Kita Butuh Musuh, Lho!

Sebelumnya saya sempat menulis mengenai I Love Satan.

Sekilas kata-kata tersebut memang sangat aneh, kontroversial, bahkan menjerumuskan… dan memang niat saya memberi kesan seperti itu. ๐Ÿ˜‰

Mungkin ada yang masih bingung kenapa ada manusia yang berpikir seperti itu…

Untungnya, kebetulan ada sebuah artikel dari Mugi Subagyo tentang Seni Berpikir Terbalik: Kita Butuh Musuh (blogger). Cuplikannya:

Bagaimana bisa enak menyaksikan pertandingan sepak bola, jika kedua kesebelasan tersebut berteman, sehingga tidak ada keinginan untuk menciptakan sebuah gol yang dapat menaklukkan lawannya? Apa yang kita banggakan dari sebuah prestasi di sekolah misalnya, jika muridnya cuma satu orang? Bagaimana bisa menjadi yang tercepat, terbaik, terindah, jika tidak ada memiliki musuh sebagai pembanding?Jadi, mari kita ciptakan musuh kita (bukan cari musuh). Jika Anda pemeluk agama yang taat, setanlah musuh Anda.

Truly agree!

Saya belum pernah baca tulisan beliau sebelumnya, dan kita juga belum pernah ketemu, tapi entah kenapa Pak Mugi ini sepertinya bisa membaca pikiran saya… ๐Ÿ™‚ (mungkin lebih baik dari orang yang sudah kenal saya, hihihi ๐Ÿ™‚

Like this article? Please share this article with others:

Ubuntu Bug #1: Microsoft has a majority market share

I have just known this. It’s pretty weird that I have never visited this bug before. ๐Ÿ˜‰

I thought this was a way for Ubuntu founder Mark Shuttleworth to have some fun.

It seems, it’s no fun at all:

Microsoft has a majority market share in the new desktop PC marketplace. This is a bug, which Ubuntu is designed to fix.

Non-free software is holding back innovation in the IT industry,
restricting access to IT to a small part of the world’s population and
limiting the ability of software developers to reach their full
potential, globally. This bug is widely evident in the PC industry.
Steps to repeat:
1. Visit a local PC store.
What happens:
2. Observe that a majority of PCs for sale have non-free software pre-installed.
3. Observe very few PCs with Ubuntu and free software pre-installed.
What should happen:
1. A majority of the PCs for sale should include only free software like Ubuntu.
2. Ubuntu should be marketed in a way such that its amazing features and benefits would be apparent and known by all.
3. The system shall become more and more user friendly as time passes.

Check the comments for more insights. ๐Ÿ™‚ Some of them are funny, well… most of them try to be funny. ๐Ÿ™‚

Like this article? Please share this article with others:

I Love Satan! ^)^

Menonton film The Secret secara “tidak sengaja” memberikan aku inspirasi baru dalam hidup. Keesokan harinya secara “tidak sengaja juga” mendengarkan berapa lagu terutama punya Samsons, semakin membuka pemahaman liarku tentang peran kejahatan, keburukan, dan keterpurukan dalam hidup manusia di dunia ini…

Lho, apa hubungannya?

Makanya, sabar dulu atuh…

Duplikasi warning sebelumnya: Posting ini mempunyai muatan filosofis yang lebih padat daripada posting harian gw. Dan warning yang lebih lagi adalah, gw jarang banget, ato bahkan mungkin belum pernah, menemukan orang yang bisa “mengepaskan” pemikiran gw dalam kerangka berpikir orang tersebut. Either you’ll be surprised, you’ll think I’m crazy, you’ll reject me outright because of my baseless interpretation, or you’ll simply have to break your old and dusty and inflexibly restrictive frame of reference first.

Saya sudah membahas tentang film (juga novel?) The Secret yang satu ini sebelumnya, Anda bisa baca kalau ingin tau. But it’s not the point.

Beberapa hari yang lalu, pemicunya adalah kontemplasi sporadis saya pada saat beralun diiringi oleh lagu Samsons bertajuk Kehadiranmu:

Kehadiranmu menggugah hidupku, ajarkan aku bijaksana, membaca lembaran hidupku di dunia.

Interpretasiku mengenai larik ini mulai dari kata kedua sampai akhir kalimat bisa dibilang literal, artinya nyaris dengan apa yang akan terpikir di benak setiap orang pada saat mendengarnya dibacakan oleh reporter Liputan 6.

Kenapa “membaca” lembaran hidup… bukan “menulis” atau “menorehkan” atau “melukis”? Karena dalam hidup kita ada yang dinamakan takdir, yang menurut Harun Yahya:

Takdir adalah pengetahuan sempurna yang dimiliki Allah tentang seluruh kejadian masa lalu atau masa depan. Kebanyakan orang mempertanyakan bagaimana Allah dapat mengetahui peristiwa yang belum terjadi, dan ini membuat mereka gagal memahami kebenaran takdir.

Tapi “kehadiranmu,” aku fokuskan pada suatu hal yang sama sekali berbeda, interpretasi yang kontradiktif dengan apa yang mungkin dibayangkan banyak orang, yaitu:

Satan. ๐Ÿ™‚

Keberadaanmu dalam kisahku, tunjukkan aku bahagia, dalam perjalanan hidup yang tersulit.

Banyak yang terpikir dalam benakku saat menyelami kalimat ini. Contoh cueknya adalah kesedihan kita akan terasa lebih ringan saat melihat orang lain yang mempunyai beban lebih berat… ๐Ÿ™‚

“Ternyata masih banyak orang yang lebih tidak beruntung daripada aku,” ucapannya biasanya seperti itu.

Efek emosionalnya akan lebih dahsyat lagi apabila kita menggunakan psikologi imajinasi untuk menarik perbandingan yang tak terkira. Sesial-sialnya kita, atau Anda, atau saya, sebagai manusia, tidak ada apa-apanya dibandingkan “keterkutukan tanpa batas.”

Secara matematis, Anda bisa bilang -10 adalah nilai yang negatif. Tapi angka -10 adalah 10x lipat lebih “baik” daripada -100. Angka -10 adalah 100x lipat lebih baik daripada -1000, dan seterusnya.

Dan jika Anda membandingkan dengan angka -Infinity atau angka negatif tak berhingga, maka angka -10 adalah angka yang luar biasa positifnya secara tak berbatas. ๐Ÿ™‚

Sempat mengingatkan saya pada… “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.” (QS. Ibrahim 34)

Secara matematis, hal ini sudah “terbukti” dengan aksiom seperti pada paragraf sebelumnya. (Ilustrasi: hitunglah jumlah bilangan bulat antara -10 dengan -Infinity.)

Dan hadirmu… menyempurnakan akhir pencarian hidupku.

Kalimat ini mengingatkan aku dengan sebuah “pemberat.” Di mana pemberat tersebut tidak mempunyai fungsi yang substansial selain untuk menjaga “keseimbangan.”

Saya pernah dengar sebuah pernyataan, “Sebuah sistem dapat bersifat konsisten, atau complete (lengkap), tapi tidak mungkin memiliki kedua tersebut sekaligus.” Pernyataan tersebut sangat sulit untuk dipahami tanpa ilustrasi atau visualisasi yang lebih konkret.

Secara konseptual, adanya “pemberat” ini memungkinkan kita melakukan hal-hal sambil mengevaluasi secara kontinu. Mirip seperti bumi yang memungkinkan kita untuk berpijak, berjalan, dan berlompatan tanpa takut bahwa bumi yang kita pijak akan tiba-tiba runtuh. Dengan adanya gravitasi, kita bisa mengukur berapa berat (er, massa…) tubuh kita hanya dengan menggunakan prinsip yang sangat sederhana. Mungkin Anda tidak pernah menyadari bahwa menimbang berat tubuh di luar angkasa, di lingkungan yang bebas gravitasi merupakan pekerjaan yang sangat rumit?

Kehangatan yang Kau cipta untukku memberikan aku cermin hati ‘tuk melihat seluruh putihnya kasihMu.*

Kalimat ini saya interpretasikan sedikit berbeda karena sebagian besar mengacu kepada Dzat Yang Maha Agung.

“Kehangatan” di sini dalam konteks perbandingan dengan hal yang “tidak hangat”. Kontras di sini adalah pusat perhatian, yang ditegaskan oleh kata yang saya tebali yaitu…

Cermin hati. Entah kenapa saya sangat memfavoritkan kata “cermin.” Cermin mempunyai arti filosofis yang sangat berarti bagi saya. Cermin adalah alat untuk melihat diri kita sendiri. Cermin selalu memberikan gambaran yang sebaliknya dengan keadaan sebenarnya.

Dan mungkin saja Anda lupa dengan pelajaran waktu kecil bahwa gambar di dunia ini diterima oleh retina mata dalam keadaan terbalik. Otak kitalah yang membalik gambar tersebut agar kita tidak melihat dunia yang atas-di-bawah.

Cermin bisa menipu, tapi cermin juga bisa menjadi alat yang sangat berguna untuk memperjelas persepsi kita. Dengan cermin, kita bisa melihat seluruh* sudut yang tidak bisa kita lihat tanpa cermin… seperti apa yang terjadi pada saat kita potong rambut di salon. Dengan cermin, kita bisa mengakali keterbatasan diri kita dalam menangkap sesuatu… seperti kaca spion samping.

Dengan cermin hati, kita selalu punya harapan dalam mengarungi samudera hidup yang gelap pekat dan nyaris tanpa kepastian… seperti halnya nahkoda kapal kuno yang menavigasi lautan dengan bantuan sextant.

Terima kasih karena telah memberiku cara baru untuk menilai sebuah perspektif… As my friend Ariel Meilij once said, it’s such an epiphany… ๐Ÿ™‚

I “Love”… Satan. ๐Ÿ™‚

Disclaimer tidak beraturan:

Perlu diperhatikan bahwa saya termasuk orang yang mempunyai pemikiran multi-manifestasi (apa ini? koq istilahnya radak katrox.) Maksudnya, saya akan memberikan evaluasi valid atas dua interpretasi yang seolah-olah berbeda bahkan bertolak belakang, karena menggunakan kerangka pikir yang secara organik berkembang untuk mengakomodasi
berbagai manifestasi dari interpretasi yang, pada dasarnya, bersumber dari hal yang sama.

Apa pun yang saya ekspresikan pada dasarnya hanyalah salah satu manifestasi dari interpretasi topik tertentu. Hal ini berarti tidak menutup kemungkinan bahwa saya bisa sependapat dengan interpretasi lain yang bagi orang lain mungkin bertolak belakang, sedangkan bagi saya sepenuhnya dapat diterima dan tidak bersifat kontradiktif.

Like this article? Please share this article with others:

Beyond The Secret: Regresi Sebuah Simfoni

Film The Secret mengisahkan bagaimana semua kejadian kepada diri kita adalah hasil dari buah pikiran kita sendiri.* Film ini menjabarkan dengan caranya sendiri, tentang hukum alam universal bahwa semua yang terjadi, adalah “proses perpindahan energi”, di mana pikiran yang positif akan menarik hal-hal yang positif. Dan pikiran buruk akan membawa hal-hal yang buruk pula.

Film ini bisa dibilang cukup mewabah. Di-review di Oprah, Larry King, dan di mana-mana termasuk di Indonesia saya kira bakal heboh juga. Saya kira, The Secret bukanlah yang pertama dan terakhir. The Secret adalah bagian dari regresi sebuah simfoni.

(Nggak nyambung? Ignore aja, trus lanjut…)

Sedikit warning, posting ini mempunyai muatan filosofis yang lebih padat daripada posting harian gw. Dan warning yang lebih lagi adalah, gw jarang banget, ato bahkan mungkin belum pernah, menemukan orang yang bisa “mengepaskan” pemikiran gw dalam kerangka berpikir orang tersebut. Either you’ll be surprised, you’ll think I’m crazy, you’ll reject me outright because of my baseless interpretation, or you’ll simply have to break your old and dusty and inflexible frame of reference first.

Bagi yang ingin tau apa sih The Secret itu, film ini mengisahkan tentang Law of Attraction atau Hukum Ketertarikan. Hukum ini lebih ke konsep metafisik dan bukan fisika ato biologi ato sains dalam pemahaman awam.

Sedikit disclaimer, saya sendiri kurang tahu mengapa disebut “hukum” dan bukan “teori”, dan siapa penemu Law of Attraction ini karena dasar literaturnya sudah ada sejak ribuan tahun bahkan bisa dibilang bersifat intuitif. Kalo Anda berpikir “attraction” di sini adalah ketertarikan antara lawan jenis, sayangnya yang dimaksud bukanlah seperti itu.

Gw terusin dikit yach intermezzonya… Hukum ketertarikan agak sulit dijelaskan meski konsepnya secara universal sudah banyak diterima. Positif menarik positif, negatif menarik negatif. Positif dan negatif di sini mengacu pada energi, tapi bukan hanya energi secara fisik (yang banyak orang sendiri tidak ‘nyambung’), tapi juga energi secara metafisik.

Hukum ketertarikan adalah konsep yang bisa dibilang elementary level atau pemahaman wajib bagi masyarakat kebatinan, atau spiritualitas, atau bahasa kerennya New Age.* Saya ngasih bintang di sini karena istilah yang digunakan sangat rancu dan ambigu dan mengacu pada hal yang secara spesifik bisa berbeda. Contohnya, kalau saya mengatakan ‘spiritual’ di sini adalah dalam konteks misalnya hubungan dengan dunia “lain” atau tak kasat mata (superficial?), dan bukan secara kaku mengacu kepada hubungan manusia dengan Tuhan yang manifestasinya dalam agama Islam adalah syariah.

Dalam lingkup metafisik, Anda mungkin bisa “menemukan” energi baru atau energi menurut Anda sendiri… “energi bahagia”, mungkin. Dalam hukum ketertarikan, memang ini yang dimaksud: Bila Anda bahagia, maka itu akan membuat “lingkungan” di sekitar Anda membantu Anda semakin bahagia (entah dengan cara apa.) Bila Anda dalam keadaan kesal, maka “lingkungan” di sekitar Anda akan “membantu” Anda untuk merasa semakin kesal.

Sedikit disclaimer lagi, kebanyakan pembicara akan menggunakan kata universe atau “semesta” sebagai sumber atau wadah dari semua energi ini. Saya kurang terlalu setuju dengan filosofi seperti ini oleh karena itu saya ganti istilahnya dengan “lingkungan”, yang menegaskan bahwa ruang lingkup dari lingkungan itu sifatnya bisa terbatas, dan bisa “apa saja” (lingkungan bisa jadi orang di sekitar Anda, bisa jadi hewan, tumbuhan, bahkan hantu, hiiiiiii……)

Disclaimer yang kedua adalah, sejalan dengan aqidah saya yaitu Islam, kekuasaan tertinggi di dunia dipegang oleh Tuhan yaitu Allah Yang Maha Kuasa sebagai sumber satu-satunya energi di dunia. Hal ini sekaligus sebagai opini “skeptisme” saya terhadap “ajaran” seperti The Secret yang entah kenapa saya juga nggak tahu, seolah2 memberi kesan bahwa “we have eternal life”, “we have unlimited potential”, dsb. (quote langsung tuh! bukan interpolasi) dalam konteks yang saya bilang menyimpang, jika dicermati baik-baik.

Saya bisa bilang seperti ini karena saya termasuk orang yang sempat dengar atau bahkan sempat serius mempelajari sebuah “bidang ilmu” yang bernama Neuro-Linguistic Programming. Sebuah studi yang sangat erat kaitannya dengan neurobiologi dan psikologi tapi sayangnya seorang psikolog yang pernah saya ajak konsultasi mengenai hal ini tidak dapat memberikan informasi yang saya inginkan. (yang membuat saya semakin “tidak percaya” akan abundance of knowledge di dunia ini, analoginya: there is so much air, but there’s only so little space in our lungs to contain negligible amounts of it compared to the entire volume of air available to us)

Menurut saya The Secret sangat kental muatan NLP-nya, baik dari segi content tekstual itu sendiri, visual, auditorial (cara penyampaian, intonasi, dan musik), dan efek spesial untuk mensimulasikan stimulan kinestetik (sentuhan fisik dan realisme).

Sedikit banyak hipnoterapi juga ada di sini. Mirip dengan teknik yang digunakan oleh penghipnotis atau audio meditasi untuk membantu si murid atau pasien.

Secara teknis, saya belum menganalisa tapi saya hanya bisa “mencurigai” (dalam konotasi positif, bukan negatif!) bahwa film ini menggunakan teknik untuk mengalihkan gelombang otak. Seperti yang mungkin Anda sudah ketahui, otak mempunyai gelombang dan otak, terutama alam bawah sadar atau subconscious, bekerja paling optimal untuk menerima informasi dalam kondisi theta. Mengingat banyak orang yang terlibat dalam pembuatan film ini adalah psikolog, filosof, ahli metafisika dan fisika quantum, wajar rasanya kalau saya mempunyai dugaan pengaplikasian teknologi seperti ini:

Theta rhythms are very strong in rodent hippocampi and entorhinal cortex during learning and memory retrieval, and are believed to be vital to the induction of long-term potentiation, a potential cellular mechanism of learning and memory.

Komunitas Tangan Di Atas yang mayoritas muslim di Surabaya, di mana ada teman saya juga, sempat mengadakan acara nonton bareng The Secret ini, dan secara umum tanggapannya adalah sangat bagus. Saya sangat setuju dengan pendapat seperti itu.

Dan sebagai seorang muslim, saya memberikan undangan terbuka bagi siapa pun, terutama yang mempunyai pendalaman agama Islam lebih, untuk mendiskusikan lebih lanjut mengenai elemen-elemen spesifik yang diangkat dalam film ini. Ini dikarenakan saya mempunyai beberapa pemikiran yang, senada dengan apa yang saya tulis di posting ini, tapi lebih fundamental, dan saya ingin mengetahui rekan-rekan lain yang memiliki pandangan berbeda daripada apa yang disampaikan secara tersurat oleh film ini.

Nonton (cuplikan) The Secret di YouTube:

Beberapa resource lain yang mungkin menarik:

Update: Thanks buat Yogie yang udah ngelink ke sini ๐Ÿ™‚

Like this article? Please share this article with others:

Everyday in IT People’s Daily Life

Oke deh, kali ini gw harus angkat topi…..

Artikel si JiE ini, yang terinspirasi dari artikel LifeReboot, memang The Hallelujah Article for Computer Geeks !!! ๐Ÿ™‚

Hurray!

Dari semuanya, yang paling ada di semua pekerjaan –dan nggak cuma IT, sebenernya– adalah: (dikutip dari JiE’s)

~ Reason #10 – Most Of Your Accomplishments Are Invisible
User / client gak akan bilang ke gw : โ€œJie, program kamu bagus banget.
Produktifitas kerja meningkat drastis !โ€ Yeah, I never hear that. Tapi
kalo ada error, client bakal mencaci maki seakan2 gw udah melanggar Ten
Commandments >_<

Satu yang cukup menarik: (dikutip dari LifeReboot’s)

Reason #2 – A Life Of Alienation

People only talk to the computer guy when they need him to fix
something. Also, when the computer guy approaches a user, theyโ€™ll hop
up out of their chair under the presumption that heโ€™s there to fix
something โ€” as if it would never be expected that he only wants to
strike up a conversation.

The fact that the computer guy never gets a momentโ€™s peace can also
practically force him to withdraw into solitude. His co-workers donโ€™t
understand that he doesnโ€™t want to hear about their computer problems
during his lunch hour โ€” he does that every other hour of the day.
Thatโ€™s why the computer guy eats lunch alone with his door closed, or
goes out to eat every day โ€” not because heโ€™s unfriendly, but because he
needs to escape the incessant interruptions.

It’s true… but it’s workaround-able.

Khusus yang satu itu, it takes effort to “solve” that problem.

Bekerja di bidang non-IT, yang lebih socializable (ujar seorang direktur perusahaan shipping ternama yang pernah saya temui), memang akan membantu banyak. But within ourself… is the most important.

Lingkungan memang banyak mempengaruhi kita. Entah itu positif atau negatif. Justru itulah kemampuan kita yang sebenarnya diuji.

Bisakah kita berada di lingkungan yang negatif, tapi malah menjadi positif?

Dan lebih lagi, bisakah kita, dalam lingkungan yang negatif, menjadi bukan hanya positif, tapi serta merta mengubah lingkungan tersebut menjadi positif juga?!

That’s what I call a real day in everyday people’s life.

Update: Mengubah lingkungan menjadi positif? Kenapa tidak! Baca posting saya besok… tentang The Secret movie.

Update 2: Artikel Irvan Tambunan tentang IT di Amerika ini sangat menarik. ๐Ÿ˜‰

Like this article? Please share this article with others:

Uncensored: My Personal Amazon.com Affiliate Report

It’s not so bad this month, I guess ๐Ÿ™‚

(I really hope Amazon has no forbidding policy in disclosing earnings to the public.)

I guess I should work harder ๐Ÿ™‚ $14 just in 17 days? Simply by posting Amazon links on a blog? Life is so easy. ๐Ÿ™‚

I think one day I can really achieve financial freedom “without working.” ๐Ÿ™‚ Amiiiiiiennn.

Note: To give some perspective, most Indonesians working full-time get an average salary of 500-800 (US$60-90) thousand rupiahs per month. Skillful diplomas and bachelors may get up to 2-4 millions a month (US$250-450). Anything beyond that is definitely considered above the riches. That should give you a reason why $14 for half a month is a wonder considering the [minimal] amount of work needed. ๐Ÿ™‚

Update: Bagus sekali tulisan dewayudhi ini: Hilangkan stress dengan ngeblogs ๐Ÿ™‚ Apalagi kalo blogsnya berduit (tapi jangan dijadikan motivasi utama… malah bisa cepet down!)

Like this article? Please share this article with others:

Efek Mi Instan bagi Kesehatan

Mi instan yang sudah dikenal masyarakat dengan sebutan indomie (bukan nama produk, tapi genre produk) tentu saja mempunyai efek bagi kesehatan.

Yah sebenarnya semua produk pasti punya efek samping tapi indomie ini bisa dibilang paling rentan terhadap gosip. Nah, biar gak bingung, kita langsung selidiki saja. Yuk!

Artikel dari Info-Sehat mempunyai informasi tentang kandungan nutrisi dari mi instan:

Mi instan belum dapat dianggap sebagai makanan penuh (wholesome food) karena belum mencukupi kebutuhan gizi yang seimbang bagi tubuh. Mi yang terbuat dari terigu mengandung karbohidrat dalam jumlah besar, tetapi kandungan protein, vitamin, dan mineralnya hanya sedikit. Pemenuhan kebutuhan gizi mi instan dapat diperoleh jika ada penambahan sayuran dan sumber protein. Jenis sayuran yang dapat ditambahkan adalah wortel, sawi, tomat, kol, atau tauge. Sumber proteinnya dapat berupa telur, daging, ikan, tempe, atau tahu.Satu takaran saji mi instan yang berjumlah 80 gram dapat menyumbangkan energi sebesar 400 kkal, yaitu sekitar 20% dari total kebutuhan energi harian (2.000 kkal). Energi yang disumbangkan dari minyak berjumlah sekitar 170-200 kkal. Hal lain yang kurang disadari adalah kandungan minyak dalam mi instan yang dapat mencapai 30% dari bobot kering. Hal tersebut perlu diwaspadai bagi penderita obesitas atau mereka yang sedang menjalani program penurunan berat badan.

Nah loo… ternyata mi instan bukan cuma kandungan nutrisinya yang kurang, tapi juga bisa merugikan bagi mereka2 yang, uhm… gendut kali yeee…

Informasi selanjutnya juga memberikan peringatan bagi mereka yang menderita hipertensi, maag, dan autisme:

Kelemahan dari konsumsi mi instan adalah kandungan natriumnya yang tinggi. Natrium yang terkandung dalam mi instan berasal dari garam (NaCl) dan bahan pengembangnya. Bahan pengembang yang umum digunakan adalah natrium tripolifosfat, mencapai 1% dari bobot total mi instan per takaran saji. Natrium memiliki efek yang kurang menguntungkan bagi penderita maag dan hipertensi. Bagi penderita maag, kandungan natrium yang tinggi akan menetralkan lambung, sehingga lambung akan mensekresi asam yang lebih banyak untuk mencerna makanan. Keadaan asam lambung yang tinggi akan berakibat pada pengikisan dinding lambung dan menyebabkan rasa perih. Sedangkan bagi penderita hipertensi, natrium akan meningkatkan tekanan darah karena ketidakseimbangan antara natrium dan kalium (Na dan K) di dalam darah dan jaringan.

Kelemahan lain mi instan adalah tidak dapat dikonsumsi oleh penderita autisme. Hal tersebut disebabkan karena mi instan mengandung gluten, substansi yang tidak boleh dikonsumsi oleh penderita autisme.

Artikel Agus Rakasiwi dari Pikiran Rakyat menambahkan bahwa mi instan membuat kita lebih cepat lapar daripada makan nasi:

Namun, sifat karbohidrat dalam mi berbeda dengan sifat yang terkandung di dalam nasi. Sebagian karbohidrat dalam nasi merupakan karbohidrat kompleks yang memberi efek rasa kenyang lebih lama. Sedangkan karbohidrat dalam mi instan sifatnya lebih sederhana sehingga mudah diserap. Akibatnya, mi instan memberi efek lapar lebih cepat dibanding nasi.

Dan untuk makan mi instan “dengan baik,” sebaiknya diberi lauk-pauk yang lain terutama sayuran yang berserat:

Namun, untuk memenuhi kebutuhan gizi dalam tubuh, satu bungkus mi belumlah cukup. Jika melihat iklan di layar televisi, cara makan mi yang baik adalah dengan menambah menu yang berasal dari bahan dasar hewani dan sayur-sayuran berserat.

Iklan mi di layar kaca menampilkan kebiasaan orang makan mi instan dengan tambahan menu seperti ayam, ikan, telur, kangkung, wortel, dan kapri. Pada bungkus mi pun terdapat gambar penyajian mi dengan menu tadi. Lalu apakah ini sekadar menarik perhatian ? Tentu saja tidak.

Bahan dasar hewani menyediakan sumber protein, sedangkan sayur-sayuran berserat dapat menambah vitamin. Selain itu, sayuran berserat berperan pula untuk menetralisasi kandungan lemak.

Menurut seorang ahli gizi klinik, Juniarta Alidjaja, orang yang kebanyakan makan mi instan tanpa diimbangi makanan berserat berpotensi mengalami gangguan kesehatan. Hal ini karena mi mengandung karbohidrat sederhana, lemak, dan kadar natrium tinggi. Misalnya obesitas, kenaikan kadar gula darah, kenaikan tensi tubuh dan lain-lain.

Oh iya, dulu pernah ada isu lilin di mi instan. Ternyata itu tidak benar:

Mengenai isu lilin pada mi instan, Badan POM mengatakan tidak menemukan adanya bahan tersebut. Mengenai penggunaan lilin ini pun dibantah oleh salah satu produsen mi instan di Indonesia, PT Indofood. “Geletinasasi pada mi disebabkan mi dibuat dengan pengukusan dan penggorengan. Jadi, isu lilin kan isu lama yang tidak benar,” kata Siegfried, Public Relation PT Indofood cabang Jawa Barat.

Sanggahan dari Billy N. ini membantah isu yang pernah dimuat di harian Pikiran Rakyat:

Menanggapi artikel yang ditulis oleh Bpk.Agus Rakasiwi, โ€˜Hindari Makan Mi Instan Setiap Hariโ€™ di โ€˜PRโ€™ hari Kamis, 2 November 2006 halaman 21 (โ€™Kampusโ€™). Ada beberapa kesalahan yang fatal dimuat di artikel tersebut yang dibaca oleh sangat banyak orang.

Saya tahu kalau artikel tersebut bertujuan baik, namun banyak isi artikel tersebut yang dikutip dari sumber-sumber yang tidak jelas, termasuk e-mail yang di-forward dari milis ke milis yang isinya sebagian besar adalah bohong & penulisnya tidak jelas (tergolong โ€™spamโ€™), misalnya soal isu mi instan yang dilapisi lilin, padahal setahu saya, itu sama sekali tidak benar.

Kalau betul begitu, maka di air rebusan mi instan ketika dimasak akan โ€˜mengapungโ€™ lilin cair. Juga, di daftar komposisi mi tidak dicantumkan apapun yang berkaitan dengan lilin.

Terlepas dari segi kesehatannya, mi instan sendiri sering menimbulkan cerita yang unik dan menarik bahkan tragis, misalnya gontok-gontokan gara-gara mi instan:

Ketua Kloter 31 SOC menceritakan pengalamannya. Saat mengambil jatah mi instan bagi kloter 31, dia melihat jemaah haji saling berebut. Lebih parah lagi, beberapa jemaah cekcok mulut dan adu fisik untuk mendapatkan mi instan. โ€Saya membayangkan risiko murka Tuhan yang melihat hamba-Nya berebut mi instan di tanah haram dan mustajab di Arafah,โ€ ujarnya.

Suasana tegang masih terus berlanjut. Saat itu, rombongan penulis sedang tafakur bersama untuk memanjatkan doa kepada Allah di tempat mustajab ini. Tak jauh dari tempat itu ada kelompok jemaah haji tengah bagi-bagi mi instan, dan ternyata ada yang tidak kebagian.

Ketua rombongannya mengumumkan, siapa yang dapat jatah double harap mengembalikannya. Dosa bagi siapa saja yang mengambil jatah orang lain. Suasana seperti ini terus berlanjut hingga rebutan air panas untuk merebus mi instan.

Sebagai pelengkap dan penutup, mari kita simak cerita lucu ini dari duy’s blog ๐Ÿ™‚

Tapi semuanya itu tidak sedahsyat kejadian di kedai indomie ketika beberapa orang teman gue nongkrong di kedai kopi kecil di Lhok Bubon, Samatiga, Aceh Barat. Seorang ibu-ibu paruh baya yang baik hati tampak siap sedia menyambut kedatangan mereka dan mungkin terkejut juga karena jarang kedatangan sebegitu banyak tamu. Sebenarnya tidak banyak sih, hanya sekitar 5 orang.Pertama datanglah si Rudy dan Yuda. Rudy bertanya sama Yuda, โ€˜Mau indomie?โ€™. Setelah Yuda mengiyakan, Rudy memesanlah kepada si Ibu Kedai, โ€˜Indomie-nya dua ya bu.โ€™ Lalu si Ibu bertanya lagi, โ€˜Ini indomie pakai mangkuk atau pakai piring?โ€™ Bingunglah mereka. Apa bedanya ya? Si ibu pun tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata yang tepat. Akhirnya dengan menebak-nebak asal mereka pun memilih memakai mangkuk.

Akhirnya sang indomie datang. Yak betul sih 2, tapi ternyata 2 indomie untuk satu orang. Jadi total ada 4 indomie termasak. Walau dengan berbengong-bengong hati mereka tetep makan Indomie itu. Setelah melihat kanan kiri, mereka bisa sedikit menyimpulkan bahwa kalau indomie pakai mangkuk itu artinya indomie yang dimasak biasa. Sedangkan kalau pakai piring artinya indomie itu akan dimasak ulang dengan menggunakan bumbu-bumbu khas Aceh.

Lalu datanglah satu orang teman lagi, Alol kalau nggak salah. Alol melihat ada banyak indomie (dan setelah diceritakan perbedaan antara mangkuk dan piring) memutuskan untuk ikut makan mie jadi dia minta piring kosong aja satu. โ€˜Bu, bisa minta piring kosong?โ€™ Tak dinyana si Ibu berkata, โ€˜Tidak ada piring disini, kami makan pakai mangkuk. Kami kan pengungsi jadi tidak punya piringโ€™. Lho?? Padahal didekat situ jelas-jelas terlihat ada piring dan si Ibu pun kan sebelumnya menawarkan pakai piring?

Lalu datang lagi si Rubby. Dia pesan indomie pakai telor. Asumsinya, jika indomie pakai telor, maka telor akan dimasak. Tapi ternyata salah. Indomie datang lengkap dengan telor. Telor bulat. Rubby berpikir, โ€˜Oh telornya direbusโ€™. Dengan asyiknya dia memecah telor itu dan PLUK. Telornya tumpah. Ternyata telurnya masih mentah sodara-sodara. Ketika ditanyakan kembali ke si Ibu, beliau hanya menjawab manis yang kira-kira terjemahannya begini, โ€˜Lho, kan tadi katanya indomie pakai telor, kamu nggak bilang telornya harus matang kan?โ€™

Like this article? Please share this article with others:

Breaking News! Me Near-Dead Experience

A Near-Death Experience (NDE), according to Wikipedia, “is an experience reported by a person who nearly died, or who experienced clinical death and then revived. Some people argue it can be explained by hallucinations produced by the brain as it loses adequate blood supply and nutrients, while others state that such an explanation cannot account for all the evidence.”

Unfortunately for you, what I just had last night was not a near-death experience at all. I would summarize it as Almost-Dead-Experience or, more verbosely, I-Could-Have-Been-Dead-By-Now-Experience.

The culprit, is a (slightly?) peeled off cord:

It belongs to a rice cooker. Apparently some “mouse” (rats!) ate a part of it for whatever reason. And it gave me a 220 Volts electric shock for a few seconds when I tried to pull off the plug.

As result, I got a bit “unstable” for a few minutes. Swearing. Texted someone. Then proceeded to destroy the whole damn thing out of anger:

I wasn’t sure if I was gonna live longer. Nobody was home, so I dragged myself to the nearest hospital:

“Luckily,” the doctor said I was generally alright. The whole process including the medicine (Alvita) costed me 20,000 rupiahs (about US$ 3.00). Such cheaply priced is human life. *sigh* ๐Ÿ™

Talk to the hand! Below is the very first victimized part of my body, it looks just fine, doesn’t it? ๐Ÿ˜‰

As you can see, as of now, my family is officialy rice-cooker-less. Any attempts to donate a replacement rice cooker (with rat-biting-resistant cord!) would be highly appreciated. (Disclaimer: I’m perfectly aware that there are thousands, if not millions, of other people out there who need more stuff than simply a rice cooker.)

One thing that I realized, in addition to the obvious awareness of the dangers of household appliances and its use (and misuse, abuse, and need of continuous maintenance and supervision), is how useless a friend can be in that situation. (and the more useful one would be: your own life.)

This is especially pronounced since, as I stated before, I texted a friend, and only that person, immediately after the incident, before I destroyed the appliance or went to the hospital. (By this morning, the only person who knows about my incident is only that person, and the second ones would be readers of this blog.) That person took time long enough to respond, that by the time I received the reply, I already managed to: destroy the appliance into pieces, get dressed and went to the hospital, talk to the hospital’s receptionist, register as a new patient and lurk in the hospital’s waiting room.

What’s even more wonderful in the most ironical sense, is that that person also cared enough to give a definitely-useful-advice along the lines of “hope you’re fine.” I just want to let you know that in such situations, a “hope” is practically less effective than a hard advice: Had that person gave a quick few points of, for example, this Wikipedia page, I’d definitely be much, much more grateful.

Note: I can imagine that one of the people I love would be so glad to know that I had an accident. Unfortunately for her, I didn’t die and I’m not dead yet (at the time of this writing, at least), so she’ll have to do even more praying.

Closing Note: Breathing is one most important thing to give attention to when an electric shock happens, and Trizle’s business journal recently published a really cool article on How to Breathe Smarter! ๐Ÿ˜‰

Like this article? Please share this article with others:

Tampilan aka Screenshot Ubuntu (Sistem Operasi Gratis berbasis Linux)

Sebelumnya saya sempat membahas tentang Ubuntu, kali ini saya akan kasih tau tampilan Ubuntu tuh kayak apa sih?!?!

Apakah modelnya kayak MS-DOS gituh?? (apaan tuh MS-DOS??!?!?)

Bagus mana sich tampilannya ama Windows 98? Ama Windows XP? Ato Vista?

Saya nggak akan komentar tapi Anda mulai saja menilai sendiri, OK!?

Ubuntu screenshot Ubuntu screenshot Linux gratis
Ubuntu screenshot Linux gratis Ubuntu screenshot Linux gratis
Ubuntu screenshot Linux gratis Ubuntu screenshot Linux gratis
Ubuntu screenshot Linux gratis
Ubuntu screenshot Linux gratis Ubuntu screenshot Linux gratis
Ubuntu screenshot Linux gratis Ubuntu screenshot Linux gratis

Gimana, PUAS … PUAS … !??!! Kalo kurang puas silakan cari di Flickr ato di Google Images.

Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada Anda yang ingin mencoba Ubuntu/Linux adalah: Linux bukanlah Windows.

Sederhananya seperti itu, tapi kalo diberi penjelasan bisa panjang lebar. “Bukan” bisa berarti lebih baik, bisa juga “lebih buruk”, bisa juga sekedar “berbeda.”

Contoh sederhananya, jika Anda terbiasa menggunakan sistem operasi berusia nyaris 10 tahun seperti Windows 98, saya akan sangat menyarankan Anda untuk meninggalkan kebiasaan seperti itu.

Mengapa? Sistem operasi Ubuntu Linux versi baru dirilis setiap 6 (enam) bulan sekali, jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata keluaran Windows (misalnya). Apabila Anda sudah menggunakan Linux sejak dulu, Anda boleh-boleh saja tetap menggunakan versi Linux yang Andai pakai sekarang jika tidak ada masalah.

Namun jika Anda baru akan mencoba Linux, disarankan menggunakan Linux versi terbaru, misalnya Ubuntu 7.04 (saat penulisan artikel ini). Ubuntu versi terbaru mempunyai dukungan hardware yang lebih baik dan koleksi aplikasi yang lebih bagus daripada versi-versi sebelumnya.

UPDATE: Kalau Anda kesulitan download Ubuntu langsung dari situsnya, Anda bisa juga minta dikirimin CD-nya secara gratis. Kalau nggak berhasil juga (ato nggak sabaran), silakan pesan CD/DVD Ubuntu lengkap dari komunitas distributor Ubuntu yang tersebar di seluruh Indonesia (cuma kena biaya ongkir, burning media, ama sedikit ongkos lelah.)

Like this article? Please share this article with others: