peraturan. Bahkan kalaupun mau kena “extra-charge,” caranya sederhana:

“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Maa’idah: 74]

Apalah artinya tubuh saya dibandingkan seprei, TV, atau barang2 hotel lainnya. Aku takut kalau2 HP-ku rusak, laptopku rusak, tapi astaghfirullah jarangnya aku berpikir saat merusakkan mataku, tanganku, dan barang2 lainnya yang cuma pinjam. Pinjam alias gratis, bukan sewa. Subhanallah.

Yang bikin lebih sedih lagi…

Berkata Nabi Musa AS:” Dosa apakah yang lebih besar daripada dosa wanita yang telah berzina dan membunuh anak dari hasil perzinahan tersebut, Ya Jibril???”. Jibril menjawab:” Seseorang yang meninggalkan Sholat dengan sengaja”.

Astaghfirullah, ternyata apa yang ku(tidak)lakukan selama ini lebih berat dosanya dibandingkan sebuah pekerjaan yang sangat keji yaitu berzina dan membunuh.

Ngomong begini bukan karena Ramadhan, bukan karena aku sok alim, justru karena jauh dari itu. Kalau udah alim mungkin bakal malah jarang ingat kesalahan2 diri sendiri, jadi aku nggak mengidamkan jadi “orang alim”. Semoga posting ini bisa jadi pengingat untuk diriku sendiri; kalo bisa berguna bagi yang lain tambah alhamdulillaah lagi. Amiin.

Like this article? Please share this article with others:

"I could've spent more time worshipping You…"

Ya Allah...

SacredLearning.org is an Islamic web site Parama Danoesubroto recently shared with me which, among other useful materials, contains general talks by Shaykh Husain Abdul Sattar (as freely downloadable audios).

Parama initially made me interested with a talk titled “Wisdom of Wealth” which is excellent.

I begin to listen to the other talks. Actually I dutifully enjoy his talks that my laptop is continuously downloading all of the rest of the talks (including the right-on-time Ramadan classroom) using my trusty DownThemAll. 😉

And then I struck gold, in Muraqabah – Step by Step Approach:

… Ya Allah, You made the night so short. If You’ve made it longer, I would’ve been able to spend more time worshipping You …

That passage, perhaps exclusively that passage, was so personally intense to me that I started to cry at that point. I rewind it, just to hear the Shaykh say it. And again. And again. And again.

It clicked. In Dedi’s words, I definitely ‘blinked…’

. . .

To make a long story short, it directly connects to what I felt in a couple of disastrous (but mysteriously uplifting!) events a few of years ago. Not many people will find that passage special, if at all. (Much like the words “Sabar dan Ikhlas, itu adalah Islam” in Ayat-ayat Cinta movie.)

How could a self-proclaimed secular guy like me would even think in the ways of “more time worshipping God?” Well a few years ago, it wasn’t my thinking. It was my feeling, and clearer than crystal at that. A glimpse of Allah would make me burst into tears instantly (that I was thinking it’d be easy for me to get a melancholic role in Hollywood.)

Let alone Allah, a tiny drop of tea or a single piece of rice, as sample reflections of Allah’s “nikmat” did literally make my heart tremble… almost uncontrollably.

Shaykh Husain also provided a very clear rationale (at least for me) –that I doubt any of my friends at that time actually understood how it felt when…

“…you get to that state; that perception and that attachment becomes more valuable than anything to you in the world… And when you do something that derails you from that, and you lose that, it would be so disgusting to you…”

To date, this is the best explanation I ever heard about what I felt…

…or is it?

Is it just my illusion of a simply psychiatric mental state? It would be much easier for me to think that way, but too many things are just “too right” (if there is that word.)

But even if things are too right, as I said I was (and OMG still am) highly secular, which means highly unlikely to have anything to do with, err…  muraqaba. Wouldn’t you think?

Hopefully soon things will unfold in the best way for me… Amin.

Like this article? Please share this article with others:

9 Most Important Quotes You Need to Know About Prophet Muhammad S.A.W.

Just read a very interesting article from Wid Brilliant about Prophet Muhammad. It’s so good and “BLINK!” me a lot so I just had to make a copy here…

Thanks a lot to Dedi Setiawan for introducing me the word “BLINK”, and Parama Danoesubroto for reminding me (again!) about this theme.

Of course *BIG* Thanks to the original writer(s)!

Humain Parfait, Muhammad SAW

What prominent people say about Rasullullah Muhammad S.A.W, PBUH [Peace Be Upon Him]

Allah_muhammad


Citra baik Muhammad mengalahkan ketenaran raja-raja. Nabi yang diutus Tuhannya ini melakukan pekerjaan sehari-hari. Beliau menyalakan api, menyapu, memerah susu kambing, dan menambal sendiri sepatu dan pakaiannya yang terbuat dari wol. Seakan menolak pencitraan dirinya sebagai seorang pertapa suci yang diagungkan, ia menjalani hidup seperti seorang bangsa Arab dan seorang prajurit – dengan sedikit makan. Dalam suatu acara yang hikmat, Beliau menjamu para tamunya dengan cara sederhana dan penuh keramahan. Namun dalam kehidupan pribadinya, minggu-minggu terlewatkan dengan serba kekurangan di dalam rumahnya. Beliau tidak mengenal anggur dalam kebiasaan hidupnya. Rasa laparnya cukup terpuaskan oleh sepotong roti: Beliau merasa amat bahagia dengan seteguk susu dan madu, sebab kurma dan air adalah menu sehari-harinya.

–[Edward Gibbon, The History of the Decline And Fall of The Roman Empire, Vol. VI, London: The Folio Society, p.264.]

Dia adalah kepala negara sekaligus pemimpin agama, dia adalah Kaisar dan Paus jadi satu. Tapi, dia adalah Paus tanpa kekuasaan kepausan, dan Kaisar tanpa pasukan kekaisaran, tanpa bala-tentara yang siap tempur, tanpa pengawal, tanpa istana, tanpa pemasukan yang tetap. Jika ada seorang manusia yang berhak untuk menyatakan bahwa ia memerintah atas perintah Ilahi, maka itu adalah Muhammad, karena ia memiliki seluruh kekuasaan tanpa perangkat dan pendukung yang dibutuhkan bagi sebuah kekuasaan seperti itu.-[Bosworth Smith, Mohammad and Mohammadanism, London , 1874, p. 92.]

Adalah tidak mungkin bagi seseorang yang mempelajari kehidupan dan karakter seorang Nabi besar dari bangsa Arab itu – yang mengetahui bagaimana ia mengajar dan menjalani hidup – hanya akan tiba pada sekedar rasa hormat saja atas kemuliaan Nabi yang menakjubkan ini, salah seorang utusan Tuhan yang teragung. Dan walaupun dalam karya-karya saya yang mungkin dikenal banyak orang, saya menulis banyak tentangnya tetap saja ketika saya membacanya berulang kali, rasa hormat, penghargaan dan takjub saya tak pernah ada habisnya bagi mahaguru dari bangsa Arab itu.–[Annie Besant, The Life and Teachings of Muhammad, Madras,1932, p.4.]

Saya ingin mengetahui tentang manusia paling berpengaruh dalam hati jutaan umat manusia… Saya semakin bertambah yakin bahkan kemenangan yang didapat oleh Islam pada masa-masa itu bukanlah dari ayunan pedang. Kemenangan itu buah dari kesederhanaan Nabi yang gigih, keikhlasan Nabi yang telah mencapai puncaknya, kehati-hatian terhadap semua amanat yang diembannya, pengabdian yang mendalam terhadap para sahabat dan pengikutnya, keberaniannya, ketidaktakutannya, keyakinan yang sempurna terhadap Tuhan dan misinya. Inilah semua dan bukanlah jalan pedang yang mengatasi semua halangan-halangan itu. Ketika saya menyelesaikan Bab ke-dua dari biografi sang Nabi, saya menyesal: sudah tidak ada lagi kehidupan agung lain yang bisa saya pelajari.–[Mahatma GandhiYoung India , 1922.]

Menurutku, Muhammad adalah seorang lelaki biasa. Dia tidak bisa membaca dan menulis. Dia buta huruf. Kita membicarakan masa 1.400 tahun yang lalu. Dimana seorang yang buta huruf membuat pernyataan-pernyataan menakjubkan, yang secara ilmiah luar biasa akurat. Saya secara pribadi tidak bisa melihat hal ini sebagai sebuah kebetulan belaka. Terlalu banyak akurasi yang dia berikan, seperti Dr. Moore, saya tidak punya keraguan dalam fikiran saya bahwa adalah wahyu Tuhan yang membimbing Muhammad dalam membuat pernyataan-pernyataan itu.– [Dr.TVN Persaud, Profesor Anatomi, Ahli Kesehatan & Penyakit Anak. Mempublikasikan lebih dari 181 tulisan ilmiah. Th.1991 menerima penghargaan tertinggi bidang Anatomi di Kanada.]

Bismillahirahmanirrahiim
Dari penelitian-penelitian saya dan apa yang telah saya pelajari dari konferensi ini, saya percaya bahwa segala yang telah ditulis di Qur’an 1.400 tahun yang lalu adalah kebenaran yang dapat dibuktikan dengan penelitian ilmiah. Karena Muhammad tidak dapat menulis dan membaca, Muhammad pastilah seorang utusan yang menyampaikan kebenaran yang diwahyukan kepadanya sebagai pencerahan dari yang Maha Pencipta. Sang pencipta ini pastilah Tuhan, atau Allah. Karena itu, saya rasa inilah waktunya saya mengucapkan “Laa ilaaha illallah, dan tidak ada Tuhan yang pantas disembah melainkan Allah, ‘Muhammad Rasool Allah’, Muhammad adalah utusan Allah …
–[Profesor Tagata Tagasone, Mantan Kepala Fakultas Anatomi dan Embriologi di Universitas Chiang Mai, Thailand.] Apabila tujuan yang luar biasa besar, dengan bekal memulai yang amat minim, dan hasil yang juga luar biasa besar, adalah tiga syarat untuk seseorang disebut jenius, siapa yang berani membandingkan manusia hebat mana pun dalam sejarah modern ini dengan Muhammad ? Orang-orang yang paling terkenal hanya menghasilkan senjata, hukum dan kekaisaran. Mereka menemukan tak lain hanya kekuatan material yang seringkali lenyap begitu saja di depan mata. Orang ini (Muhammad) tidak hanya mengendalikan pasukan, undang-undang, kerajaan-kerajaan, orang-orang dan dinasti, tetapi jutaan manusia di sepertiga dunia yg dihuni masa itu; dan lebih dari itu. Dia menggoyangkan altar-altar, dewa-dewa, agama-agama, ide-ide, kepercayaan- kepercayaan dan jiwa manusia…keuletannya untuk mencapai kemenangan, tekadnya… kesemuanya semata dicurahkan untuk satu gagasan mulia, dan sama sekali bukan untuk membangun sebuah kekaisaran. Doanya yang terus-menerus, wahyu yang dia peroleh dari Tuhan, kematiannya dan pencapaiannya setelah kematian, semuanya ini tidak lain membuktikan pendiriannya yang gigih, yang memberikannya kekuatan untuk menegakkan sebuah ajaran. Ajaran ini ada dua sisi : Keesaan Tuhan dan Tuhan sebagai dzat yang immaterial. Ajaran yang pertama manjelaskan tentang apa Tuhan itu, ajaran kedua menjelaskan tentang apa yg bukan Tuhan. Yang pertama menghancurkan tuhan-tuhan palsu melalui perlawanan, yang kedua menjelaskan tentang Tuhan melalui kata-kata.

Filosof, orator, rasul, pembuat undang-undang, pejuang, pencetus ide-ide, pelestari ajaran yang rasional dan keyakinan tanpa simbol-simbol, pendiri duapuluhtiga kerajaan dengan satu agama, itulah Muhammad. Dengan menggunakan standar manusiawi apa pun, kita boleh bertanya, adakah orang yang lebih hebat dari dia ?-[Alphonsso De Lamartine (1790-1869), Lamartine, Histoire de la Turquire, Paris , 1854, Vol. II, pp 276-277.]

Mecca_skyline_1
Muhammad yang dulunya seorang bocah dan pria muda yang gelisah telah menjadi Muhammad Sang Nabi. Berkat kepatutan pendekatan, baik secara pribadi, agama maupun sosial, pesannya disambut dengan penuh semangat oleh sekelompok kecil orang yang selanjutnya menjadi sahabat setia. Kelompok ini kemudian menjadi sebuah komunitas, komunitas agama. Di Madinah, Muhammad menemukan dirinya dalam situasi yang memungkinkan – bahkan mengharuskan dia melakukan perjuangan untuk memperoleh kekuasaan di daerah oase itu…
Lima tahun kemudian setelah peristiwa hijrah, kelompok tadi telah mentransformasikan dirinya menjadi sebuah negera yang dihormati oleh para tetangganya…

Sejarah, dan khususnya sejarah Islam, mengenal para tokoh pembaharu lainnya di bidang agama, yang memiliki posisi untuk memainkan peran politik. Namun sering mereka terbukti tak mampu beradaptasi pada bekerjanya kekuatan-kekuatan “political interplay” yang ada. Mereka telah gagal bertindak pada saat dan tempat yang diperlukan, mereka tidak tahu cara bagaimana “membaca” berbagai tujuan jangka panjang, dan juga tidak berhasil menjalankan kegiatan praktis yang terus-menerus dapat berubah, untuk memenuhi kebutuhan yang juga terus-menerus berubah sesuai kebutuhan pada saat itu juga. Terkadang para pemimpin agama itu pun harus bekerja sama dengan orang yang memiliki kepiawaian menyiasati – yang tinggi tingkat kesulitannya – dan yang mampu mewujudkan rencana-rencana. Tetapi Muhammad menemukan dalam dirinya semua hal itu: dia memiliki semua bekal yang dibutuhkan untuk memenuhi peran gandanya tersebut. Di Medina, sang penyeru kebenaran abadi tersebut telah muncul pula sebagai seorang politisi yang ulet dan handal. Mampu mengendalikan perasaannya dan tidak memperbolehkan perasaan tersebut terlihat kecuali pada waktunya yang tepat. Mampu menunggu sekali pun untuk waktu yang lama, dan bertindak cepat jika saat yang tepat datang… Dengan cara yang sama – sebagian besarnya – dia juga telah membuk tikan dirinya sebagai jendral piawai, yang mampu dalam merancang peperangan secara cerdik, dan mengambil langkah tepat yang diperlukan di setiap pertempuran.-[Maxime Rodinson, Muhammad, diterjemahkan dari bahasa Perancis oleh Anne Carter, London .] Allahu_akbar


Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada bangsa Romawi, Muhammad kepada seluruh dunia. Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Nabi I
brahim, Nabi Ismail, Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentosaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan persoalan tentang sifat tuhan bapa, tuhan anak dan roh kudus… Muhamad mengatakan, tidak ada tuhan selain Allah yang tidak berbapa, tidak beranak, and that Trinity has been deteriorated with misleading ideas.. .
Alikhlas_1
Muhammad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum muslimin dapat menguasai separoh bola bumi. Jiwa manusia yang mereka selamatkan, berhala-berhala yang mereka hancurkan. Dan tempat-tempat pemujaan yang mereka runtuhkan selama 15 tahun, jauh lebih banyak dibanding dengan yang pernah dilakukan para pengikut Musa dan Isa selama 15 tahun. Muhammad memang seorang manusia besar. Sekiranya revolusi yang dibangkitkan itu tidak dipersiapkan oleh keadaan, mungkin dia sudah dipandang sebagai dewa. Ketika dia muncul, bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam perang saudara
.-[Napoleon Bonaparte (Napoleon I), (1769-1821) :Tokoh penting Perancis, panglima perang kenamaan, pendiri imperium Perancis, banyak negeri yang telah ditaklukkan. Kata-kata Nalopeon pernah disitir oleh seorang penulis bernama Cherfils dalam bukunya berjudul Bonaparte et l’Islam

Setelah banyak mempelajari, menekuni dan mengkaji semua segi ajaran Islam, dan setelah membanding-bandingkan dengan agama lain, akhirnya Prof. Dinet memeluk Islam. Hingga akhir hayatnya ia tetap sebagai muslim yang baik. Setelah menunaikan ibadah haji, dia menulis buku khusus dengan cara yang sangat indah dan menarik : Indah susunan kalimatnya, jauh jangkauannya, kuat argumentasinya dan mudah dicerna karena gaya bahasanya yang sederhana. Dialah yang dengan tegas mengalamatkan kata-katanya kepada H.A.Lamens, pendeta Nasrani, pengarang, yang mana dalam semua karyanya mengenai Islam. Dan tidak pernah jemu menyerang Islam juga nabi yang membawa ajaran Islam. Kepada Lames itulah Dinet berkata :”Kami berada di suatu lembah, dan tuan berada di lembah yang lain”.Lebih jauh beliau mengatakan :”Kesalahan orang Eropa (barat) yang sangat fatal ialah, karena mereka mengkaji dan menganalisa kehidupan Muhammad dengan cara menurut tabiat orang barat, padahal Nabi Muhammad bukan orang barat. Lagi pula logika barat tidak mungkin mendatangkan kesimpulan yang benar jika digunakan untuk memahami sejarah kehidupan para Nabi & Rasul yg mana kesemuanya adalah orang Timur.

Prod.Dinet kemudian menyebut barisan nama kaum orientalis fanatik yang anti Islam, antara lain : H.A.Lamens, Dozzy, Noldeke, Goethe, Sprenger, Grimme, Snouck  Horgronye, dll. Setelah meneliti pendapat mereka, Prof.Dinet mengatakan :”Apabila kita perhatikan pendapat mereka, baik yang berkebangsaan Perancis, Inggris, Belanda, atau yang lainnya; maka kita temukan pendapat yang berlawanan antara yang satu dengan yang lain, hingga orang tidak dapat memilih mana yang benar, karena semuanya jauh menyimpang dari sumber-sumber riwayat yang benar”.

taken from:

http://labbaik.multiply.com/journal/ item/264? mark_read= labbaik:journal: 264

diketik ulang dari : “Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad SAW”, HMH.Al Hamid Al Husaini, Yayasan Al Hamidiy Jakarta, cetakan kelima, 1995, hal:936-953)

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 022/th.02/Rabi’ ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1427H/2006M

Like this article? Please share this article with others:

Top 9 Habits of Highly Successful Entrepreneurs

Princess Kirsi

Parama W. Danoesubroto, a friend of mine, recently shared a bit of his vast business-savviness. It’s great enough that I’d like to share it here, both with my future self and with you the cool person (yes! YOU) who read this blog. Extra-gladly he’s willing to license his ideas as Creative Commons (oh so geeky!).

So, from this point below it’ll be his words, not mine:

Here’s what I’ve learned if I wanted to keep on continuing to be an entrepreneur.

These are just my values that I keep for myself. This might not apply or be true to other people.

  1. Stay Positive. And keep positive people around you, stay away from people who is negative. Choose your surroundings wisely.
  2. Embrace Failure. Failure is the best lesson in life.
  3. Always Listen to what other people have to say. But of course you have to carefully judge if it applies to your situation or not.
  4. Live BELOW Your Means. If you make $10 dollars and you can live on $1: do that. Because you never know what the next quarter or the next month will bring. Have enough buffer so that even if your business goes up and down, your lifestyle is the same.
  5. Tell Other People About Your Goal and Aspiration. This is important, because once you tell people about what you want to be… and not ashamed about it. Its like promising to them that you’ll reach that goal–and that makes you motivated because you don’t want to break that promise. But you have to be careful here, because you have to have such an idealist mindset that you need to embrace temporary setbacks and failures.
  6. Success is NOT a Result. Although society perceive it that way.All we have to do is try our hardest, and keep on trying and trying, and when the time comes, God will give us the result.
  7. Have a Goal That’s High Enough That You’ll Never Reach Them. Because I see that if you have a low goal, the day that you reach them is the day of your decline. For example if your goal is to have a Ferrari, then when you have it… you wouldn’t have the same drive and motivation as when you didn’t have it.So we need to set ourself up so that we stay Zuhd. To have wealth but doesn’t feel that we have it, to have intellect but don’t feel that we have it, etc. To drive a Ferrari one day, and to drive a Metro Mini another day… our heart stays the same. No pride, no arrogance, no shame, no low self esteem.
  8. Delayed Gratification (editor’s note: Mr. Jaya Setiabudi also said this, a tip I remember very dearly). You don’t have to have the things you want now. You don’t have to upgrade your lifestyle as soon as you have money. Delayed gratification is actually a fuel to fuel our stamina. The more you wait for something, the more intense you feel about wanting it. You can then channel it to drive you forward.
  9. Be EGO LESS. You are never the most intellegent, the most wealthy, the most handsome person in the world. There is always someone better than you. Without ego, you can grow to be a better human being faster. Without ego, you can think objectively about many things in life or business, or etc. Without ego, you take criticism well and be able to improve yourself. People would then like you more because they have less pressure when they’re around you. And without ego, you enjoy life more because you got no pressure on yourself.(alias anti gengsi)I’d like to say that Social Status is a trapSocial Status is Prison

    You don’t want to be in a situation where you are expected by society to dress a certain way, drive a certain car, when in your heart you don’t want to.

    There is someone I know, that bought a luxury car
    .

    And then he starts feeling that his clothes are not up to par with his car. So he bought nicer clothes. And he bought nicer things.

    When his business went down, he can’t downgrade; cause……who want to drive a luxury car and work at a McDonald’s right?

    So he was feeling a high amount of pressure.

    So NEVER be in that positionJangan kaya OKB (orang kaya baru)

Like this article? Please share this article with others:

Organization-based Programming

Proposal: *

Organization-based programming = Organize agents, objects, and messages exchanged between them, to work on a goal or a process (i.e. “desired outcome”).

Inspiration:

Lemmings, DNA, construction sites, Impossible Creatures.

Definitions:

  • Agents are actors that have less predictable behavior.
  • Objects are actors than have predictive behavior.
  • Both agents and objects are actors.
  • Actors can send and receive messages.
  • Messages contain content and language. Message content, can be actors themselves (meaning code, not just data).
  • Note: No notion of “interpreters”. Interpreters are just strictly behaved objects that, given a message that is source code, executes the parts of the message on behalf of the message author, or itself (depending on privileges etc.).

Actor attributes:

  • Smartness: Smart (less predictable behavior) vs. Dumb (predictable behavior). Objects are strictly dumb actors.
  • Activeness: Active (continuously running) vs. Passive (runs when called by a thread scheduler).
  • Initiativeness: Initiative (does operations even without prior command) vs. Reactive (requires command).
  • Collaborativeness: Social (works with others) vs. Individual (does things internally)
  • Memory: Mindful (stores experience) vs. Forgetful (always have a blank state).

Example

Agent A is a view mediator. Given a message content that has data and view destination, the agent needs to modify the view so it will display data. For now, agent A only knows how to handle the DataGrid destination.

Then comes a message that specifies a ListBox destination. Agent A is “confused”, so it needs to learn how handle a ListBox destination, or “throw an Exception” (which means sending a message back to the caller, if known, or simply “yelling” or “complaining”), which may or may not force it to learn ListBox handling anyway.

Agent A starts its lifetime with a job that is handling a message of type array of specific type, and passes it to a specific view component. Over time, it evolves to be a smart agent, to be “mediator” in a higher sense, that can handle more varyings kinds of data, and more varying kinds of view destinations.However, basically, agent A is still a mediator (as its “DNA”).

Memory vs. State

In this scheme of organization, the traditional object-oriented concept of “state” is not recognized

What’s recognized is memory, which is an abstract concept of a collection of experiences. An experience is defined as a way to handle a particular message, and its outcome.

* This proposal may be considered hypothetic, fictive, ridiculous, or simply imaginary.

PS:

Possible additional attributes from MyPersonality.info Personality Tests:
There are 16 distinct personality types, each belonging to one of four temperaments as organized by David Keirsey.

Protectors (SJ)

Creators (SP)

Intellectuals (NT)

Visionaries (NF)

Preferences

Functions

 
Like this article? Please share this article with others:

Citibank Class Action Lawsuit, Bunga, Meterai, dan Tol

Baru-baru ini saya jadi tertarik mengikuti perkembangan tuntutan Class Action kepada Citibank yang diajukan oleh Bapak Jojo Rahardjo mengenai besar tagihan kartu kredit Citibank yang “nggak beres.”

Saya sendiri adalah pemegang kartu kredit BCA Card dan BCA VISA yang relatif puas dengan layanannya, yang alhamdulillaah belum pernah kena bunga kartu kredit (semoga nggak perlu dicoba).

Beberapa cuplikan masalahnya: (saya nggak me-rephrase karena takut salah tulis)

Intinya adalah tidak ada yang salah dengan formula perhitungan bunga setiap transaksi pada tagihan saya. Melalui telpon itu Pak Hari berjanji akan mem-fax penjelasan formula perhitungan bunga yang menurut saya tidak perlu di-fax, karena sudah dikirimkan melalui fax kepada saya sebelumnya dan sudah saya mengerti.

Namun sebagaimana yang saya tanyakan dalam 4 email terakhir saya adalah “mengapa saya dikenakan biaya pembayaran kartu dan meterai (3x Rp 5.000,- dan Rp 6.000) 2 (DUA) KALI DALAM SATU PENAGIHAN” ??? Silahkan lihat email-email yang saya kirimkan dan Citibank kirimkan ke saya.

Saya kira, pertanyaan saya cukup mudah dimengerti, kecuali jika pertanyaan itu dibaca tanpa mengikuti konteksnya. Jika pertanyaan saya terlalu sulit dimengerti oleh Citibank, mungkin pertanyaan di bawah ini yang sudah saya permudah bisa dimengerti:

Mengapa biaya pembayaran kartu (3 X Rp5.000) dan meterai (Rp6.000) yang sudah dikenakan kepada saya pada rincian transaksi, juga ditagih lagi di kolom “Bunga dan Biaya Administrasi dengan menambahkannya ke angka 188.106 sehingga menjadi 209.106” ?

Saya tebali tulisan tersebut karena di situlah letak inti permasalahannya, yang sepertinya pihak Citibank kurang teliti (atau pura-pura kurang teliti) melihatnya, seperti terlihat dari balasan e-mail dari Citibank sebelumnya: (iya, sebelumnya, karena setelah itu –at her time of writing– belum ada balasan lagi oleh Citibank)

Date: Fri, 2 Feb 2007 14:52:12 +0800 (SGT)
From: “Citibank Indonesia”
To: “Lisa XXXX” , “Lisa XXXX”
Subject: Re: Fwd: Re: contact us (KMM223329I32473L0KM)

Ibu Lisa XXXX yang terhormat,

Terima kasih telah menghubungi kami melalui e-mail.

Seuai dengan pertanyaan Ibu, kami sampaikan kembali sebagai beikut :
1. Setiap pembayaran lewat ATM BCA akan dikenakan biaya layanan sebesar
Rp 5.000,- . Biaya tersebut terlihat pada lembar tagihan bulan Oktober
2006 pada tanggal 18 September, 22 September dan 9 okrtober 2006
sehingga diperoleh nilai Rp 15.000,- (3 x Rp 5.000,-)

2. Bea meterai luanas sebesar Rp 6.000,- akan dikenakan untuk setiap
pembayaran kartu kredit dengan jumlah di atas Rp 1.000.000,-.

Demikian penjelasan kami. Apabila masih ada hal-hal yang ingin
ditanyakan, kami mohon agar Ibu dapat menghubungi pula Layanan 24Jam
Citiphone Banking kami di nomor 021-2529999 atau 69999 (melalui
ponsel, tanpa kode area dan berlaku nasional).

Atas perhatian dan kerja samanya, sekali lagi kami ucapkan terima
kasih.

Hormat kami,
Citibank Indonesia

Belum lagi, bayar kartu kredit dikenakan bunga!

Sedangkan Pembayaran atau penyetoran ke Citibank (yang seharusnya bukan transaksi atau bukan berhutang) juga dikenakan bunga. Demikian juga dengan Biaya Pembayarannya yang melalui ATM BCA sebesar Rp5.000. Sehingga ketika pemegang KK membayar sebesar Rp2.000.000 pada tanggal 18 September 2006, maka ia dikenakan beban Rp5.000 ditambah bunga dua komponen tersebut (Pembayaran dan Biaya Pembayarannya), yaitu Rp65.333 dan Rp163. Total dari dua bunga ini adalah Rp65.497 atau 3% dari Pembayaran yang Rp2.000.000 itu.

Pembebanan bunga terhadap Pembayaran ini amat menguntungkan Citibank, karena selain mendapatkan bunga dari Transaksi dan Pengambilan Tunai, ternyata Citibank juga bisa mendapatkan bunga dari setiap Pembayaran. Meski ini mungkin sudah dilakukan sejak lama dan menjadi soal yang “wajar”, namun pemegang KK merasa tertipu karena tidak ada pemberitahuan secara tertulis bahwa Pembayaran juga dikenakan bunga.

Berikut penjelasan yang diteruskan oleh BPSK:

Bambang Sumantri | Selasa, 19 Juni 2007

Masyarakat Konsumen Yth,

Sidang kasus Pak JOJO.R dan CITYBANK telah berlangsung dengan baik dan pak Jojo telah mendapatkan penjelasan tentang perhitungan bunga secara gamblang dan jelas yang ditayangkan lewat in Focus di depan majelis BPSK.

Ternyata pembayaran kepada City bank tidak dikenakan bunga, tetapi mengurangi bunga yang dibebankan pada pemegang KK di bulan berikutnya.

Penjelasan ini kami buat agar masyarakat pembaca Media Konsumen maklum adanya, mengingat telah banyak komentar yang masuk tentang kasus pak Jojo.

BPSK harus berlaku adil baik untuk Konsumen maupun Pelaku Usaha.

Demikian dan terima kasih atas perhatiannya

Pak Jojo sendiri menerima sebagai berikut: (sayangnya, saya sendiri masih kurang jelas bagaimana yang dimaksud dengan “penjelasan rinci tentang cara perhitungan bunga” terutama Citibank)

Beberapa catatan penting yang harus saya sampaikan kepada masyarakat konsumen KK adalah sebagai berikut.

– Proses gugatan melalui BPSK adalah dimulai dari pertengahan Maret 2007 hingga pertengahan bulan Juni ini, yang berarti memakan waktu kira-kira 3 bulan lamanya.

– Persidangan hanya berlangsung dari pukul 10:00 hingga 11:00.

– Citibank telah menjelaskan kepada saya mengenai perhitungan bunga tagihan saya bulan Oktober 2006 (hanya bulan itu) yang menurut saya sebelumnya tidak jelas dan merugikan saya. Penjelasan itu pada saat persidangan saya terima.

– Keluhan tentang kenyamanan konsumen sebagai masukan tambahan bagi pelaku usaha masih akan dibicarakan lagi di luar sidang sebagaimana disampaikan oleh anggota majelis BPSK di dalam sidang.

– Penjelasan rinci tentang cara perhitungan bunga memang sebuah soal yang Citibank atau penerbit KK pada umumnya hanya mau menjelaskan tidak secara terbuka atau hanya secara khusus dan hanya jika diminta oleh konsumennya. Cara perhitungan bunga itu memang rumit untuk dimengerti bagi saya yang awam dan mungkin juga bagi kebanyakan konsumen lainnya.

– Khusus mengenai cara perhitungan bunga, penerbit KK sudah seharusnya membuat atau mencantumkan penjelasan yang mudah dimengerti konsumen di dalam agreement ketika konsumen menerima KK dari sebuah penerbit KK.

– Saya masih tidak mengerti pada satu soal penting, yaitu mengapa saya tidak merasa puas atas kualitas pelayanan Citibank pada saat saya meminta penjelasan perhitungan bunga, termasuk ketika saya persoalkan di media. Bahkan soal ini tidak perlu ke BPSK jika Citibank tanggap dalam memuaskan konsumennya. Padahal itu bisa menjadi bagian dari proses edukasi kepada konsumen Citibank atau dalam kerangka untuk memenuhi hak konsumen atas informasi dan layanan sebagaimana di dalam UU Perlindungan Konsumen 8/1999:

• Pasal 4a: hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsurnsi barang dan/atau jasa.

• Pasal 4c: hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa.

• Pasal 4d: hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan / atau jasa yang digunakan.

• Pasal 4g: hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.

– Masyarakat konsumen perlu mendorong pemerintah dan penerbit KK untuk lebih memperhatikan dasar pertimbangan UU PK ayat d: yaitu untuk meningkatkan harkat dan martabat konsumen perlu meningkatkan kesadaran, pengetahuan, kepedulian, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi dirinya serta menumbuhkembangkan sikap pelaku usaha yang bertanggungjawab.

Nah, tambah keren lagi, materai pun jadi masalah:

Berdasarkan pada PPRI no 24/2000 dan SE Dirjen Pajak no 13/2001 itu, Pak Hagus berpendapat bahwa pemegang KK tidak diwajibkan untuk membayar bea meterai itu. Jika bukan pemegang KK yang diwajibkan untuk membayar bea meterai itu, maka tentu pembuat dokumen yang mendapat kewajiban itu. Oleh karena itu Pak Hagus mengajukan keberatan dan meminta pengembalian bea meterai itu yang sudah dikenakan sejak tahun 2000 itu. Keberatan itu diajukan dan dilakukan berulang-kali hingga membuat Pak Hagus kesal dan merasa amat tidak nyaman, meski pun akhirnya Citibank mulai mengembalikan sebagian kecil dari bea meterai yang telah ditagih Citibank pada periode bulan Juni 2005 hingga Oktober 2006. Itu pun Citibank tidak mengembalikan semua bea meterai yang sudah dibebankan kepada Pak Hagus. Bahkan Citibank telah secara sepihak memberikan laporan kepada Bank Indonesia, bahwa Pak Hagus memiliki tunggakan kepada Citibank sebesar sekian juta. Namun anehnya, Citibank tidak pernah menagih apalagi mengejar Pak Hagus untuk mendapatkan tunggakan itu.

Banyak ekses yang timbul atau terjadi dari proses pengajuan keberatan bea meterai yang dilakukan oleh Pak Hagus ini. Satu yang menonjol dan amat mengganggu rasa nyaman Pak Hagus adalah Citibank pernah menggunakan cara-cara yang menyinggung sara, yaitu Citibank pernah mempertanyakan apa agama Pak Hagus? Apakah Pak Hagus Muslim atau Nasrani? Rekaman pembicaraan itu masih disimpan oleh Pak Hagus. Karena Pak Hagus tidak menjawab pertanyaan Citibank itu, maka tidak diketahui apakah maksud dari pertanyaan itu. Apakah jika Pak Hagus menjawab bahwa ia menganut salah satu agama, itu akan mempengaruhi kualitas atau bentuk respon Citibank terhadap Pak Hagus? Meski didesak terus tentang maksud dari pertanyaan itu, Citibank hingga kini (pertemuan di Citibank Tower, 14 September) menolak menjawabnya. Cepat atau lambat, Pak Hagus akan memperkarakannya melalui jalur hukum.

Lebih kerennya lagi, ternyata Citibank sudah mau “mengakui kesalahannya” bahkan membayari alias mengembalikan “uang tilep” ini kepada salah satu penggugat yaitu Bapak Hagus:

Rekan2 Yth,saya ingin memberikan gambaran fakta dan bukti secara defakto bahwa Citibank selama beberapa bulan mengembalikan bea meterai(Koreksi Bea Meterai/KBM),denda(Late Charges reversal/LCR) dan bunga(Interest Adjustment Reversal/IA dan Finance Charges Reversal/FCR) yang timbul akibat komplain saya soal pengenaan meterai yang illegal,berikut ini lengkapnya,Kartu Visa:15/10/06 FCR 141.672, 14/9/06 FCR 396.934, 16/7/06 FCR 58.624 dan KBM 6.000, 14/5/06 FCR 53.169, 16/4/06 FCR 109.075 dan KBM 6.000, 14/3/06 FCR 316.852 dan KBM 36.000, 14/9/05 FCR 58.836 dan IAR 6.336, 14/7/05 FCR 159.655, 14/6/05 FCR 736.845,total reversal/pengembalian Rp 2.085.998,-. Kartu Master, 27/9/06 FCR 154.442 dan LCR 100.000, 27/8/06 FCR 197.861, 29/1/06 IAR 99.061, 27/9/05 FCR 282.398 dan LCR 50.000,total reversal/pengembalian Rp 883.762,-.Jadi total keseluruhan Reversal /Pnegembalian/Pengkreditan kartu Visa dan Master sebesar Rp 2.969.760,-.Artinya apa,ini berarti pengakuan secara defakto bahwa pengenaan bea meterai memang kewajiban Citibank dan bukan kewajiban pemegang kk.Sayangnya yang komplain dan keberatan atas bea meterai hanya saya seorang,sehingga Citibank lama2 mungkin sadar,kalau yang lain2nya ikut komplain dan keberatan,berapa banyak dana yang harus dikembalikan.Mari kita hitung,kalau nasabahnya 1.000.000 x Rp. 3.000.000,- berarti Rp 3.000.000.000.000,- / 3 Trilliun. Bayangkan rekan2 Rp 3 Trilliun lho uang yang harus dikembalikan citibank pada kita semua.Sayangnya hanya saya yang komplain dan keberatan sehingga hanya saya yang mendapatkan pengembalian Rp.3.000.000,-.Itupun belum pengembalian seluruhnya.Jadi mari kita ramai2 menuntut pengembalian bea meterai,kalau Citibank tidak mau,tutup aja kartu kreditnya ,pasti Citibank akan mengembalikan meterai seluruhnya ketimbang kehilangan pelanggan seluruhnya.Faktanya bea meterai adalah kewajiban citibank dan bukan kewajiban kita.Betuuuuuuuuuuuuuuulllll,hayooooooo ramai2 minta pengembalian meterai pada Citibank.

Salam, Hagus.

Tentu saja, hal ini bisa jadi “merugikan” Citibank nantinya:

Jojo Rahardjo | Rabu, 05 September 2007

Saya menghimbau pada para pemegang KK Citibank atau yang pernah menjadi pemegang KK Citibank, agar bergabung bersama saya dan Pak Hagus di sebuah milis yang ditujukan sebagai media komunikasi untuk melakukan class action.

Sebagaimana sudah dijelaskan berulang-ulang oleh Pak Hagus, Citibank telah mengembalikan biaya meterai yang dikenakan pada tagihan Pak Hagus setelah Pak Hagus mempertanyakannya. Anehnya, mengapa hanya Pak Hagus saja yang dikembalikan biaya meterainya? Mengapa tidak pemegang KK lainnya? Jika biaya meterai ini adalah sebuah modus pencurian yang dilakukan Citibank, maka jumlah yang dicuri dari pemegang KK tentu amat fantastis. Oleh karena itu diperlukan sebuah class action agar uang ini dikembalikan kepada pemilik yang sah.

Secara saya pengen daftar Citibank credit card, jadi ragu gara-gara ada tulisan ini.

Sekaligus, saya salut banget buat Pak Jojo Rahardjo beserta istri (Lisa), Pak Hagus, Bu Victoria Loedovica, Bu Kenti, dan rekan-rekan lain yang berjuang membela konsumen dan keadilan.

Informasi lebih lanjut bisa didapatkan di alamat-alamat berikut:

Like this article? Please share this article with others:

Innalillahi, former president Soeharto has passed away.

Soeharto is dead.

“Our former president HM Soeharto has passed away around 13:10 (1710 AEDT),” Dicky Sondani, the sub-district police chief, told reporters at the hospital.

Soeharto, who was among Asia’s most notorious strongmen of the
20th century, stepped down in 1998 amid deadly riots and mass pro-democracy protests that were sparked by the 1997 Asian economic crisis.
Opinion on his rule remains divided in Indonesia, which also enjoyed dramatic economic growth under his rule.

Slank – Bendera Setengah Tiang “… agar dia yang mati dan telah pergi merasa di-hor-ma-ti…” *in memoriam, Soeharto, Presiden Indonesia ke-2
~Rizky Prihanto

Sources:

Like this article? Please share this article with others:

Intuitively Probabilistic Programmer [wannabe]

thinking and drooling

You know what, I get the feeling that I’m somehow “destined” to be a “probabilistic guy”

(it has a spiritual touch)

A few minutes ago I was thinking that “IT” is simply about reducing ambiguity. which is basically increasing specificity. Problem is, the world is inherently uncertain.
And IT usually doesn’t cope well with this that changes a lot (hence the need for BPMs and such). IT is very good for things that are strictly in order, and certain, and known upfront.

The more we get to details, the more the uncertainty (and hence the ‘probability factor’) increases.

This is how the real world seems to be modeled, according to some scientists. On a macro level, the universe is calm and orderly (i.e. planets and such), and we have Newton law. On a very micro level though, beyond atoms, things get very ecstatic and we have quantum theory. Which is simply the technical term for ‘probabilistic uncertainty of matter or whatever’.

Then I was thinking, why am I so attached to this ‘probability’ thingy?

IT world currently don’t really have a “probabilistic” programming model. Ok, we have imperative. And it’d be a full chore to write probabilistic functions using if-then and loops and such. We have functional programming, which is rare-r and a bit more inline with ‘probabilistic’, but still, functional programming still expects a well-defined function to transform input to output.

What I think, is there should be a probabilistic programming model, which should perform well in some areas of the real world problems. I’m calling it… “Intuitive programming”. (“Intentional programming” is a term already snatched, and it’s different anyway)

What tools do we have to do probabilistic programming? I’m not sure. Never familiar with it.

My final bachelor paper was about Bayesian Theorem. See the match? I certainly didn’t “specify” Bayes as my goal when I was in college. It was just something that happens to be one of my only options when I needed to choose a final paper topic. (as a background, I never thought of probabilistic statistical theme either, I was just interested in folksonomy and del.icio.us at that time… I wonder what made me into Bayes) The result was very good for me, but I know behind the scenes that my paper wasn’t all that good. It’s lousy…

It’s probabilistic! “There’s an 60% chance that my paper was ‘good enough’ to deserve an A… and it did!” 😛

Too many choices. Too many probabilities. Has got to be intuitive.

It doesn’t mean it’s 60% good. It just means (assumptively) that even the paper was 90% bad, the probabilistic chance was good enough. Thanks Bayes! 😉

Weird…

Like this article? Please share this article with others: