WARNING: THIS REVIEW MAY CONTAIN SPOILERS!

I can’t find anything I could love about this movie. Serius. Terutama setelah nonton I Love You, Om! yang kualitasnya jauh, jauh banget di atas film ini. (Seperti bandingin langit dengan selokan.) Ok, sutradara dan pengarah seni-nya emang keren. Banget. Sorry, kameramen, entah sengaja atau tidak, sering sekali nggak fokus ama tokoh yang sedang di-shoot. Kalo emang sengaja, what for? They certainly have no effect other than worsening the viewing experience. (Kebanyakan film berusaha untuk membuat penontonnya terbuai dalam alunan cerita film, yang ini, malah membuatmu bengong dan berpikir, “Kenapa sih lensanya ngeblur?”) Kalo nggak sengaja, gw nggak tahu tu kameramen belajar nge-shoot dari mana.

Rafi

Dari semua tokoh, cuma si Rafi (Fachri Albar) yang kusuka, yang baik secara fisik maupun akting, cocok banget ama perannya.

His style is so Alfie, I love it (to some extent)! He (Rafi) and Alfie are definitely my role models, in addition to Om Gaza in I Love You, Om! Although, kalo si Rafi agak mengurangi gesture-nya yang kecewek2an itu, pasti lebih keren lagi (tapi mungkin aja sih itu emang arahan sutradara, dan gw sama sekali nggak keberatan dengan itu). Akting dia bagus banget, meski menurut gw kadang2 sedikit overacting pada adegan2 tertentu terutama pas dia sedih, gugup, dsb. Dugaan gw mungkin itu karena paksaan sutradara dan sebenarnya si aktor pingin aktingnya lebih gentle dikit. And his clothing! I’m crazy about it! So perfect!

To storywriter: Rafi doesn’t punch his friends. No way. It’s not him. He shouldn’t have done that even if Bagas punched him first. The pre-ending confirms this, after Alex is put into the ICU, Rafi doesn’t do anything, not even move. (or maybe the scene is just cut.) Pada adegan di mana Alex “menceritakan segalanya”, Rafi sempat naik pitam, tapi nggak terlalu… That one is understandable. Adegan perkelahian di “tempat brushing” bener2 merusak karakter Rafi. Gw gak rela. 🙁

Alex

Trus… Julie Estelle, cewek yang meranin Alexandria, oh… she’s an actress? I didn’t notice that.

Dan pliz deh story writer, if you’re actually a professional of any kind, you would care to silence your cell phone before a meeting, wouldn’t you? Nggak dengan Alex, yang cuek aja menerima telepon in the middle of a meeting dan tetap keukeuh untuk nggak mematikan HP-nya setelah itu. Alex juga nyantai aja ngutak2 HP saat bimbingan skripsi ama dosen pembimbing, ditambah lagi skripsinya udah telat. Dan kalo kamu bener2 bete gara2 dikerjain, tolong ya Alex, masa sih kamu nggak sempet nyimpen nomor HP tukang ngerjain itu? Reaksi Alex pada saat tahu Rafi punya bayi aborsi, bener2 “unbelievable”. Bukan karena script-nya, tapi lebih karena akting si cewek pemeran Alex sendiri, yang menurut gw tim Spontan Uhui bakal bisa lebih menjiwai.

You’re ruining the only most climax moments of the movie and you’re not guilty enough to the be primary actress of this movie? Yup, sadly unbelievable but true. (Masih dalam adegan yang sama, cewek yang meranin Dhira juga nggak terlalu berkesan aktingnya, meski kuakui much better than Alex…) Dan BTW, gue baru tau kalo bayi-bayi hasil aborsi dikubur di pemakaman umum, yach? Rafi definitely wasn’t suspicious about that. 😉

Bagas

Bagas (nama aktornya Marcel siapa gitu) bener2 sulit dipercaya ada di film ini, mungkin di novelnya bagus kali ye tapi screenplay-nya jelas2 sulit dipercaya.

Cowok sekeren itu, dengan hobi paintbrushing, jurusan visual design (bener ngga?), bisa “jomblo” terus? Sori deh, masa sih dari kecil temen dia cuma Rafi doang? Seorang brusher nggak punya geng, come on… get just a bit realistic please!! Dan lebih parahnya lagi, gw nggak pernah bisa bersimpati sedikit pun dengan tokoh satu ini karena dia nggak pernah deket ama Alex, tahu-tahu Rafi udah tunangan ma Alex. Hello? Where is the story, director? (Believe it or not, I think the story in Serendipity is much more believable). Cowok dengan attitude se-cool, calm, & confident seperti ini, bisa nggak sanggup ngutarain cinta? Are you out of your mind, director? (Sebagai perbandingan, figur Davi di I Love You, Om! sangat-sangat bisa dipercaya.)

Dan satu lagi, either Bagas is gay, or he thinks Alex is transsexual, yang membuat semua cewek2 cakep di sekitarnya terlihat nggak menarik sama sekali bagi si Bagas. Brilliant twist.

Add to that, si Alex sama sekali nggak care (ato pura-pura nggak tahu?) kalo Bagas suka sama dia. Sebenarnya itu nggak masalah, kalo Alex suka ama Bagas, sikapnya nggak mungkin kaya yang diilustrasikan di film ini. You haven’t actually knew any girl in your life, uh story writer? Plot seperti ini bisa dipercaya untuk film Bintang Jatuh (di mana si cowok yang nggak tahu kalo si cewek, err… Dian Sastro, suka ama dia). Tapi reversing their roles does not work well here, nggak mungkin buanget getoh… And with all that “Alex.. uh… Alex… aku…” come on, nobody notices that? (Sebagai perbandingan lagi, Davi di I Love You, Om! yang nggak pernah ngucapin sepatah kata pun udah dapat olok2an dari seluruh penjuru SD, now that is what I call realistic!)

Soal Bagas yang “ngerjain” Alex, ini juga agak konyol, paling nggak, menurut dugaanku. Kalo kamu ngerjain seseorang, kamu pasti make nomor perdana baru, yang nggak ada hubungannya ama nomor kamu yang lama (kalo kamu punya). Dan if you have a real life, kamu pasti akan selalu makai nomor kamu yang sebenarnya buat in touch ama temen2 kamu yang lain. Kecuali kamu menderita ngerjainophobia, HP kamu cuma satu, dan kartu boneka itu hanya kamu gunakan untuk ngerjain dan setelah itu kamu ganti dengan kartumu yang asli. Nggak dengan Bagas, ternyata nomor boneka itu tetap bisa dihubungi meski nggak diangkat. Oh, plis deh (lagi-lagi), Bagas segitunya nyediain satu HP khusus buat ngerjain? Untungnya, film ini cuma film, ceritanya fiktif belaka, dan kemungkinan terinspirasi oleh Alice in Wonderland.

Dhira

Dhira is the real angel here, her somewhat-important role (that unfortunately in the movie, lacks recognition it deserves) helps her acting. However, she (the actress, not Dhira) can get physical with any guy, but I won’t believe her.

She actually seems making a sincere effort to act, the result isn’t really that bad so I really appreciate her. Not like the ignorant Julie, yuck. I truly hate Dhira’s ending. Where’s your compassion, story writer? Are you feelings-less? (I bet so.) BTW, if you ever find someone like Dhira in real life, please, even if you have to bear the weight of the world on your shoulders, do keep & take care of her at all costs… Someone like her is a real gem.

More About The Movie, The Storyline, and Cinematics

Terus (dari tadi koq terus terus) soal cewek rekan kerja Bagas yang “suka” ama Bagas. Sutradara, please, kalo cerita utamanya ngebosenin, subplot seperti ini sangat membantu lho… tapi gw bener2 kecewa karena sepertinya dari seluruh kru film termasuk cleaning service dan para sopir nggak ada yang merhatiin satu hal ini.

Tentang keutuhan sinematografi, gue yakin banget kalo sutradara ama pengarah seninya bener2 nggak nyambung di sini (gw ga mungkin percaya kalo misalnya sutradaranya merangkap art director, nggak percaya!) Pengarah seni: I adore you and your work (extraordinary!) Sutradara yang lagi nglamun: “Hello?!” (lagi-lagi). Adegan-adegan yang terlalu singkat di film ini bikin “pusing”, nggak konsen, padahal sang art director udah bikin setiap frame screenshot-able, tapi kontinuitas dari satu scene ke scene berikutnya sangat buruk… sekali. Dari tema film ini yang buat anak muda secara umum, gaya bercerita sok intelek seperti ini sangat terlihat Memento-wannabe-nya, but not even close. Really bad taste.

Satu contoh: Setelah nggak berhubungan segitu lama antara Alex dan Bagas, all of a sudden Alex tiba-tiba menemui Bagas karena masalahnya dengan Rafi, tanpa ada penjelasan sedikit pun. Nggak ada cipika-cipiki, nggak ada kangen2an, tiba2 mereka duduk berdua di “tempat biasa” dan gw cuma bisa bengong, “Eh eh, bentar2, gimana tadi ceritanya?” Koq nggak dari dulu2 si Alex ketemuan ama Bagas? Sayangnya si sutradara kebetulan kabur dari tempat duduk sebelah gw jadi dia nggak bisa ngasih jawaban. So for the rest of the movie gue sama sekali nggak ngeh ama ceritanya (bilang aja gue bodo, so what!).

As for the music, I’m not a fan of Peter Pan, tapi musik di keseluruhan film ini bagus banget dan fits so well, jauh dari mengecewakan (nggak seperti filmnya). Tapi gw heran kenapa Peter Pan mau musiknya dipakai buat film kayak ginian, tapi nggak papa deh. Aq suka banget ama lagu Menunggu Pagi, justru karena gw suka lagu itu akhirnya gw tertarik nonton film ini, hehehe…

Ada satu hal yang rada mengganjal buat gw, yaitu attention to detail. Satu contohnya, Bagas yang udah expired kedekatannya ama Alex, baru tau kalo Alex udah banyak berubah. Kesukaannya dulu bukan berarti kesukaannya juga sekarang. Bumbu2 penggurih seperti ini memang mengesankan, sayangnya main dish-nya (yaitu film ini) nggak terlalu lezat, jadi bumbunya terkesan “terlalu mewah,” mirip makan nasi pecel dilengkapi sup asparagus telur kepiting kali ye… Gw ga rela film ini jeleknya setengah2 dan ga rela juga bagusnya setengah2. 🙁

Yang menurut gw lucu, ada kalimat “Sejak kapan kamu ngerokok? Bandelnya telat!” Herannya si A Mild yang menjadi sponsor utama film ini “nggak marah”. Ya emang nggak papa sih kalimat itu, cuma menurutku sih nggak perlu ada di film ini, terutama karena yang ngesponsorin A Mild. Lagian, apa kamu ngeliat ada perubahan di diri Bagas sebelum & setelah ngerokok? Nggak kan? So, what’s the point then? Or I’m just too stupid to notice (or so the director thinks.)

Back to Casts & Miscellaneous Stuff…

Hubungan antarkarakter di film ini bisa dibilang nonexistent, kecuali Rafi yang sebenarnya punya potensi untuk berhubungan dengan someone, sayangnya someone ini nggak muncul di film ini. Andai Julie Estelle diganti aktris lain yang lebih decent, mungkin film ini akan jauh lebih baik.

Alex has no role whatsoever in this movie (bad story anyway), and during the only scene where Julie had the chance to (the cemetery scene), she blew it. What’s so good about Alex (bukan Julie, karakter Alex-nya)? Nothing! Can anybody explain why anyone would get attracted to her other than her looks? How about the pre-ending? “Itu dia masalahnya Gas, aku nggak pernah bener2 tahu! Aku nunggu Gas, nunggu…” Yuck! She doesn’t even cry! Why is she so arrogant, story writer, director, hello? That ruins the entire song “Menunggu Pagi” for me. Serius gw pas dengerin lagu itu cuma bisa ngebayangin betapa menyentuh dan romantisnya adegan itu… How I was so disappointed!

Bagas’ character actually has many opportunities, but Marcel is simply dull & overacting, and the story dullifies him even more. The part in the near ending where Bagas suddenly cares about Dhira is so shockingly unbelievable. I know they work “in the background”, but please do give some chemistry between them, either on the beginning or a hint somewhere. The story just doesn’t make sense.

Other tidbits about the movie… Pengemudi truk yang nggak mengumpat lagi setelah “mengalah,” bener2 aneh. Sound editing sucks. I found myself turning the volume up when I can’t hear a dialogue right, then turning it down because the music was too loud. There were numerous sound glitches throughout the movie. The final ending turned me on: Not the girl, it’s the MacBook! (Oh yes I’m so geeky!) But what kind of homemade video is that? A kindergarten theatre play? I find Fachi Albar (Rafi) trying desperately to match Julie (Alex)’s awkwardness, boy he did succeed (to some extent.)

Conclusion

In the end, I love Rafi’s acting! Gw nggak tahu apakah itu emang bakat si aktornya, ato sutradaranya yang pinter ngarahin… Tapi kalo pun gw dari awal tau film ini sejelek ini, gw tetep akan nonton film ini cuma karena akting si Rafi… 🙂 [please keep in mind that I’m not gay though] Gue pikir film ini sebenarnya ceritanya terlalu panjang dan sutradaranya maksain durasi standar yang terlalu singkat, kalo misalnya sutradaranya “let go” dan nggak keberatan filmnya sepanjang Harry Potter, gue yakin hasilnya pasti jauh lebih apik.

PS: “Adik”-nya Rafi, itu siapa sih (nama aslinya)… [oh ya, kalo pun film ini jelek, cewek ini alasan #2 gw bakal tetep nonton film ini hahahah]

She’s definitely the hottest girl in the movie!


Technorati : alex, alexandria, bagas, bioskop, fachri albar, film, julie estelle, menunggu pagi, movie, musik, peter pan, peterpan, rafi
Del.icio.us : alex, alexandria, bagas, bioskop, fachri albar, film, julie estelle, menunggu pagi, movie, musik, peter pan, peterpan, rafi

Disclosure: I may get a small commission if you buy certain products linked in this article. However, my opinions are my own and I only promote the products and services that I trust.

id_IDIndonesian
en_USEnglish id_IDIndonesian