penjahit-tas-kosambi_20150527_182827.jpg
Lifestyle

Alhamdulillah, Memang Aku Sering Lupa Bersyukur

Penjahit sol sepatu atau tas bekerja dengan halal dan butuh waktu lama untuk mendapatkan 5-15 ribu rupiah per pelanggan. Sedangkan saya…? Ah… #jadigalau

Sore itu saya berniat menjahit tas sobek (bukan “robek” ya!) ke sebuah gang di daerah Kosambi (Jl. A. Yani), Bandung. Sesampainya di sana, karena sudah lewat Maghrib, ternyata sudah pada tutup… tapi ada satu orang bapak yang masih ada di situ, lagi beres-beres. Trus saya tanya dech “Masih buka, kang? Saya mau jahitin tas nich… kecil aja koq.”

Bapaknya mau kan… trus mulai dech dilihat-lihat dan direncanakan gitu haha. Tapi hari udah gelap banget, penerangannya minim, alhamdulillah baterai hape saya masih 88% hehe jadi saya bantu terangin pakai torch.

Mulai lah si bapak ini bekerja… setelah tempat yang berlubang diberi marker, trus mengukur kulit sebagai penambal dengan akurat, memotongnya, menempelnya dengan perekat, sampai menjahit satu demi satu agar tepat.

Di tengah proses yang saya amati ini saya mulai menyadari, bahwa sobekan yang saya kira “kecil aja koq” ini ternyata sulit juga ya, karena kebetulan posisi sobekannya di pojok plus dekat resleting pula, jadi penambalannya pun butuh teknik khusus.

Meski saya memegang torch di hape, tapi masih sempet ngecek sosmed. Si akang ini nggak sama sekali buka Facebook maupun Twitter, hehe.

Dan yang saya pikir sobekan kecil itu cuma butuh 15 menit ternyata setelah kira-kira 45 menit baru selesai. Tagihannya? 10 ribu rupiah.

Saya jadi mikir lagi… 45 menit, 10 ribu. Dari pagi sampai sore, kalau orderan penuh, jadi mentok-mentoknya sekitar 100 ribu. Kalau sepi ya berarti di bawahnya. Saya salut banget akang ini melakukan pekerjaan yang bermanfaat, halal, dan tidak mencari uang dengan cara yang kurang terpuji seperti mengamen/mengemis. (Secara statistik, potensi penghasilan mengamen/mengemis jauh lebih besar… hix hix sedih ya)

Kalau saya bandingkan dengan diri saya sendiri. Saya jadi malu. Dari kecil Allah banyak sekali memberikan saya kemudahan dan rezeki yang bermacam-macam. Ya meski ada juga rezeki yang saya belum dapatkan dan saya berdoa tiap hari agar segera dikasih he..he.. Tapi Allah baik banget ama saya. Bahkan saya merasa sering banget ngecewain Allah. Kalau dibandingkan dengan bapak itu, wah saya sulit banget bisa setelaten dia.

Alhamdulillah…

Disclosure: I may get a small commission if you buy certain products linked in this article. However, my opinions are my own and I only promote the products and services that I trust.

Similar Posts