Beyond The Secret: Regresi Sebuah Simfoni

Film The Secret mengisahkan bagaimana semua kejadian kepada diri kita adalah hasil dari buah pikiran kita sendiri.* Film ini menjabarkan dengan caranya sendiri, tentang hukum alam universal bahwa semua yang terjadi, adalah “proses perpindahan energi”, di mana pikiran yang positif akan menarik hal-hal yang positif. Dan pikiran buruk akan membawa hal-hal yang buruk pula.

Film ini bisa dibilang cukup mewabah. Di-review di Oprah, Larry King, dan di mana-mana termasuk di Indonesia saya kira bakal heboh juga. Saya kira, The Secret bukanlah yang pertama dan terakhir. The Secret adalah bagian dari regresi sebuah simfoni.

(Nggak nyambung? Ignore aja, trus lanjut…)

Sedikit warning, posting ini mempunyai muatan filosofis yang lebih padat daripada posting harian gw. Dan warning yang lebih lagi adalah, gw jarang banget, ato bahkan mungkin belum pernah, menemukan orang yang bisa “mengepaskan” pemikiran gw dalam kerangka berpikir orang tersebut. Either you’ll be surprised, you’ll think I’m crazy, you’ll reject me outright because of my baseless interpretation, or you’ll simply have to break your old and dusty and inflexible frame of reference first.

Bagi yang ingin tau apa sih The Secret itu, film ini mengisahkan tentang Law of Attraction atau Hukum Ketertarikan. Hukum ini lebih ke konsep metafisik dan bukan fisika ato biologi ato sains dalam pemahaman awam.

Sedikit disclaimer, saya sendiri kurang tahu mengapa disebut “hukum” dan bukan “teori”, dan siapa penemu Law of Attraction ini karena dasar literaturnya sudah ada sejak ribuan tahun bahkan bisa dibilang bersifat intuitif. Kalo Anda berpikir “attraction” di sini adalah ketertarikan antara lawan jenis, sayangnya yang dimaksud bukanlah seperti itu.

Gw terusin dikit yach intermezzonya… Hukum ketertarikan agak sulit dijelaskan meski konsepnya secara universal sudah banyak diterima. Positif menarik positif, negatif menarik negatif. Positif dan negatif di sini mengacu pada energi, tapi bukan hanya energi secara fisik (yang banyak orang sendiri tidak ‘nyambung’), tapi juga energi secara metafisik.

Hukum ketertarikan adalah konsep yang bisa dibilang elementary level atau pemahaman wajib bagi masyarakat kebatinan, atau spiritualitas, atau bahasa kerennya New Age.* Saya ngasih bintang di sini karena istilah yang digunakan sangat rancu dan ambigu dan mengacu pada hal yang secara spesifik bisa berbeda. Contohnya, kalau saya mengatakan ‘spiritual’ di sini adalah dalam konteks misalnya hubungan dengan dunia “lain” atau tak kasat mata (superficial?), dan bukan secara kaku mengacu kepada hubungan manusia dengan Tuhan yang manifestasinya dalam agama Islam adalah syariah.

Dalam lingkup metafisik, Anda mungkin bisa “menemukan” energi baru atau energi menurut Anda sendiri… “energi bahagia”, mungkin. Dalam hukum ketertarikan, memang ini yang dimaksud: Bila Anda bahagia, maka itu akan membuat “lingkungan” di sekitar Anda membantu Anda semakin bahagia (entah dengan cara apa.) Bila Anda dalam keadaan kesal, maka “lingkungan” di sekitar Anda akan “membantu” Anda untuk merasa semakin kesal.

Sedikit disclaimer lagi, kebanyakan pembicara akan menggunakan kata universe atau “semesta” sebagai sumber atau wadah dari semua energi ini. Saya kurang terlalu setuju dengan filosofi seperti ini oleh karena itu saya ganti istilahnya dengan “lingkungan”, yang menegaskan bahwa ruang lingkup dari lingkungan itu sifatnya bisa terbatas, dan bisa “apa saja” (lingkungan bisa jadi orang di sekitar Anda, bisa jadi hewan, tumbuhan, bahkan hantu, hiiiiiii……)

Disclaimer yang kedua adalah, sejalan dengan aqidah saya yaitu Islam, kekuasaan tertinggi di dunia dipegang oleh Tuhan yaitu Allah Yang Maha Kuasa sebagai sumber satu-satunya energi di dunia. Hal ini sekaligus sebagai opini “skeptisme” saya terhadap “ajaran” seperti The Secret yang entah kenapa saya juga nggak tahu, seolah2 memberi kesan bahwa “we have eternal life”, “we have unlimited potential”, dsb. (quote langsung tuh! bukan interpolasi) dalam konteks yang saya bilang menyimpang, jika dicermati baik-baik.

Saya bisa bilang seperti ini karena saya termasuk orang yang sempat dengar atau bahkan sempat serius mempelajari sebuah “bidang ilmu” yang bernama Neuro-Linguistic Programming. Sebuah studi yang sangat erat kaitannya dengan neurobiologi dan psikologi tapi sayangnya seorang psikolog yang pernah saya ajak konsultasi mengenai hal ini tidak dapat memberikan informasi yang saya inginkan. (yang membuat saya semakin “tidak percaya” akan abundance of knowledge di dunia ini, analoginya: there is so much air, but there’s only so little space in our lungs to contain negligible amounts of it compared to the entire volume of air available to us)

Menurut saya The Secret sangat kental muatan NLP-nya, baik dari segi content tekstual itu sendiri, visual, auditorial (cara penyampaian, intonasi, dan musik), dan efek spesial untuk mensimulasikan stimulan kinestetik (sentuhan fisik dan realisme).

Sedikit banyak hipnoterapi juga ada di sini. Mirip dengan teknik yang digunakan oleh penghipnotis atau audio meditasi untuk membantu si murid atau pasien.

Secara teknis, saya belum menganalisa tapi saya hanya bisa “mencurigai” (dalam konotasi positif, bukan negatif!) bahwa film ini menggunakan teknik untuk mengalihkan gelombang otak. Seperti yang mungkin Anda sudah ketahui, otak mempunyai gelombang dan otak, terutama alam bawah sadar atau subconscious, bekerja paling optimal untuk menerima informasi dalam kondisi theta. Mengingat banyak orang yang terlibat dalam pembuatan film ini adalah psikolog, filosof, ahli metafisika dan fisika quantum, wajar rasanya kalau saya mempunyai dugaan pengaplikasian teknologi seperti ini:

Theta rhythms are very strong in rodent hippocampi and entorhinal cortex during learning and memory retrieval, and are believed to be vital to the induction of long-term potentiation, a potential cellular mechanism of learning and memory.

Komunitas Tangan Di Atas yang mayoritas muslim di Surabaya, di mana ada teman saya juga, sempat mengadakan acara nonton bareng The Secret ini, dan secara umum tanggapannya adalah sangat bagus. Saya sangat setuju dengan pendapat seperti itu.

Dan sebagai seorang muslim, saya memberikan undangan terbuka bagi siapa pun, terutama yang mempunyai pendalaman agama Islam lebih, untuk mendiskusikan lebih lanjut mengenai elemen-elemen spesifik yang diangkat dalam film ini. Ini dikarenakan saya mempunyai beberapa pemikiran yang, senada dengan apa yang saya tulis di posting ini, tapi lebih fundamental, dan saya ingin mengetahui rekan-rekan lain yang memiliki pandangan berbeda daripada apa yang disampaikan secara tersurat oleh film ini.

Nonton (cuplikan) The Secret di YouTube:

Beberapa resource lain yang mungkin menarik:

Update: Thanks buat Yogie yang udah ngelink ke sini 🙂

Like this article? Please share this article with others:

Everyday in IT People’s Daily Life

Oke deh, kali ini gw harus angkat topi…..

Artikel si JiE ini, yang terinspirasi dari artikel LifeReboot, memang The Hallelujah Article for Computer Geeks !!! 🙂

Hurray!

Dari semuanya, yang paling ada di semua pekerjaan –dan nggak cuma IT, sebenernya– adalah: (dikutip dari JiE’s)

~ Reason #10 – Most Of Your Accomplishments Are Invisible
User / client gak akan bilang ke gw : “Jie, program kamu bagus banget.
Produktifitas kerja meningkat drastis !” Yeah, I never hear that. Tapi
kalo ada error, client bakal mencaci maki seakan2 gw udah melanggar Ten
Commandments >_<

Satu yang cukup menarik: (dikutip dari LifeReboot’s)

Reason #2 – A Life Of Alienation

People only talk to the computer guy when they need him to fix
something. Also, when the computer guy approaches a user, they’ll hop
up out of their chair under the presumption that he’s there to fix
something — as if it would never be expected that he only wants to
strike up a conversation.

The fact that the computer guy never gets a moment’s peace can also
practically force him to withdraw into solitude. His co-workers don’t
understand that he doesn’t want to hear about their computer problems
during his lunch hour — he does that every other hour of the day.
That’s why the computer guy eats lunch alone with his door closed, or
goes out to eat every day — not because he’s unfriendly, but because he
needs to escape the incessant interruptions.

It’s true… but it’s workaround-able.

Khusus yang satu itu, it takes effort to “solve” that problem.

Bekerja di bidang non-IT, yang lebih socializable (ujar seorang direktur perusahaan shipping ternama yang pernah saya temui), memang akan membantu banyak. But within ourself… is the most important.

Lingkungan memang banyak mempengaruhi kita. Entah itu positif atau negatif. Justru itulah kemampuan kita yang sebenarnya diuji.

Bisakah kita berada di lingkungan yang negatif, tapi malah menjadi positif?

Dan lebih lagi, bisakah kita, dalam lingkungan yang negatif, menjadi bukan hanya positif, tapi serta merta mengubah lingkungan tersebut menjadi positif juga?!

That’s what I call a real day in everyday people’s life.

Update: Mengubah lingkungan menjadi positif? Kenapa tidak! Baca posting saya besok… tentang The Secret movie.

Update 2: Artikel Irvan Tambunan tentang IT di Amerika ini sangat menarik. 😉

Like this article? Please share this article with others:

Uncensored: My Personal Amazon.com Affiliate Report

It’s not so bad this month, I guess 🙂

(I really hope Amazon has no forbidding policy in disclosing earnings to the public.)

I guess I should work harder 🙂 $14 just in 17 days? Simply by posting Amazon links on a blog? Life is so easy. 🙂

I think one day I can really achieve financial freedom “without working.” 🙂 Amiiiiiiennn.

Note: To give some perspective, most Indonesians working full-time get an average salary of 500-800 (US$60-90) thousand rupiahs per month. Skillful diplomas and bachelors may get up to 2-4 millions a month (US$250-450). Anything beyond that is definitely considered above the riches. That should give you a reason why $14 for half a month is a wonder considering the [minimal] amount of work needed. 🙂

Update: Bagus sekali tulisan dewayudhi ini: Hilangkan stress dengan ngeblogs 🙂 Apalagi kalo blogsnya berduit (tapi jangan dijadikan motivasi utama… malah bisa cepet down!)

Like this article? Please share this article with others:

Efek Mi Instan bagi Kesehatan

Mi instan yang sudah dikenal masyarakat dengan sebutan indomie (bukan nama produk, tapi genre produk) tentu saja mempunyai efek bagi kesehatan.

Yah sebenarnya semua produk pasti punya efek samping tapi indomie ini bisa dibilang paling rentan terhadap gosip. Nah, biar gak bingung, kita langsung selidiki saja. Yuk!

Artikel dari Info-Sehat mempunyai informasi tentang kandungan nutrisi dari mi instan:

Mi instan belum dapat dianggap sebagai makanan penuh (wholesome food) karena belum mencukupi kebutuhan gizi yang seimbang bagi tubuh. Mi yang terbuat dari terigu mengandung karbohidrat dalam jumlah besar, tetapi kandungan protein, vitamin, dan mineralnya hanya sedikit. Pemenuhan kebutuhan gizi mi instan dapat diperoleh jika ada penambahan sayuran dan sumber protein. Jenis sayuran yang dapat ditambahkan adalah wortel, sawi, tomat, kol, atau tauge. Sumber proteinnya dapat berupa telur, daging, ikan, tempe, atau tahu.Satu takaran saji mi instan yang berjumlah 80 gram dapat menyumbangkan energi sebesar 400 kkal, yaitu sekitar 20% dari total kebutuhan energi harian (2.000 kkal). Energi yang disumbangkan dari minyak berjumlah sekitar 170-200 kkal. Hal lain yang kurang disadari adalah kandungan minyak dalam mi instan yang dapat mencapai 30% dari bobot kering. Hal tersebut perlu diwaspadai bagi penderita obesitas atau mereka yang sedang menjalani program penurunan berat badan.

Nah loo… ternyata mi instan bukan cuma kandungan nutrisinya yang kurang, tapi juga bisa merugikan bagi mereka2 yang, uhm… gendut kali yeee…

Informasi selanjutnya juga memberikan peringatan bagi mereka yang menderita hipertensi, maag, dan autisme:

Kelemahan dari konsumsi mi instan adalah kandungan natriumnya yang tinggi. Natrium yang terkandung dalam mi instan berasal dari garam (NaCl) dan bahan pengembangnya. Bahan pengembang yang umum digunakan adalah natrium tripolifosfat, mencapai 1% dari bobot total mi instan per takaran saji. Natrium memiliki efek yang kurang menguntungkan bagi penderita maag dan hipertensi. Bagi penderita maag, kandungan natrium yang tinggi akan menetralkan lambung, sehingga lambung akan mensekresi asam yang lebih banyak untuk mencerna makanan. Keadaan asam lambung yang tinggi akan berakibat pada pengikisan dinding lambung dan menyebabkan rasa perih. Sedangkan bagi penderita hipertensi, natrium akan meningkatkan tekanan darah karena ketidakseimbangan antara natrium dan kalium (Na dan K) di dalam darah dan jaringan.

Kelemahan lain mi instan adalah tidak dapat dikonsumsi oleh penderita autisme. Hal tersebut disebabkan karena mi instan mengandung gluten, substansi yang tidak boleh dikonsumsi oleh penderita autisme.

Artikel Agus Rakasiwi dari Pikiran Rakyat menambahkan bahwa mi instan membuat kita lebih cepat lapar daripada makan nasi:

Namun, sifat karbohidrat dalam mi berbeda dengan sifat yang terkandung di dalam nasi. Sebagian karbohidrat dalam nasi merupakan karbohidrat kompleks yang memberi efek rasa kenyang lebih lama. Sedangkan karbohidrat dalam mi instan sifatnya lebih sederhana sehingga mudah diserap. Akibatnya, mi instan memberi efek lapar lebih cepat dibanding nasi.

Dan untuk makan mi instan “dengan baik,” sebaiknya diberi lauk-pauk yang lain terutama sayuran yang berserat:

Namun, untuk memenuhi kebutuhan gizi dalam tubuh, satu bungkus mi belumlah cukup. Jika melihat iklan di layar televisi, cara makan mi yang baik adalah dengan menambah menu yang berasal dari bahan dasar hewani dan sayur-sayuran berserat.

Iklan mi di layar kaca menampilkan kebiasaan orang makan mi instan dengan tambahan menu seperti ayam, ikan, telur, kangkung, wortel, dan kapri. Pada bungkus mi pun terdapat gambar penyajian mi dengan menu tadi. Lalu apakah ini sekadar menarik perhatian ? Tentu saja tidak.

Bahan dasar hewani menyediakan sumber protein, sedangkan sayur-sayuran berserat dapat menambah vitamin. Selain itu, sayuran berserat berperan pula untuk menetralisasi kandungan lemak.

Menurut seorang ahli gizi klinik, Juniarta Alidjaja, orang yang kebanyakan makan mi instan tanpa diimbangi makanan berserat berpotensi mengalami gangguan kesehatan. Hal ini karena mi mengandung karbohidrat sederhana, lemak, dan kadar natrium tinggi. Misalnya obesitas, kenaikan kadar gula darah, kenaikan tensi tubuh dan lain-lain.

Oh iya, dulu pernah ada isu lilin di mi instan. Ternyata itu tidak benar:

Mengenai isu lilin pada mi instan, Badan POM mengatakan tidak menemukan adanya bahan tersebut. Mengenai penggunaan lilin ini pun dibantah oleh salah satu produsen mi instan di Indonesia, PT Indofood. “Geletinasasi pada mi disebabkan mi dibuat dengan pengukusan dan penggorengan. Jadi, isu lilin kan isu lama yang tidak benar,” kata Siegfried, Public Relation PT Indofood cabang Jawa Barat.

Sanggahan dari Billy N. ini membantah isu yang pernah dimuat di harian Pikiran Rakyat:

Menanggapi artikel yang ditulis oleh Bpk.Agus Rakasiwi, ‘Hindari Makan Mi Instan Setiap Hari’ di ‘PR’ hari Kamis, 2 November 2006 halaman 21 (’Kampus’). Ada beberapa kesalahan yang fatal dimuat di artikel tersebut yang dibaca oleh sangat banyak orang.

Saya tahu kalau artikel tersebut bertujuan baik, namun banyak isi artikel tersebut yang dikutip dari sumber-sumber yang tidak jelas, termasuk e-mail yang di-forward dari milis ke milis yang isinya sebagian besar adalah bohong & penulisnya tidak jelas (tergolong ’spam’), misalnya soal isu mi instan yang dilapisi lilin, padahal setahu saya, itu sama sekali tidak benar.

Kalau betul begitu, maka di air rebusan mi instan ketika dimasak akan ‘mengapung’ lilin cair. Juga, di daftar komposisi mi tidak dicantumkan apapun yang berkaitan dengan lilin.

Terlepas dari segi kesehatannya, mi instan sendiri sering menimbulkan cerita yang unik dan menarik bahkan tragis, misalnya gontok-gontokan gara-gara mi instan:

Ketua Kloter 31 SOC menceritakan pengalamannya. Saat mengambil jatah mi instan bagi kloter 31, dia melihat jemaah haji saling berebut. Lebih parah lagi, beberapa jemaah cekcok mulut dan adu fisik untuk mendapatkan mi instan. ”Saya membayangkan risiko murka Tuhan yang melihat hamba-Nya berebut mi instan di tanah haram dan mustajab di Arafah,” ujarnya.

Suasana tegang masih terus berlanjut. Saat itu, rombongan penulis sedang tafakur bersama untuk memanjatkan doa kepada Allah di tempat mustajab ini. Tak jauh dari tempat itu ada kelompok jemaah haji tengah bagi-bagi mi instan, dan ternyata ada yang tidak kebagian.

Ketua rombongannya mengumumkan, siapa yang dapat jatah double harap mengembalikannya. Dosa bagi siapa saja yang mengambil jatah orang lain. Suasana seperti ini terus berlanjut hingga rebutan air panas untuk merebus mi instan.

Sebagai pelengkap dan penutup, mari kita simak cerita lucu ini dari duy’s blog 🙂

Tapi semuanya itu tidak sedahsyat kejadian di kedai indomie ketika beberapa orang teman gue nongkrong di kedai kopi kecil di Lhok Bubon, Samatiga, Aceh Barat. Seorang ibu-ibu paruh baya yang baik hati tampak siap sedia menyambut kedatangan mereka dan mungkin terkejut juga karena jarang kedatangan sebegitu banyak tamu. Sebenarnya tidak banyak sih, hanya sekitar 5 orang.Pertama datanglah si Rudy dan Yuda. Rudy bertanya sama Yuda, ‘Mau indomie?’. Setelah Yuda mengiyakan, Rudy memesanlah kepada si Ibu Kedai, ‘Indomie-nya dua ya bu.’ Lalu si Ibu bertanya lagi, ‘Ini indomie pakai mangkuk atau pakai piring?’ Bingunglah mereka. Apa bedanya ya? Si ibu pun tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata yang tepat. Akhirnya dengan menebak-nebak asal mereka pun memilih memakai mangkuk.

Akhirnya sang indomie datang. Yak betul sih 2, tapi ternyata 2 indomie untuk satu orang. Jadi total ada 4 indomie termasak. Walau dengan berbengong-bengong hati mereka tetep makan Indomie itu. Setelah melihat kanan kiri, mereka bisa sedikit menyimpulkan bahwa kalau indomie pakai mangkuk itu artinya indomie yang dimasak biasa. Sedangkan kalau pakai piring artinya indomie itu akan dimasak ulang dengan menggunakan bumbu-bumbu khas Aceh.

Lalu datanglah satu orang teman lagi, Alol kalau nggak salah. Alol melihat ada banyak indomie (dan setelah diceritakan perbedaan antara mangkuk dan piring) memutuskan untuk ikut makan mie jadi dia minta piring kosong aja satu. ‘Bu, bisa minta piring kosong?’ Tak dinyana si Ibu berkata, ‘Tidak ada piring disini, kami makan pakai mangkuk. Kami kan pengungsi jadi tidak punya piring’. Lho?? Padahal didekat situ jelas-jelas terlihat ada piring dan si Ibu pun kan sebelumnya menawarkan pakai piring?

Lalu datang lagi si Rubby. Dia pesan indomie pakai telor. Asumsinya, jika indomie pakai telor, maka telor akan dimasak. Tapi ternyata salah. Indomie datang lengkap dengan telor. Telor bulat. Rubby berpikir, ‘Oh telornya direbus’. Dengan asyiknya dia memecah telor itu dan PLUK. Telornya tumpah. Ternyata telurnya masih mentah sodara-sodara. Ketika ditanyakan kembali ke si Ibu, beliau hanya menjawab manis yang kira-kira terjemahannya begini, ‘Lho, kan tadi katanya indomie pakai telor, kamu nggak bilang telornya harus matang kan?’

Like this article? Please share this article with others:

Breaking News! Me Near-Dead Experience

A Near-Death Experience (NDE), according to Wikipedia, “is an experience reported by a person who nearly died, or who experienced clinical death and then revived. Some people argue it can be explained by hallucinations produced by the brain as it loses adequate blood supply and nutrients, while others state that such an explanation cannot account for all the evidence.”

Unfortunately for you, what I just had last night was not a near-death experience at all. I would summarize it as Almost-Dead-Experience or, more verbosely, I-Could-Have-Been-Dead-By-Now-Experience.

The culprit, is a (slightly?) peeled off cord:

It belongs to a rice cooker. Apparently some “mouse” (rats!) ate a part of it for whatever reason. And it gave me a 220 Volts electric shock for a few seconds when I tried to pull off the plug.

As result, I got a bit “unstable” for a few minutes. Swearing. Texted someone. Then proceeded to destroy the whole damn thing out of anger:

I wasn’t sure if I was gonna live longer. Nobody was home, so I dragged myself to the nearest hospital:

“Luckily,” the doctor said I was generally alright. The whole process including the medicine (Alvita) costed me 20,000 rupiahs (about US$ 3.00). Such cheaply priced is human life. *sigh* 🙁

Talk to the hand! Below is the very first victimized part of my body, it looks just fine, doesn’t it? 😉

As you can see, as of now, my family is officialy rice-cooker-less. Any attempts to donate a replacement rice cooker (with rat-biting-resistant cord!) would be highly appreciated. (Disclaimer: I’m perfectly aware that there are thousands, if not millions, of other people out there who need more stuff than simply a rice cooker.)

One thing that I realized, in addition to the obvious awareness of the dangers of household appliances and its use (and misuse, abuse, and need of continuous maintenance and supervision), is how useless a friend can be in that situation. (and the more useful one would be: your own life.)

This is especially pronounced since, as I stated before, I texted a friend, and only that person, immediately after the incident, before I destroyed the appliance or went to the hospital. (By this morning, the only person who knows about my incident is only that person, and the second ones would be readers of this blog.) That person took time long enough to respond, that by the time I received the reply, I already managed to: destroy the appliance into pieces, get dressed and went to the hospital, talk to the hospital’s receptionist, register as a new patient and lurk in the hospital’s waiting room.

What’s even more wonderful in the most ironical sense, is that that person also cared enough to give a definitely-useful-advice along the lines of “hope you’re fine.” I just want to let you know that in such situations, a “hope” is practically less effective than a hard advice: Had that person gave a quick few points of, for example, this Wikipedia page, I’d definitely be much, much more grateful.

Note: I can imagine that one of the people I love would be so glad to know that I had an accident. Unfortunately for her, I didn’t die and I’m not dead yet (at the time of this writing, at least), so she’ll have to do even more praying.

Closing Note: Breathing is one most important thing to give attention to when an electric shock happens, and Trizle’s business journal recently published a really cool article on How to Breathe Smarter! 😉

Like this article? Please share this article with others:

Tampilan aka Screenshot Ubuntu (Sistem Operasi Gratis berbasis Linux)

Sebelumnya saya sempat membahas tentang Ubuntu, kali ini saya akan kasih tau tampilan Ubuntu tuh kayak apa sih?!?!

Apakah modelnya kayak MS-DOS gituh?? (apaan tuh MS-DOS??!?!?)

Bagus mana sich tampilannya ama Windows 98? Ama Windows XP? Ato Vista?

Saya nggak akan komentar tapi Anda mulai saja menilai sendiri, OK!?

Ubuntu screenshot Ubuntu screenshot Linux gratis
Ubuntu screenshot Linux gratis Ubuntu screenshot Linux gratis
Ubuntu screenshot Linux gratis Ubuntu screenshot Linux gratis
Ubuntu screenshot Linux gratis
Ubuntu screenshot Linux gratis Ubuntu screenshot Linux gratis
Ubuntu screenshot Linux gratis Ubuntu screenshot Linux gratis

Gimana, PUAS … PUAS … !??!! Kalo kurang puas silakan cari di Flickr ato di Google Images.

Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada Anda yang ingin mencoba Ubuntu/Linux adalah: Linux bukanlah Windows.

Sederhananya seperti itu, tapi kalo diberi penjelasan bisa panjang lebar. “Bukan” bisa berarti lebih baik, bisa juga “lebih buruk”, bisa juga sekedar “berbeda.”

Contoh sederhananya, jika Anda terbiasa menggunakan sistem operasi berusia nyaris 10 tahun seperti Windows 98, saya akan sangat menyarankan Anda untuk meninggalkan kebiasaan seperti itu.

Mengapa? Sistem operasi Ubuntu Linux versi baru dirilis setiap 6 (enam) bulan sekali, jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata keluaran Windows (misalnya). Apabila Anda sudah menggunakan Linux sejak dulu, Anda boleh-boleh saja tetap menggunakan versi Linux yang Andai pakai sekarang jika tidak ada masalah.

Namun jika Anda baru akan mencoba Linux, disarankan menggunakan Linux versi terbaru, misalnya Ubuntu 7.04 (saat penulisan artikel ini). Ubuntu versi terbaru mempunyai dukungan hardware yang lebih baik dan koleksi aplikasi yang lebih bagus daripada versi-versi sebelumnya.

UPDATE: Kalau Anda kesulitan download Ubuntu langsung dari situsnya, Anda bisa juga minta dikirimin CD-nya secara gratis. Kalau nggak berhasil juga (ato nggak sabaran), silakan pesan CD/DVD Ubuntu lengkap dari komunitas distributor Ubuntu yang tersebar di seluruh Indonesia (cuma kena biaya ongkir, burning media, ama sedikit ongkos lelah.)

Like this article? Please share this article with others:

PRIMACOM Bangga Menggunakan Server Ubuntu

Jadi keinget, sebuah poster yang bertengger di salah satu tembok kantor saya saat ini:

PRIMACOM Bangga Menggunakan Server Ubuntu

Sorry gambarnya jelek soalnya dulu mbikinnya pas masih pake Adobe InDesign (wadaow) dan sekarang file aslinya lagi nggak bisa dibuka… jadi PDF hasilnya dibuka trus di-skrinsut yah jadinya gitu deh.

Anyways daripada ada yang bertanya apakah itu Ubuntu, saya nyuplik aja dari situs Ubuntu Indonesia:

Ubuntu adalah sistem operasi lengkap berbasis Linux, tersedia secara bebas dan mempunyai dukungan baik yang berasal dari komunitas maupun tenaga ahli profesional. Ubuntu sendiri dikembangkan oleh komunitas sukarelawan Ubuntu dan kami mengundang Anda untuk turut serta berpartisipasi mengembangkan Ubuntu!

Maksudnya bebas itu sederhananya gratis! Bagi mereka yang lagi ketakutan dirazia polisi, bisa jadi alternatif kalo nggak sanggup membayar Windows+Office+dll. yang bisa memakan jutaan itu (bahkan puluhan juta kalo Anda juga pingin nginstall AutoCAD, CorelDraw, …)

Lanjut:

Komunitas Ubuntu dibentuk berdasarkan gagasan yang terdapat di dalam filosofi Ubuntu: bahwa perangkat lunak harus tersedia dengan bebas biaya, bahwa aplikasi perangkat lunak tersebut harus dapat digunakan dalam bahasa lokal masing-masing dan untuk orang-orang yang mempunyai keterbatasan fisik, dan bahwa pengguna harus mempunyai kebebasan untuk mengubah perangkat lunak sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.

Perihal kebebasan inilah yang membuat Ubuntu berbeda dari perangkat lunak berpemilik (proprietary); bukan hanya peralatan yang Anda butuhkan tersedia secara bebas biaya, tetapi Anda juga mempunyai hak untuk memodifikasi perangkat lunak Anda sampai perangkat lunak tersebut bekerja sesuai dengan yang Anda inginkan.

Soal kompatibilitas hardware (perangkat keras):

Ubuntu cocok digunakan baik untuk desktop maupun server. Ubuntu saat ini mendukung berbagai arsitektur komputer seperti PC (Intel x86), PC 64-bita (AMD64), PowerPC (Apple iBook dan Powerbook, G4 dan G5), Sun UltraSPARC dan T1 (Sun Fire T1000 dan T2000).

Dan juga dukungan aplikasi:

Ubuntu menyertakan lebih dari 16.000 buah perangkat lunak, dan untuk instalasi desktop dapat dilakukan dengan menggunakan satu CD saja. Ubuntu menyertakan semua aplikasi standar untuk desktop mulai dari pengolah kata, aplikasi lembar sebar (spreadsheet) hingga aplikasi untuk mengakses internet, perangkat lunak untuk server web, peralatan untuk bahasa pemrograman dan tentu saja beragam permainan.

Pada posting selanjutnya saya membahas tentang contoh-contoh tampilan atau screenshot alias skrinsut Ubuntu in action. 🙂

Like this article? Please share this article with others:

Manfaat Cincau (Grass Jelly) bagi Kesehatan

Pada posting sebelumnya saya sempat membahas tentang Yeo’s Grass Jelly Drink alias Minuman Cincau. Saya jadi tertarik, apa benar sih kata teman saya bahwa cincau itu baik bagi kesehatan. Kalo iya, apa saja manfaatnya?

Yeo’s Cincau Grass Jelly DrinkSedikit tanya2 sama om Google menghasilkan beberapa “penemuan baru” yang cukup “signifikan” 🙂

Sebuah artikel di situs Himpunan Alumni IPB, Bogor yang ditulis oleh Prof. DR. Made Astawan, Ahli Teknologi Pangan dan Gizi menyatakan bahwa:

Cincau hitam cocok menjadi salah satu teman berbuka puasa. Makanan penghilang dahaga nan menyegarkan ini juga bermanfaat sebagai penurun panas, tekanan darah, gula darah, dan kolesterol. Antioksidannya tinggi, mampu menyembuhkan batuk dan gangguan pencernaan.

Bukan hanya itu, Fair Gunawan, seorang penjual cincau, juga menyatakan pendapat senada:

Cincau hitam cukup tinggi kandungan serat pangannya. Dalam usus halus serat pangan akan menyerap dan mengikat asam-asam empedu dan selanjutnya akan dikeluarkan dari tubuh bersama-sama dengan tinja.

Berkurangnya asam empedu tersebut akan menyebabkan hati mensintesis asam empedu lagi, sehingga kolesterol yang merupakan bahan dasar sintesis asam empedu tersebut, jumlahnya akan berkurang, baik kolesterol dalam plasma darah maupun dalam jaringan. Nah, sehat kan?

Sebagai bahan minuman, cincau bukan saja hanya dapat menyegarkan tubuh, tetapi minuman yang lezat ini juga kaya karbohidrat, polifenol, saponin, flavonoida dan lemak. Tidak ketinggalan kalsium, fosfor, vitamin A dan B juga ikut nimbrung dalam daun tanaman yang diberi nama camcauh ini oleh orang Sunda. Cincau akan sangat membantu meringankan penderitaan orang yang tekanan darahnya tinggi. Yg suka marah2, bolehlah disuguhin es cincau…

Tuh, yang suka marah-marah!!! HAYO NGAKU SAPA YANG SUKA MARAH MINUM CINCAU!! Hehehe 😛

BeritaIptek.com juga mempunyai artikel yang mendukung cincau:

Cincau hitam adalah salah satu dessert jenis jeli yang paling populer di Indonesia, Filipina, Taiwan, China, dan Korea. Dessert ini bukan saja nikmat di santap ketika matahari bersinar terik, tetapi juga memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan. Hal ini disebabkan banyaknya kandungan serat larut air yang terdapat di dalam cincau hitam, maka dessert ini berpotensi untuk mencegah berbagai penyakit degeneratif akibat gizi lebih.

Secara tradisional, cincau hitam dikenal memiliki berbagai khasiat sebagai obat batuk, obat diare, obat murus darah, dan obat kemarauan, sedangkan di Korea Selatan, cincau hitam yang dibuat dengan menambahkan rempah-rempah tertentu ke dalam adonannya, dipromosikan sebagai makanan kesehatan. Selain itu juga, di China dan Taiwan cincau hitam atau lebih dikenal dengan nama hsian tsao digunakan sebagai obat untuk menurunkan tekanan darah dan obat diuretik. Seiring dengan trend global akan pangan fungsional, sejumlah penelitian tentang cincau hitam telah mulai berkembang.

Bahkan harian Suara Merdeka dari Semarang sempat juga mengupas singkat tentang cincau, yang bukan hanya sehat bagi tubuh tapi juga bagi kantong si penjual 🙂

Tak cuma segar, cincau ternyata juga memiliki khasiat obat.

Menurut penelitian Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM Prof Dr Sardjito pada 1966, kandungan zat yang terdapat di dalamnya mampu menurunkan tekanan darah tinggi. Selain itu, cincau juga bisa mencegah dan mengobati penyakit pembuluh darah jantung (kardiovaskular), tekanan darah tinggi, penyakit lambung, sariawan, dan panas dalam.

Yang lebih heboh lagi adalah postingan dari Cool N Powerfull Mommy, yang bernara sumber lain lagi, yang katanya cincau itu bisa membuat kita anti-kanker lho!!

Cincau sangat baik dikonsumsi oleh semua kalangan. Bahan ini sangat kaya mineral terutama kalsium dan fosfor. Cincau juga baik dikonsumsi bagi orang yang sedang menjalani diet karena rendah kalori namun tinggi serat. Cincau dipercaya mampu meredakan panas dalam, sembelit, perut kembung, demam dan diare. Sedangkan serat bermanfat untuk membersihkan organ pencernaan dari zat karsinogen penyebab kanker.

Daun cincau hijau mengandung senyawa dimetil kurin-1 dimetoidida. Zat ini bermanfaat untuk mengendurkan otot. Senyawa lain seperti isokandrodendrin dipercaya mampu mencegah sel tumor ganas. Cincau juga mengandung alkaloid bisbenzilsokuinolin dan S,S-tetandrin yang berkhasiat mencegah kanker pada ginjal, antiradang dan menurunkan tekanan darah tinggi.

So gimana? Masih kurang percaya dengan kekuatan bulan… eh, cincau?!?

Like this article? Please share this article with others:

Google Picasa: Best Photo & Image Management Application for Linux

I hope to have said otherwise, but in my opinion the best image/photo management software for Linux is Google’s Picasa. If you haven’t known yet that Picasa is available for Linux, well so did I. It was surprising for me, but I was really glad when I found out about this.

F-Spot and DigiKam is good, and some others may provide better image manipulation features (in that regard, you can even use ImageMagick). But let’s face it, Picasa is pretty in many ways. It’s UI is superb. It’s smooth. It’s fast. It’s slick looking. It’s useful. It has many common photo touches that most people would ever need. Some people may complain it’s too newbie- or beginner- oriented but I’m not the one who does, especially since it’s available for Linux.

Like this article? Please share this article with others: